BAB 5: Potret yang Hilang dan Air Mata di Murung Pudak

BAB 5: Potret yang Hilang dan Air Mata di Murung Pudak

Lev
0

Ikuti petualangan seru nan haru keluarga Lev Ryley (Banjarmasin) & Muhammad Hifni (Tabalong) dari Mekah hingga ke Murung Pudak. Novel Slice of Life Islami tentang ukhuwah, komedi kucing, dan keindahan wisata Jaro.

Malam di Murung Pudak membawa hawa sejuk yang merayap masuk melalui ventilasi rumah kayu bergaya modern milik drg. Dina Yulianti. Setelah lelah berfoto di Tugu Obor, ketiga keluarga ini berkumpul di ruang tengah yang luas. Karpet bulu tebal digelar, sementara aroma teh melati dan kue lam khas Barabai tersaji di meja.

"Pak Lev, ini saya baru saja memindahkan data dari kamera lama yang kita pakai waktu di Madinah dulu," ujar drg. Dina sambil menyalakan televisi besar yang terhubung ke laptopnya. "Banyak foto yang belum sempat saya kirim ke grup WhatsApp."

Satu per satu foto muncul di layar. Tawa pecah saat melihat foto Lev ℛyley yang tertidur mangap di bus jemputan bandara Jeddah. Anindya Putri pun tertawa malu melihat foto dirinya yang penuh keringat saat berdesakan di Pasar Ja’fariyah demi memburu gamis diskon.

Namun, suasana mendadak sunyi saat sebuah foto muncul.

Di layar, tampak latar belakang Masjid Nabawi dengan payung-payung raksasanya yang sedang menutup. Di sana berdiri Muhammad Hifni, Ibu Rina, drg. Dina, dan keluarga Lev. Di tengah-tengah mereka, Khalisah dan Naura sedang berpegangan tangan, wajah mereka sangat lelah namun tersenyum tulus.

Maryam Safiya, yang sedari tadi diam memegang buku sketsanya, tiba-tiba meletakkan pensilnya. Matanya berkaca-kaca menatap foto itu.

"Ada apa, Maryam?" tanya Ibu Rina lembut, menyadari perubahan ekspresi gadis remaja itu.

"Foto itu..." suara Maryam bergetar. "Itu foto terakhir sebelum kartu memori kamera Ayah rusak kena air Zam-zam yang tumpah di tas. Aku pikir momen kita semua bareng-bareng di sana sudah hilang selamanya."

Lev tertegun. Ia teringat betapa sedihnya Maryam saat di hotel Mekah dulu. Maryam adalah tipe anak yang sangat menghargai kenangan visual. Baginya, setiap jepretan adalah sepotong nyawa dari sejarah keluarga mereka.

"Ayah minta maaf ya, Mar. Ayah gagal benerin hardisk itu waktu kita sampai di Banjarmasin," bisik Lev sambil merangkul pundak putrinya.

drg. Dina tersenyum haru, matanya juga mulai basah. "Maryam, Allah itu Maha Baik. Apa yang hilang di satu tempat, seringkali disimpan-Nya di tempat lain untuk dikembalikan pada waktu yang tepat. Foto ini ada di kamera Tante karena waktu itu kalian minta tolong Tante yang ambil gambarnya, ingat?"

Ibu Rina Rufida mendekat, menggenggam tangan Maryam. "Sama seperti kita semua, Maryam. Kita mungkin terpisah jarak Banjarmasin dan Tanjung, tapi Allah simpan ikatan kita di 'Titik Nol' itu. Dan hari ini, di Murung Pudak, Allah pertemukan lagi potongan-potongan kenangan itu."

Suasana sad dan emosional menyelimuti ruangan. Bahkan Ghina Qalbi yang biasanya cerewet, terdiam dan memeluk kakaknya. Rayyan yang polos, melihat kakaknya menangis, langsung menyodorkan biskuit sisa di tangannya. "Kak Maryam jangan nangis, nanti untanya ikut sedih."

Tawa kecil kembali pecah di tengah isak tangis haru. Pak Hifni kemudian berdehem, mencoba mencairkan suasana dengan wibawanya. "Nah, karena memorinya sudah ketemu, besok kita buat memori baru lagi. Kita ke Pasar Bauntung Tanjung. Saya dengar ada perajin rotan yang bikin tas etnik, cocok buat background konten Ghina dan Anindya."

Anindya Putri langsung menghapus air matanya dengan tisu. "Tas rotan? Yang motifnya asli Dayak Deah itu, Pak?"

Lev ℛyley hanya bisa membuang napas panjang sambil tersenyum kecut ke arah Pak Hifni. "Sinyal belanja Bunda sudah kembali 5G, Pak. Siapkan dompet kita untuk misi penyelamatan ekonomi lokal besok."

Malam itu ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Pak Hifni. Di bawah langit Tabalong, mereka menyadari bahwa meskipun teknologi bisa rusak dan data bisa hilang, ukhuwah yang dibangun di atas tanah suci akan selalu punya cara untuk kembali "pulih".

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default