Proyek "Musala Al-Hikmah Go Online" berjalan begitu baik hingga menarik perhatian media lokal Banjarmasin. Mereka ingin meliput kisah sukses keluarga yang memanfaatkan teknologi untuk kegiatan sosial keagamaan. Anindya Putri, sebagai inisiator utama marketing digitalnya, didapuk untuk wawancara live di stasiun TV lokal.
Anindya panik. Ia terbiasa live di Instagram dengan audiens ibu-ibu yang santai, tapi live di TV lokal dengan jangkauan lebih luas adalah hal yang berbeda.
"Masya Allah, Mas Lev, bibirku langsung kaku nih. Takut salah ngomong, takut SEO yang aku pakai salah, takut followers-ku di Instagram ketawa lihat aku grogi," keluhnya kepada Levâ„›yley, sambil mencoba berbagai jilbab instan di depan cermin.
"Tenang, Bu Anindya sayang. Bicara apa adanya saja. Ceritakan niat baik kita, ceritakan perjuangan warga komplek, dan ceritakan bagaimana teknologi bisa jadi berkah kalau digunakan dengan iman," nasihat Levâ„›yley, tersenyum menenangkan. "Yang penting niatnya lillahi ta'ala."
Aisyah dan Maryam membantu memilihkan busana muslimah yang syar'i dan elegan. Ghina bertugas memberikan tips kepercayaan diri ala reviewer profesional, sementara Rayyan menyemangati ibunya dengan pelukan erat.
Hari wawancara tiba. Studio TV lokal yang tidak terlalu besar terasa sesak oleh aura gugup Anindya. Di rumah, seluruh anggota keluarga menonton dengan tegang, siap memberikan dukungan moral. Warga komplek dan ibu-ibu majelis taklim juga menonton dari rumah masing-masing. Grup WhatsApp Majelis Taklim Banjarmasin mendadak hening.
"Selamat sore, pemirsa. Bersama kami Ibu Anindya Putri, seorang ibu rumah tangga di Banjarmasin yang sukses membawa musala kompleknya go digital," sapa pembawa acara ramah.
Anindya, meskipun sedikit gemetar, berhasil menguasai diri. Dia mulai bercerita tentang musala mereka, tentang produk-produk UMKM warga, dan tentang bagaimana dia menggunakan teknik marketing digital dan SEO yang jujur untuk menjangkau donatur dan pembeli di seluruh Indonesia.
"Bagi kami, belanja online dan teknologi itu netral. Kami memilih menggunakan kekuatan live shopping dan review produk yang jujur untuk kebaikan," jelas Anindya, suaranya kini terdengar mantap. "Kami ingin tunjukkan bahwa ibu-ibu di Banjarmasin juga bisa melek digital dan berdakwah melalui cara ini."
Wawancara itu sukses besar. Pujian mengalir deras di media sosial. Jumlah followers akun musala Al-Hikmah dan akun pribadi Anindya meningkat drastis. Penjualan produk UMKM warga juga melonjak tajam.
Namun, di tengah euforia itu, ujian pun datang. Beberapa hari setelah wawancara TV, sebuah komentar negatif muncul di akun Instagram Anindya.
“Halah, palingan pencitraan doang. Ibu-ibu matre sukanya belanja online, kedoknya aja dakwah digital. Dasar ratu online shop tukang pamer paket!”
Komentar itu membuat hati Anindya perih. Ia merasa usahanya tulusnya disalahpahami.
Levâ„›yley yang melihat Anindya murung, segera menghibur istrinya. "Bu, ujian dakwah itu pasti ada. Nabi Muhammad SAW juga difitnah dan dihina. Kamu harus kuat. Mereka nggak tahu perjuangan kita yang sebenarnya."
Aisyah juga ikut menenangkan ibunya. "Betul kata Ayah, Bu. Kita tahu niat kita tulus. Komentar negatif itu cuma satu dari ribuan komentar positif. Fokus pada yang baik-baik saja."
Anindya merenung. Akhirnya, dia memutuskan untuk membalas komentar negatif itu dengan bijak.
“Terima kasih atas kritiknya, Ibu/Bapak. Kami menghargai setiap masukan. Niat kami tulus untuk membantu warga dan syiar Islam. Kami juga manusia biasa yang masih belajar dan sering khilaf. Mari kita sama-sama gunakan media sosial ini untuk hal yang positif ya. Salam dari Banjarmasin :)”
Jawaban Anindya yang santun dan bijak justru membuat followers-nya semakin kagum. Banyak yang membela Anindya dan melaporkan akun haters tersebut.
Anindya belajar sebuah pelajaran penting: di dunia digital yang serba cepat dan kadang kejam, integritas, kesabaran, dan akhlak yang baik adalah SEO yang paling ampuh. Wawancara TV itu tidak hanya mendatangkan popularitas sesaat, tapi juga mematangkan mental Anindya sebagai 'da'iyah' digital di Banjarmasin.
