BAB 7: Red Carpet Gadungan: Ketika Fahri Harus Pakai Jas di Cuaca Panas Palangkaraya

BAB 7: Red Carpet Gadungan: Ketika Fahri Harus Pakai Jas di Cuaca Panas Palangkaraya

Lev
0
Ikuti kisah kocak Ibu Hermione, Ibu Krisdayanti, Ibu Siti Nurhaliza dalam novel Islami terbaru 2026. Tiga suami di Palangkaraya yang harus berjuang menghadapi hobi unik istri mereka: dari kecanduan Drakor, obsesi Hollywood, hingga drama Sinetron. Sebanyak 27 bab penuh tawa, cinta, dan hikmah religi. Baca selengkapnya!

Jika ada orang yang paling sibuk di Cluster Sakinah pagi ini, orang itu pastilah Krisdayanti. Bukan karena ada kunjungan gubernur, melainkan karena ia baru saja selesai menonton maraton ajang penghargaan film paling bergengsi di Hollywood. Baginya, kehidupan adalah panggung, dan suaminya, Fahri, adalah aktor utamanya—meskipun aktor tersebut lebih sering terlihat memegang nota kayu daripada piala emas.

"Fahri, please honey, pakai jas yang warna navy ini. It matches your eyes," ujar Krisdayanti sambil membentangkan jas wol tebal di atas tempat tidur.

Fahri yang baru saja keluar kamar mandi dengan handuk tersampir di bahu, melongo. "Daya, Sayang... kita ini mau ke undangan pernikahan keponakan Pak RT di gedung pertemuan biasa. Suhu di luar hari ini 34 derajat Celcius. Pakai jas wol itu sama saja dengan bunuh diri secara perlahan."

"Aduh, Fahri! Fashion is pain! Lihat itu para selebriti di LA, mereka pakai gaun berlapis-lapis di bawah lampu sorot tetap senyum. Masa kamu cuma pakai jas di Palangkaraya saja mengeluh?" balas Krisdayanti sambil menyemprotkan parfum aroma musk yang kuat ke arah suaminya.

Fahri hanya bisa pasrah. Dengan berat hati, ia memasukkan lengannya ke dalam jas yang terasa seperti pelukan kompor panas. Di dalam hatinya, ia berdzikir, memohon agar AC di gedung nanti berfungsi maksimal.

Pertemuan Tiga "Aktor" di Parkiran

Pukul sepuluh pagi, tiga mobil keluar secara bersamaan dari pagar rumah masing-masing. Zaki keluar dengan kemeja slim-fit ala CEO drakor, Imran dengan kemeja batik yang kancingnya tertutup rapat sampai leher (permintaan Hermione agar terlihat seperti "Suami Setia"), dan Fahri yang tampil paling mencolok dengan jas lengkap dan kacamata hitam aviator.

Begitu mereka turun di depan gedung pertemuan, keringat sudah mulai membasahi pelipis Fahri.

"Fah, kamu mau kondangan atau mau sidang PBB?" bisik Zaki sambil menahan tawa saat melihat sahabatnya berjalan dengan kaku.

"Jangan tanya, Zak," jawab Fahri ketus dari balik kacamata hitamnya. "Aku merasa seperti ayam panggang yang sedang berjalan. Istriku bilang ini gaya Red Carpet. Masalahnya, karpet di gedung ini warnanya hijau lumut, bukan merah."

Imran ikut mendekat, ia juga tampak tidak nyaman. "Masih mending kalian. Aku dilarang senyum sama Hermione. Katanya, kalau aku senyum ke tamu undangan perempuan, itu bisa jadi 'benih-benih konflik' untuk episode sinetron besok pagi. Aku disuruh pasang muka datar sepanjang acara."

Drama di Meja Prasmanan

Ketegangan mencapai puncaknya saat sesi makan siang. Krisdayanti memaksa Fahri untuk makan menggunakan pisau dan garpu dengan teknik fine dining, padahal menu hari ini adalah Gangan Manange (sayur bening khas Dayak) dan ikan patin bakar yang jauh lebih nikmat dimakan pakai tangan.

"Fahri, keep your elbows off the table," bisik Krisdayanti tajam saat Fahri mencoba menyendok kuah sayur dengan gerakan yang dianggap kurang elegan.

Di meja sebelah, Siti Nurhaliza sedang sibuk memotret Zaki dari berbagai sudut. "Mas, coba pose 'sedang berpikir mendalam' sambil pegang gelas es teh. Nah, persis seperti adegan Oppa di kafe Seoul!"

Zaki hanya bisa tersenyum kecut sambil memegang es teh yang es batunya sudah mencair.

Sementara itu, Hermione sedang asyik mengamati interaksi antara seorang tamu undangan dengan pelayan katering. Ia langsung berbisik pada Imran, "Mas, lihat itu! Si pelayan menjatuhkan sendok di depan ibu-ibu itu. Itu pasti pertanda kalau mereka sebenarnya ibu dan anak yang terpisah dua puluh tahun lalu!"

Imran hanya mengangguk lemas. "Iya, Sayang. Terserah kamu. Yang penting kita cepat pulang sebelum jas Fahri benar-benar meledak karena panas."

Puncak Komedi: AC yang Mati

Bencana yang ditakuti Fahri akhirnya terjadi. Tiba-tiba, listrik di gedung tersebut mati. AC berhenti berhembus, dan dalam hitungan detik, suhu ruangan melonjak drastis.

Fahri yang sudah berada di batas kesabaran termalnya, tidak kuat lagi. Ia melepas jasnya dengan gerakan cepat, melonggarkan dasinya, dan mulai mengipasi dirinya dengan piring plastik.

"Fahri! Your image!" protes Krisdayanti.

"Persetan dengan image Hollywood, Daya! Tom Cruise juga kalau disuruh berdiri di sini tanpa AC bakal minta pulang ke Amerika!" seru Fahri sambil menuju ke stand penjual es krim.

Zaki dan Imran tertawa terbahak-bahak melihat sahabat mereka "memberontak". Kejadian itu justru membuat suasana menjadi cair. Para istri akhirnya sadar bahwa memaksakan fantasi layar kaca ke dunia nyata di Palangkaraya memang butuh penyesuaian logistik yang berat.

Sore itu, mereka pulang dengan jas yang ditenteng dan kemeja yang basah kuyup. Meskipun gagal menjadi bintang Red Carpet, Fahri merasa lega. Baginya, menjadi suami yang apa adanya di rumah jauh lebih baik daripada menjadi aktor hebat di bawah tekanan jas wol 34 derajat Celcius.

Baca Selanjutnya: Bab 8: Imran Terjebak Plot Twist Sinetron: Dituduh Punya Istri Simpanan karena Salah Kirim Chat

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default