Bab 7: Tragedi di Taman Giat dan Hilangnya Sang Princess

Bab 7: Tragedi di Taman Giat dan Hilangnya Sang Princess

Lev
0
Ikuti kisah hangat Khalisah & Naura merawat kucing oren dan Persia di Tabalong. Novel Islami keluarga PNS & Dokter Gigi yang penuh komedi, edukasi Abu Hurairah, dan persahabatan kucing di Murung Pudak. Baca selengkapnya!


Sore itu, langit di atas Kota Tanjung berwarna jingga kemerahan. Muhammad Hifni memutuskan untuk memenuhi janji akhir pekan: membawa Khalisah Salsabilla jalan-jalan ke Taman Giat Tanjung. Tidak ketinggalan, si Jagau juga ikut serta di dalam keranjang anyaman yang dipasang di bagian depan motor dinas Hifni—sebuah pemandangan yang membuat para rekan PNS yang kebetulan lewat hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sang bendahara kantor yang biasanya kaku itu.

Di sana, mereka sudah ditunggu oleh keluarga drg. Dina Yulianti. Naura Salsabilla tampak sangat mencolok dengan setelan jogging mini merk ternama, lengkap dengan Snowee yang berada di dalam kereta dorong khusus kucing (pet stroller) yang tampak lebih mewah daripada kursi kerja Hifni.

"Khalisah! Lihat, Snowee pakai sepatu baru!" seru Naura sambil menunjuk kaki mungil kucing Persianya yang dibungkus kaos kaki karet anti-slip.

"Kenapa kucing pakai sepatu, Naura? Nanti dia tidak bisa merasakan bumi," komentar Khalisah sambil mengeluarkan Jagau yang langsung melompat ke rumput dengan bebasnya. "Jagau saja kakinya punya 'rem' alami."

Rina Rufida dan Dina duduk di bangku taman, mengawasi kedua putri mereka sambil menikmati segelas es kelapa muda. Percakapan mereka mulai mengalir lebih santai, meski Rina sesekali masih memberikan pertanyaan "jebakan" tentang masa lalu suaminya.

"Dulu waktu di Banjarmasin, Pak Hifni itu orangnya sangat populer ya, Dok?" tanya Rina sambil tersenyum menyelidik.

Dina tertawa kecil, menyibakkan rambutnya yang terkena angin sore. "Populer karena idealisnya, Bu Rina. Dia dulu ketua gerakan mahasiswa yang paling anti-telat. Siapa sangka sekarang dia jadi PNS yang sangat tertib di Tabalong."

Namun, suasana santai itu mendadak pecah ketika seekor anjing peliharaan pengunjung lain yang cukup besar terlepas dari talinya dan menggonggong keras ke arah kerumunan anak-anak. Snowee, yang dasarnya adalah kucing rumahan yang penakut, langsung panik. Dengan kekuatan yang tak terduga, ia melompat keluar dari stroller-nya, mencakar tangan Naura hingga terlepas, dan melesat masuk ke arah rimbunnya semak-semak di belakang monumen Taman Giat.

"Snowee! Bunda, Snowee hilang!" tangis Naura pecah seketika.

Seluruh taman mendadak heboh. Dina panik, ia mencoba mengejar namun Snowee sudah hilang di antara gelapnya pepohonan. Hifni segera berdiri, mencoba menenangkan Naura dan Dina.

"Tenang, Dok. Jangan lari-lari, nanti kucingnya makin stres dan menjauh," ucap Hifni dengan nada komando yang sudah lama tidak ia gunakan.

Di tengah kepanikan orang dewasa, Khalisah tetap tenang. Ia menghampiri si Jagau yang sedang nangkring di atas pagar pembatas. "Jagau, kamu kan detektif. Tolong cari temanmu yang sombong itu. Dia pasti sedang menangis di bawah pohon."

Khalisah kemudian menarik tangan Naura. "Jangan menangis, Naura. Jagau punya hidung yang sangat tajam karena dia sering cari sisa ikan haruan di pasar. Ayo kita ikuti Jagau."

Hifni, Rina, dan Dina hanya bisa mengikuti dari belakang saat melihat si Jagau mulai berjalan mengendus-endus tanah dengan gerakan metodis. Kucing oren itu masuk ke area belakang taman yang agak sepi, mendekati sebuah gudang penyimpanan alat kebersihan.

Jagau berhenti di depan sebuah tumpukan pipa paralon besar, lalu mengeluarkan bunyi "Mrrrr-ow?" yang pelan, seolah-olah sedang memanggil. Tak lama kemudian, terdengar suara mengeong tipis yang sangat ketakutan dari dalam pipa.

"Itu suara Snowee!" teriak Naura.

Benar saja, di ujung pipa yang gelap, tampak dua mata bulat yang bersinar ketakutan. Snowee terjebak di sana, tubuhnya gemetar dan sepatu karetnya sudah copot sebelah.

"Snowee, ini aku, Naura..." panggil Naura lembut. Namun Snowee tetap diam, terlalu takut untuk keluar.

Khalisah maju. Ia mengambil sedikit snack kucing (yang selalu ia bawa di saku bajunya) dan meletakkannya di mulut pipa. "Snowee, ayo keluar. Jagau sudah jagain di luar, tidak ada anjing lagi."

Melihat Jagau yang duduk santai di samping Khalisah, perlahan-lahan kucing putih itu mulai merangkak keluar. Begitu sampai di ujung, Naura langsung menyambarnya dan memeluknya erat-erat sambil menangis haru.

Dina menghela napas lega yang luar biasa. Ia menatap Hifni, lalu beralih ke Khalisah. "Terima kasih, Khalisah. Kamu dan Jagau benar-benar pahlawan hari ini."

"Sama-sama, Tante Dokter. Jagau bilang, lain kali Snowee tidak usah pakai sepatu, biar kalau lari tidak licin," ucap Khalisah polos yang membuat ketegangan sore itu berakhir dengan tawa.

Saat mereka berjalan kembali ke parkiran, Rina Rufida berjalan di samping suaminya. "Bah, ternyata insting 'pemimpin' Abah turun ke Khalisah ya? Dan insting 'detektif' Abah sepertinya turun ke si Jagau."

Hifni hanya tersenyum tipis. "Mungkin itu karena kita tinggal di Tabalong, Bun. Di sini, semua orang harus siap jadi pahlawan, bahkan kucing pasar sekalipun."

Hari itu, di bawah bayang-bayang monumen Tanjung, dua Salsabilla belajar satu hal penting: bahwa persahabatan sejati bukan tentang seberapa mahal harga kucingmu, tapi tentang siapa yang ada di sana saat kamu merasa takut dan kehilangan arah.

Tips Penyelamatan Kucing:

Jika kucing Anda kabur atau hilang di tempat umum seperti yang dialami Snowee, jangan mengejarnya sambil berteriak karena akan membuatnya semakin takut. Gunakan umpan makanan beraroma tajam atau bawa kucing temannya (seperti si Jagau) untuk memancingnya keluar.

Pastikan kucing Anda memakai kalung dengan tag nama dan nomor telepon. Anda dapat menemukan berbagai pilihan pet tag kustom di Lazada atau Shopee. Untuk informasi lebih lanjut mengenai tips keamanan hewan peliharaan, kunjungi Blog Hewan Halodoc.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default