Bab 9: Festival Salikur di Banjarbaru

Bab 9: Festival Salikur di Banjarbaru

Lev
0

Bulan suci Ramadan di Banjarbaru selalu terasa istimewa, terutama saat memasuki sepuluh malam terakhir, yang dikenal sebagai malam Salikur (dari kata dua puluh satu). Di malam-malam ganjil ini, umat Muslim meningkatkan ibadah, dan kota pun menjadi hidup dengan tradisi lokal yang semarak: Festival Salikur.

Festival ini identik dengan pasar malam, pawai tanglong (lentera hias), dan tentu saja, berburu takjil dan hidangan khas Banjar untuk sahur atau berbuka. Bagi keluarga Salman, ini adalah tradisi tahunan yang tak boleh dilewatkan.

Sore itu, setelah salat Ashar, keluarga Salman sudah bersiap. Aisyah memastikan semua anggota keluarga berpakaian sopan dan rapi. Fikri sudah menyiapkan kamera ponselnya, siap mengabadikan momen.

“Kita ke lapangan Murjani ya, Yah? Di sana pasti paling ramai dan banyak makanan,” usul Fahmi, si jagoan kecil yang paling antusias soal kuliner.

“Boleh, Nak. Tapi kita salat Tarawih dulu di masjid area festival, ya,” kata Fikri. “Salikur ini intinya kan meningkatkan ibadah, bukan cuma jajan.”

Mereka berangkat menggunakan mobil keluarga. Suasana kota sudah mulai padat. Lampu hias dan tanglong mulai menyala di sepanjang jalan, menciptakan suasana magis Ramadan di Banjarbaru.

Tiba di area Lapangan Murjani, suasana benar-benar semarak. Ratusan pedagang berjejer rapi. Aroma harum kue-kue tradisional Banjar seperti Bingka, Amparan Tatak, dan berbagai macam gorengan memenuhi udara.

“Wah, Umi! Lihat! Ada kue Rangai kesukaan Ayah!” seru Fikri antusias, matanya berbinar seperti melihat penyanyi Chrisye naik panggung.

Aisyah tersenyum. “Sabar, Yah. Kita lihat-lihat dulu. Nanti kalap, bukannya hemat malah boros.”

Zahra dan Rizki berjalan beriringan, menikmati suasana festival. Zahra sibuk memotret dekorasi tanglong yang indah, berencana mengunggahnya ke media sosial dengan caption Islami yang estetis, terinspirasi dari gaya Dian Pelangi.

“Kak, fotoin aku di depan tanglong itu dong! Angle-nya harus pas ya, biar syar’i-nya dapet tapi tetap stylish,” pinta Zahra pada Rizki.

Rizki hanya menggelengkan kepala. “Iya, iya, model dadakan. Nanti Kakak fotoin. Jangan lupa senyum yang ikhlas, bukan senyum kayak mau audisi film.”

Fahmi dan Mila sudah hilang di kerumunan, tapi tetap dalam pengawasan Aisyah dan Fikri. Mereka menemukan stand mainan tradisional dan juga stand kecil yang menjual merchandise (tiruan) selebriti.

“Ayah, lihat! Ada topi petir kayak Bang Atta Halilintar!” teriak Fahmi.

Fikri menghampiri mereka. “Boleh beli, tapi cuma satu ya. Uangnya buat infak di masjidnya harus lebih banyak.”

Setelah puas berkeliling dan membeli aneka takjil untuk berbuka, keluarga Salman mencari masjid terdekat untuk salat Magrib dan Tarawih. Suasana ibadah di bulan Salikur memang terasa lebih khidmat. Masyarakat berbondong-bondong memenuhi masjid.

Setelah salat Tarawih usai, mereka kembali ke area festival untuk mencari lauk sahur. Kali ini Fikri yang bersemangat mencari ikan patin bakar khas Banjar.

“Ikan patin bakar ini, Umi, rasanya autentik banget. Rasanya kaya akan kearifan lokal, sama kayak lagu-lagu Ebiet G. Ade yang puitis itu,” komentar Fikri sambil mengunyah lahap saat mereka makan malam di area festival.

Aisyah hanya tersenyum. “Ada-ada saja perumpamaan Ayah.”

Malam itu, keluarga Salman merasakan kebahagiaan yang sempurna. Festival Salikur di Banjarbaru bukan hanya tentang hiburan malam, tapi juga tentang tradisi Islami yang kuat, kebersamaan keluarga, dan kehangatan kehidupan bermasyarakat. Mereka pulang ke rumah dengan perut kenyang, hati senang, dan iman yang semakin kuat di sepuluh malam terakhir Ramadan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default