Matahari makin meninggi, memanaskan atap-atap rumbia di kawasan Murung Pudak. Di dalam pondok bambu sederhana yang menyatu dengan kebun pisang, suasana mendadak senyap. Belasan pasang mata anak-anak berbaju tambalan menatap lurus ke papan tulis hitam kecil yang digantung di tiang ulin.
Di depan mereka, Rina Rufida berdiri dengan anggun. Tangan kanannya memegang sebatang kapur putih yang sudah pendek, sementara tangan kirinya memegang sebuah buku usang berbahasa asing dengan sampul yang mulai mengelupas.
"Repeat after me, children," ucap Rina, memperjelas artikulasi bibirnya agar mudah diikuti. "We want to be free."
Anak-anak itu saling berpandangan. Logat Banjar mereka yang kental membuat lidah mereka kelu saat mengeja kata demi kata.
"Wi wan tu bi pri!" seru Amat, seorang anak laki-laki bertelanjang kaki dengan rambut jagung, paling nyaring di antara yang lain.
Rina tersenyum sabar, menyembunyikan rasa geli di hatinya. "Bukan 'pri', Amat. Tapi free. Ada hembusan angin sedikit di ujungnya. Artinya, kita ingin bebas. Kita ingin merdeka."
"Kenapa harus belajar bahasa orang kulit putih ini, Ibu Guru? Bukankah mereka yang menjajah kita?" tanya seorang anak perempuan berambut kepang dua bernama Siti, dengan kepolosan khas anak desa.
Rina meletakkan kapurnya. Ia berjalan mendekati bangku panjang tempat anak-anak itu duduk berhimpitan. Tatapannya melembut, namun sarat akan ketegasan visi seorang pendidik.
"Pertanyaan yang bagus, Siti. Kita belajar bahasa mereka bukan karena kita mengagumi mereka. Justru sebaliknya. Jika kita ingin keluar dari sangkar ini, kita harus tahu bagaimana cara kerja kunci sangkarnya. Jika kalian bisa berbahasa Inggris, kelak kalian bisa menulis surat ke dunia luar. Kalian bisa menceritakan kepada bangsa-bangsa di Eropa, di Asia, bahkan di tanah suci Mekkah, bahwa di sini, di jantung Tabalong, ada sebuah bangsa yang sedang ditindas dan ingin merdeka."
Anak-anak itu manggut-manggut, walau mungkin belum sepenuhnya mencerna bobot politik dari kata-kata Rina. Bagi mereka, kelas ini adalah tempat keajaiban, di mana mereka tidak dianggap sebagai sekadar calon kuli kebun karet atau buruh angkut minyak, melainkan sebagai manusia yang memiliki masa depan.
Namun, mengajar bahasa internasional bagi kaum pribumi pada tahun 1938 bukanlah perkara sepele. Pemerintah Hindia Belanda lewat kebijakan Wilde Scholen Ordonnantie (Ordonansi Sekolah Liar) sangat ketat mengawasi setiap kegiatan pendidikan yang tidak memiliki izin resmi dari Onderwijs (Departemen Pendidikan Kolonial). Mereka takut sekolah-sekolah seperti ini akan menjadi sarang persemaian benih-benih pemberontakan dan nasionalisme radikal.
Ketakutan itu terbukti beberapa saat kemudian. Dari kejauhan, terdengar deru langkah sepatu lars yang beradu dengan tanah kering, diiringi suara tawa keras yang asing. Sontak, suasana di dalam pondok berubah tegang. Anak-anak yang tadinya bersemangat langsung menciut, saling merapatkan duduk mereka.
Dari balik rimbunnya pohon pisang, muncul dua orang pria. Yang satu adalah seorang Meneer Belanda bertubuh jangkung dengan seragam putih-putih dan topi pet khas pejabat kolonial. Di sampingnya, berjalan seorang Oppasser (pribumi yang bekerja sebagai centeng atau polisi pamong kolonial) dengan wajah masam dan kumis melintang yang dibuat-buat agar terlihat galak.
"Hey! Ada aktivitas apa ini di sini?!" bentak si Oppasser pribumi bernama Utuh dengan suara menggelegar, mencoba mengambil hati tuannya.
Meneer Van De Berg, sang kontrolir muda yang baru dipindahkan dari Batavia ke Distrik Tanjung, melangkah masuk ke beranda pondok tanpa melepas topinya. Matanya yang biru menyapu ruangan, menatap papan tulis hitam, lalu tertuju pada Rina yang berdiri tenang tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun.
"Apakah sekolah ini punya vergunning (izin resmi)? Siapa yang memberi izin mengajar bahasa Eropa di tempat terpencil seperti ini?" tanya Meneer Van De Berg dalam bahasa Melayu yang terpatah-patah namun angkuh.
Rina maju satu langkah, menyembunyikan anak-anak di belakang punggungnya. "Tuan, kami di sini hanya mengaji dan belajar membaca dasar. Ini bukan sekolah formal yang merugikan pemerintah."
"Jangan bohong! Saya lihat tadi ada tulisan asing di papan tulis!" seru Utuh si Oppasser sambil menunjuk-nunjuk. Untungnya, sebelum mereka datang, Rina sudah sempat menghapus sebagian kata yang sensitif.
Situasi makin kritis ketika Van De Berg melangkah mendekati meja kerja Rina, bersiap untuk menyita buku-buku teks yang ada di sana. Jika buku-buku berbahasa asing itu disita, Rina bisa diseret ke kantor Landraad (pengadilan kolonial) dengan tuduhan menghasut rakyat.
Tepat pada detik-detik yang menegangkan itu, sebuah suara yang sangat dikenal Rina terdengar dari arah jalan setapak.
"Ah, Meneer Van De Berg! Rupanya Tuan Besar ada di sini. Saya sudah mencari Tuan ke mana-mana sejak dari kantor dinas Tanjung!"
Itu adalah Muhammad Hifni. Pemuda Pangreh Praja itu muncul dengan napas yang sedikit terengah-engah, namun wajahnya menampilkan senyum paling ramah—atau lebih tepatnya, senyum diplomatis yang paling meyakinkan yang bisa ia pasang. Tas kulit dinasnya didekap erat di dada.
Van De Berg menoleh, mengerutkan kening. "Hifni? Kenapa kamu menyusul saya ke sini? Ada urusan apa?"
Hifni segera membungkuk hormat ala pegawai bumiputera, lalu dengan cerdik mengambil posisi berdiri di antara Van De Berg dan meja buku Rina, secara fisik menghalangi pandangan sang kontrolir.
"Maaf mengganggu inspeksi Tuan yang terhormat," ujar Hifni dalam bahasa Belanda yang sangat lancar dan santun, sebuah kemampuan yang langsung membuat Van De Berg sedikit melunakkan ketegangannya. "Ini mengenai laporan pasokan beras dan minyak tanah untuk perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina di alun-alun Tanjung bulan depan. Tuan Distrik-Chef meminta persetujuan tanda tangan Tuan segera, karena perwakilan dari Batavia akan tiba besok pagi. Saya takut jika ditunda, reputasi distrik kita di mata residen akan kurang baik."
Mendengar kata 'Ratu Wilhelmina' dan 'reputasi di mata residen', fokus Van De Berg langsung teralih total. Bagi seorang pejabat muda ambisius seperti dia, urusan administrasi yang berkaitan dengan atasan jauh lebih penting daripada mengurusi beberapa anak kampung yang sedang belajar membaca.
"Ah, begitu? Kenapa tidak bilang dari tadi," gerutu Van De Berg, sambil membetulkan posisi topinya. "Urusan Ratu tidak boleh terlambat."
"Tentu saja, Meneer. Sangat mendesak," tambah Hifni sambil melirik sekilas ke arah Rina, memberikan kode lewat kedipan mata agar Rina segera mengamankan buku-bukunya.
Hifni kemudian menoleh ke arah Utuh si Oppasser yang masih memasang wajah galak. Dengan gaya jenaka khas Banjar, Hifni menepuk bahu centeng itu. "Utuh, kamu ini mengawal Meneer tapi tidak tahu skala prioritas. Ayo, bantu Meneer bawakan berkasnya ke kantor sekarang. Jangan sampai pangkatmu diturunkan jadi penjaga kandang kuda dinas karena menunda urusan Ratu."
Utuh langsung gugup, wajah galaknya runtuh seketika. "Eh, iya, Pak Diang Hifni. Maaf, saya tidak tahu."
Sebelum beranjak, Van De Berg menatap Rina sekali lagi dengan pandangan menyelidik. "Ingat ya, jangan ajarkan hal-hal yang aneh kepada anak-anak ini. Jika saya temukan ada ajaran pemberontakan, saya sendiri yang akan menutup tempat ini."
"Kami hanya belajar menjadi manusia yang berguna, Tuan," jawab Rina diplomatis, tetap tenang.
Setelah Van De Berg dan centengnya berjalan menjauh dikawal oleh Hifni yang terus mengoceh tentang rincian logistik untuk mengalihkan perhatian, suasana pondok kembali lega. Anak-anak mengembuskan napas serentak seolah baru saja lolos dari terkaman harimau.
Rina terduduk di bangkunya, memegangi dadanya yang sempat berdegup kencang. Ia menatap ke arah jalan setapak tempat Hifni baru saja menghilang di balik tikungan pohon karet. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. Pemuda Pangreh Praja itu tidak hanya tampan dan rapi, tetapi juga cerdas, jenaka, dan memiliki keberanian yang luar biasa untuk melindunginya dengan cara yang paling halus.
Di tengah kegelapan zaman penjajahan, Rina sadar bahwa ia tidak berjuang sendirian di bumi Tabalong ini. Ada seorang pemuda di dalam sistem pemerintahan kolonial yang diam-diam menjadi perisai bagi impian kemerdekaan mereka.
Siasat cerdik Hifni berhasil menyelamatkan kelas rahasia Rina untuk sementara waktu. Namun, bagaimana jika intelijen Belanda mulai mencium ada hubungan khusus di antara mereka berdua?
