Pagi Sabtu di Cluster Ar-Raudhah biasanya menjadi waktu yang paling tenang, saat warga menikmati semilir angin dari arah Sungai Mahakam yang membawa aroma tanah basah. Namun, bagi Dokter Raisa, Sabtu pagi ini adalah momen penuh adrenalin yang melebihi ketegangan di ruang operasi. Pasalnya, "tsunami" paket yang ia pesan saat payday sale beberapa hari lalu tampaknya memutuskan untuk mendarat secara bersamaan.
Segalanya bermula pukul 08.00 WITA. Raisa sedang mencoba menikmati kopi susunya di teras ketika sebuah motor kurir berhenti. Belum sempat kurir pertama beranjak, muncul kurir kedua. Lalu ketiga. Dan puncaknya, sebuah mobil boks ekspedisi berhenti tepat di depan pagar rumah nomor 3A.
"Permisi, paket untuk Dokter Raisa! Ada delapan koli, Bu. Isinya rak buku portable, set alat masak, dan... ini sepertinya karpet besar," teriak petugas kurir dengan semangat yang berlebihan.
Raisa tersedak kopinya. Ia melihat ke arah rumah sebelah, berharap Ibu Rossa atau Ibu Mahalini tidak melihat pemandangan ini. Namun, hukum alam perumahan selalu berlaku: semakin kita ingin bersembunyi, semakin besar kemungkinan tetangga muncul.
Drama Penimbunan di Bawah Tangga
"Mas, Mas! Tolong masukkan cepat ke dalam pagar! Jangan ditumpuk di luar, nanti dikira saya buka toko kelontong!" bisik Raisa sambil memberikan uang tip dengan tangan gemetar.
Dengan bantuan kurir, Raisa menyeret kotak-kotak besar itu masuk ke ruang tamu. Ia berkeringat dingin. Suaminya, Dokter Hamzah, sedang berada di lantai dua, sedang asyik membaca jurnal medis terbaru. Jika Hamzah turun dan melihat gunungan kardus ini, Raisa tahu ia akan mendapatkan "kuliah umum" selama dua jam tentang konsep frugal living dan manajemen aset rumah tangga.
Ia mulai menyusun strategi. "Oke, rak buku ini bisa masuk ke bawah tangga. Karpet ini... ah, taruh di balik sofa dulu. Set panci ini bisa diselipkan di gudang belakang," gumamnya pada diri sendiri. Raisa tampak seperti pemain Tetris profesional, menyusun barang-barang tersebut agar tidak terlihat mencolok.
Namun, baru saja ia memindahkan kotak terakhir, suara langkah kaki terdengar dari tangga.
"Raisa? Kamu sedang apa? Kok nafasnya tersengal-sengal begitu?" tanya Hamzah yang muncul dengan kacamata bertengger di hidungnya.
"Eh, ini Mas... tadi... tadi habis olahraga pagi! Iya, menggeser-geser sofa sedikit supaya nggak bosan suasananya," jawab Raisa dengan senyum yang dipaksakan.
Hamzah menatap curiga ke arah pojok ruangan di mana sebuah ujung kardus berwarna cokelat mengintip nakal dari balik tirai. "Itu apa, Sayang? Kok ada tulisan 'Fragile' dan logo toko online besar?"
Raisa terdiam. Di saat kritis itu, pintu depan diketuk. Penyelamat datang dalam wujud Ibu Mahalini dan Ibu Rossa.
Operasi Penyelamatan Tetangga
"Assalamualaikum! Bu Dokter, ini saya bawakan kerupuk amplang ikan pipih asli Samarinda Seberang!" seru Mahalini dari luar pagar.
Rossa menyusul di belakangnya dengan gaya modis meski hanya memakai daster premium. "Bu Dokter, saya mau tanya soal paket saya yang kemarin katanya dititip di sini... Lho? Kok banyak kardus di ruang tamu?"
Rossa terhenti, melihat tumpukan barang di belakang Raisa. Hamzah menoleh ke arah dua tetangganya itu. "Nah, kebetulan ada Bu Lini dan Bu Rossa. Bisa jelaskan ini barang apa saja? Sepertinya Raisa baru saja memindahkan isi gudang ke ruang tamu."
Mahalini, yang paling cepat membaca situasi dan melihat kode kedipan mata Raisa yang sudah seperti lampu sen mobil, langsung pasang badan.
"Oh, ini Mas Hamzah! Ini barang-barang titipan kami!" cetus Mahalini tanpa ragu. "Iya, kan Bu Dokter sering di rumah kalau pagi, jadi kami janjian titip di sini. Itu rak buku punya saya, rencananya buat naruh buku doa di masjid. Kalau karpet itu... punya Bu Rossa, katanya buat alas arisan kita nanti!"
Rossa sempat melongo, namun segera menyambung, "I-iya Mas Hamzah! Benar sekali. Saya kan kerja di kantor gubernur sampai sore, jadi lebih aman titip di Bu Dokter. Maaf ya kalau jadi memenuhi ruang tamu."
Hamzah menghela napas, setengah percaya setengah heran. "Oalah, saya pikir Raisa belanja gila-gilaan lagi. Ya sudah, kalau memang titipan, tolong segera dipindahkan ya, supaya tidak jadi sarang nyamuk."
Pelajaran dari Tepian Mahakam
Setelah Hamzah kembali ke atas, Raisa terduduk lemas di sofa. "Ya Allah, terima kasih Bu Lini, Bu Rossa. Nyawa (belanja) saya hampir melayang tadi."
Mahalini duduk di sampingnya sambil memberikan amplang. "Bu Dokter, kali ini kami bantu. Tapi jujur ya, ini sudah mulai berlebihan. Dalam Islam, menyembunyikan sesuatu dari suami itu tidak baik, apalagi kalau soal harta yang harusnya dikelola bersama."
Rossa mengangguk, kali ini tanpa nada bercanda. "Iya, Raisa. Saya juga sering begitu, tapi lama-lama capek sendiri pura-pura. Kita harus mulai belajar jujur tentang hobi kita, atau mulai mengeremnya."
Sore itu, ketiga wanita itu tidak membahas diskon. Mereka justru duduk bersama membuka satu persatu paket Raisa. Ternyata, Raisa tidak hanya membeli untuk dirinya sendiri. Di dalam salah satu kotak, ada mukena-mukena indah yang ia beli untuk dibagikan ke masjid pasar tempat Mahalini biasa belanja, dan ada beberapa pasang sepatu olahraga yang ia niatkan untuk hadiah bagi perawat di rumah sakit.
"Niatnya baik, tapi caranya harus tetap benar, Raisa," nasihat Mahalini lembut.
Edukasi untuk Pembaca
Bab ini menyentuh aspek kejujuran dalam rumah tangga dan pentingnya komunikasi antara suami istri mengenai keuangan. Menurut riset sosiologi masyarakat urban, fenomena menyembunyikan belanjaan online adalah hal yang umum namun bisa memicu keretakan komunikasi jika tidak ditangani dengan bijak.
Bagi Anda yang ingin mempelajari bagaimana Islam mengatur nafkah dan harta istri, Anda dapat mengunjungi laman Konsultasi Syariah untuk memahami hak dan kewajiban suami-istri.
Selain itu, jika Anda menyukai Amplang Ikan Pipih seperti yang dibawa Ibu Mahalini, Anda bisa menemukannya di sentra UKM Pusat Oleh-oleh Samarinda di Jalan Jelawat atau Jalan Slamet Riyadi. Mendukung produk lokal Kalimantan Timur adalah salah satu cara menerapkan ekonomi mikro yang dianjurkan dalam sistem ekonomi Islam.
Kesimpulan Bab 7:
Kebaikan hati Raisa yang ingin berbagi ternyata terbungkus oleh hobi belanja yang kurang terkontrol. Beruntung ia memiliki tetangga seperti Mahalini dan Rossa yang siap mengingatkan. Namun, apakah kejujuran Raisa akan bertahan ketika Hamzah menemukan nota asli di tempat sampah?
Nantikan Bab 8: Rossa dan Strategi "Titip Absen" Belanja!
