"Ikuti perjalanan seru dan mengharukan Muhammad Hifni dan Rina Rufida dalam Novel Islami 'Bahtera Rindu'. Kisah perjalanan haji dari Martapura tahun 1795 melintasi samudera. Perpaduan sejarah, religi, dan komedi kehidupan keluarga yang menginspirasi."
Aceh, Agustus 1795 Masehi
Setelah berminggu-minggu dikepung oleh aroma air garam yang lengket dan pengapnya dek kapal, hidung Muhammad Hifni menangkap sesuatu yang asing sekaligus dirindukan: aroma tanah basah dan wangi kayu terbakar.
"Rina! Khalisa! Lihat ke depan!" seru Hifni sambil menunjuk garis hijau di cakrawala. "Itu daratan! Itu Aceh!"
Kapal Bintang Samudera merapat di dermaga Kesultanan Aceh Darussalam. Bagi para calon haji dari Nusantara, Aceh adalah gerbang spiritual. Di sini, mereka tidak hanya mengisi perbekalan fisik, tetapi juga memperkuat mental sebelum melintasi Samudra Hindia yang lebih luas menuju Laut Merah.
Begitu turun dari kapal, Hifni sujud syukur di atas tanah dermaga yang keras. Sementara itu, Rina Rufida langsung menghirup udara dalam-dalam. "Abah, fresh air! Akhirnya kita tidak perlu melihat ombak yang menari-nari seperti naga itu lagi."
"Tapi hanya sebentar, Ummi. Nanti kita naik naga lagi, kan?" tanya Khalisa sambil memegangi ujung jilbab ibunya.
Mereka berjalan menuju pasar di sekitar Masjid Raya Baiturrahman. Di sana, Hifni terpana melihat kemegahan budaya Islam yang begitu kental. Namun, perhatian Rina teralihkan oleh sebuah kedai kecil yang mengeluarkan aroma sangat tajam dan nikmat.
"Abah, itu bau apa? Harum sekali," ujar Rina.
Itu adalah kedai kopi. Di tahun 1795, kopi Aceh sudah menjadi primadona. Rina mendekati sang penjual, seorang pria paruh baya bersorban rapi. "Excuse me, Sir... is this coffee?" tanya Rina refleks, lupa bahwa ia masih berada di tanah Nusantara.
Si penjual tertegun, lalu menjawab dengan bahasa Melayu yang halus namun terselip tawa, "Wahai Puan, di sini kami menyebutnya Kupi. Tapi jika Puan ingin menyebutnya bahasa orang Inggris, silakan. Apakah Puan ingin mencoba hitamnya tanah Gayo ini?"
Rina tersipu malu. "Maaf, Tuan. Saya hanya terbiasa berlatih dengan pedagang di pelabuhan. Berapa satu kantong untuk bekal kami di kapal?"
Terjadilah perdebatan seru. Hifni, dengan jiwa PNS-nya yang hemat, mulai menghitung kepingan uangnya. "Rina, jangan terlalu banyak. Kita masih butuh uang untuk membayar sewa unta di Jeddah nanti!"
"Tapi Abah, kopi ini bisa membuat kita tetap terjaga saat salat malam di kapal!" balas Rina. Ia kemudian menoleh ke penjual kopi. "Sir, good price? Kami ini musafir dari Martapura. Berilah harga saudara sesama Muslim."
Si penjual kopi terkesan dengan keberanian Rina bicara dan tekad Hifni menghitung. "Karena kalian membawa anak kecil yang manis ini, dan karena Puan bicara bahasa asing dengan lucu, aku berikan harga khusus. Tapi ada syaratnya," ujar si penjual.
"Apa itu?" tanya Hifni waspada.
"Bacakan satu bait puisi atau pantun dari tanah Banjar untukku. Aku rindu mendengar logat saudara jauh kita."
Hifni berdehem, merapikan duduknya, lalu berujar:
"Amun handak tulak ka Mekah, jangan lupakan niat nang suci. Biar ombak memukul kencang, Allah jua nang melindungi."
Si penjual kopi tersenyum puas dan memberikan dua kantong besar kopi Gayo terbaik.
Namun, keceriaan itu sempat terhenti ketika Khalisa tiba-tiba menghilang dari pandangan. "Khalisa?! Khalisa!" teriak Rina panik.
Hifni berlari ke arah kerumunan jemaah yang sedang mengaji di bawah pohon besar. Ternyata, Khalisa sedang duduk tenang di sana, mencoba ikut mengaji bersama anak-anak Aceh. Ia tampak sangat serius, meski tangannya masih memegang pisang goreng yang baru dibelikan ayahnya.
"Abah, Khalisa mau sekolah di sini saja. Naganya baik-baik," ujar Khalisa polos.
Hifni menggendong putrinya dengan perasaan lega luar biasa. Di Aceh, mereka belajar satu hal: bahwa persaudaraan sesama Muslim itu tanpa batas, dari Martapura hingga ujung Sumatra.
Agustus 2026
Zain mengusap air matanya saat membaca bagian penemuan Khalisa di catatan tersebut. Di tahun 2026 ini, Zain sedang berada di sebuah kafe modern di Banjarmasin yang kebetulan menjual kopi Gayo.
"Dua ratus tiga puluh satu tahun yang lalu, kakek buyutku menukar pantun dengan kopi ini," gumam Zain.
Ia segera membagikan potongan cerita ini di Blog Sejarah Keluarga Zain (link simulasi) dengan judul: "Diplomasi Kopi Gayo: Saat Pantun Banjar Menaklukkan Aceh 1795".
Zain menulis:
Perjalanan Haji bukan hanya soal jarak, tapi soal pertemuan hati. Bab 8 mengajarkan kita bahwa meskipun kita memiliki latar belakang berbeda, secangkir kopi dan seuntai pantun bisa menyatukan kita. Nenek Rina membuktikan bahwa bahasa Inggrisnya mungkin belum sempurna, tapi keberaniannya bicara adalah kunci.
Postingan Zain kembali ramai. Seorang pembaca dari Aceh berkomentar: "Zain, rumah kami di dekat Baiturrahman masih ada. Mungkin dulu kakekmu mampir di dekat sini! Lanjutkan ceritanya!"
Intip Bab 9 (September 2026):
Meninggalkan Nusantara: Momen paling emosional saat kapal melewati titik paling barat Indonesia.
Tragedi Dapur Kapal: Rina mencoba memasak masakan Aceh dengan bumbu Banjar, hasilnya membuat seluruh dek kapal bersin-bersin.
Hifni dan Rahasia Catatannya: Hifni mulai menulis surat rahasia untuk Khalisa jika kelak ia tumbuh besar.
Pertanyaan untuk Pembaca: "Apa bau atau aroma yang paling membuat kalian rindu dengan kampung halaman saat sedang bepergian?"
Sampai jumpa di Bab 9 pada bulan September 2026!
