Bab 8: Rossa dan Strategi "Titip Absen" Belanja

Bab 8: Rossa dan Strategi "Titip Absen" Belanja

Lev
0
Baca Novel Islami terbaru 2025: 'Sajadah di Tepian Mahakam'. Kisah komedi haru 3 keluarga bertetangga di Samarinda. Antara hobi belanja online Dokter Raisa, gaya mall Ibu Rossa, dan ketangguhan pasar Ibu Mahalini. Temukan makna ukhuwah dan hijrah finansial di Bumi Tepian. Klik di sini!


Hari Senin di Samarinda selalu dimulai dengan ritme yang cepat. Di Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Jalan Gajah Mada, suasananya terasa lebih formal dari biasanya. Ibu Rossa, dengan seragam cokelat khakinya yang disetrika hingga tajam di bagian lengan, tampak duduk tegak di meja kerjanya. Namun, jika seseorang melihat lebih dekat ke layar komputernya, di antara barisan tabel Excel laporan realisasi anggaran, terselip sebuah tab rahasia: peta lantai sebuah gerai tas ternama yang baru saja dibuka di pusat kota.

Pukul 11.45 WITA, lima belas menit sebelum waktu istirahat resmi dimulai, kegelisahan Rossa memuncak. Ia baru saja mendapatkan info dari grup jastip andalannya bahwa ada "Cuci Gudang Inventaris" di salah satu butik rekanannya. Barang-barangnya terbatas, dan siapa cepat dia dapat.

Misi Rahasia di Jam Istirahat

Rossa melirik ke arah meja rekannya, seorang staf muda yang sering membantunya. "Dinda, saya ada urusan mendesak di luar sebentar ya. Kalau nanti ada Pak Kabid tanya, bilang saja saya sedang koordinasi lapangan ke dinas sebelah atau sedang mencari referensi data di perpustakaan kota," bisik Rossa dengan nada yang sangat meyakinkan.

Inilah yang ia sebut secara bercanda sebagai strategi "Titip Absen" belanja. Tentu saja, sebagai PNS yang menjunjung tinggi integritas, Rossa tidak benar-benar bolos, ia hanya memadatkan waktu makannya menjadi lima menit demi bisa mengejar diskon di sisa waktu istirahatnya.

Ia memacu mobilnya membelah kemacetan di Jalan Jenderal Sudirman. Pikirannya melayang pada sebuah tas tangan berwarna maroon yang sangat ia idamkan untuk dipadukan dengan seragam batiknya. Namun, saat ia sampai di parkiran, ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar adalah Ibu Mahalini.

"Assalamualaikum, Bu Rossa! Lagi di mana? Ini saya lagi di depan kantor Ibu, mau mengantarkan titipan telur itik dari pasar tadi pagi. Saya cari di meja Ibu, kata teman Ibu, Ibu lagi 'koordinasi lapangan'?" suara Mahalini terdengar penuh selidik namun jenaka.

Rossa mendesah. "Aduh, Bu Lini... Ibu ini seperti intelijen pasar saja! Saya lagi di parkiran mall ini, mau lihat tas sebentar. Tolong jangan bilang-bilang siapa ya!"

Benturan Realitas di Etalase Toko

Rossa masuk ke dalam butik dengan nafas terengah-engah. Namun, sesampainya di depan etalase tas impiannya, ia terhenti. Di samping label harga yang sudah dipotong diskon, ada sebuah tulisan kecil: "Hasil penjualan seri ini akan didonasikan untuk renovasi masjid di pedalaman Mahakam Ulu."

Tiba-tiba, Rossa teringat obrolannya dengan Dokter Raisa semalam tentang konsep Barakah dalam setiap barang yang kita miliki. Ia juga teringat pesan Mahalini bahwa uang yang ia belanjakan adalah titipan Allah yang harus dipertanggungjawabkan setiap sennya.

Ia memegang tas itu. Kulitnya lembut, modelnya abadi. Namun, hatinya terasa tidak tenang. Apakah ia membeli ini karena butuh, atau hanya karena ingin menunjukkan pada rekan kantornya bahwa ia selalu punya barang baru setiap bulan?

"Mbak, tas ini cantik sekali," kata Rossa kepada pramuniaga. "Tapi sepertinya hari ini saya tidak jadi ambil. Boleh saya minta brosur donasi renovasi masjidnya saja? Saya mau pelajari bagaimana caranya menyumbang langsung tanpa harus membeli tas ini."

Si pramuniaga tertegun, namun kemudian tersenyum tulus. "Tentu, Bu. Ini jarang terjadi, tapi niat Ibu mulia sekali."

Kembali ke Kantor dengan Hati Ringan

Rossa kembali ke kantor tepat sebelum jam istirahat berakhir. Ia mendapati Mahalini sedang duduk di bangku tunggu depan kantornya sambil memegang kantong telur itik.

"Gimana, Bu Rossa? Tas barunya mana?" tanya Mahalini sambil tersenyum menggoda.

Rossa menggeleng, ia duduk di samping Mahalini dan menunjukkan brosur donasi tersebut. "Enggak jadi, Bu Lini. Tiba-tiba saya merasa tas lama saya masih sangat layak. Malah, saya merasa lebih butuh menabung untuk menyumbang ke masjid ini. Ternyata benar kata Ibu, menahan nafsu itu rasanya lebih lega daripada memuaskan keinginan."

Mahalini menepuk bahu Rossa dengan bangga. "Alhamdulillah. Inilah yang namanya belanja dengan hati, bukan dengan mata. Ayo, kita masuk, saya kasih tips masak telur itik ini supaya suami Ibu makin sayang dan nggak protes kalau Ibu sesekali ke mall lagi."

Edukasi untuk Pembaca

Bab ini mengangkat isu Etika Kerja (Integritas) dan Konsumsi Berkelanjutan dalam perspektif Islam. Bagi seorang ASN/PNS seperti Ibu Rossa, menjaga amanah waktu kerja adalah bagian dari jihad profesional. Mengambil waktu kerja untuk urusan pribadi tanpa izin yang jelas bisa bersinggungan dengan keberkahan gaji yang diterima.

Bagi Anda yang tertarik dengan isu filantropi dan ingin menyumbang untuk pembangunan tempat ibadah di Kalimantan Timur, Anda bisa memulainya melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Kaltim yang mengelola zakat, infak, dan sedekah secara transparan sesuai syariat.

Selain itu, jika Anda ingin mengetahui lokasi pusat perbelanjaan atau butik yang sering mengadakan kegiatan amal di Samarinda, pastikan untuk mengikuti akun media sosial resmi dari pusat perbelanjaan seperti Big Mall Samarinda untuk mendapatkan informasi terkini mengenai acara sosial yang mereka selenggarakan.

Kesimpulan Bab 8:

Ibu Rossa belajar bahwa harga diri seorang wanita tidak ditentukan oleh merk tas yang ia jinjing, melainkan oleh kekuatan prinsip dan integritasnya dalam bekerja serta kedermawanan hatinya. Namun, bagaimana reaksi Dokter Raisa saat mengetahui Rossa batal membeli tas tersebut? Dan apakah Mahalini akan terus menjadi "polisi moral" bagi kedua tetangganya?

Ikuti Bab 9: Mahalini dan Misi Rahasia Penyelamatan Dompet di Pasar Pagi!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default