Kehidupan keluarga Hifni dan Rina yang biasanya ceria dan penuh tawa Khalisa, tiba-tiba diuji dengan cobaan kecil. Pagi itu, saat Rina mencoba membangunkan Khalisa untuk bersiap ke penitipan anak, putrinya itu tidak merespons seaktif biasanya.
"Khalisa, bangun, Sayang," Rina menepuk pelan pipi anaknya.
Khalisa hanya menggeliat lemah. Rina menyentuh dahinya. Panas sekali. Wajah Rina langsung panik.
"Abi! Abi, sini cepat!" panggil Rina dengan nada cemas.
Hifni yang sedang bersiap mengenakan seragam dinasnya, segera berlari ke kamar Khalisa. Ia ikut menyentuh dahi putrinya.
"Ya Allah, panas sekali, Mi," Hifni ikut panik.
Khalisa membuka matanya perlahan, matanya merah dan sayu. "Ummi... perut Khalisa sakit..." rintihnya pelan.
Tanpa pikir panjang, Rina dan Hifni memutuskan untuk membawa Khalisa ke Puskesmas Barabai yang terdekat. Pagi itu, rutinitas kantor dan mengajar mereka lupakan sejenak. Kesehatan Khalisa adalah prioritas utama. Mereka segera membatalkan jadwal mereka via telepon kantor dan bergegas.
Di puskesmas, Khalisa langsung ditangani oleh dokter jaga. Setelah diperiksa, dokter mendiagnosis Khalisa terkena diare dan sedikit demam, kemungkinan karena salah makan jajan di Lapangan Dwiwarna weekend lalu.
"Tidak apa-apa, Pak, Bu. Demamnya tinggi, tapi masih bisa ditangani rawat jalan. Ini saya berikan obat penurun panas, oralit, dan antibiotik. Pastikan anaknya banyak minum air putih dan istirahat total di rumah," jelas dokter muda itu ramah.
Rina dan Hifni bernapas lega. Mereka membeli obat di apotek puskesmas dan segera kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, Rina dengan telaten merawat Khalisa. Abah Usman dan Ummi Salamah, yang masih menginap, juga ikut membantu. Ummi Salamah langsung membuatkan bubur sumsum hangat untuk Khalisa dan menyiapkan ramuan herbal sederhana dari kunyit dan madu. Abah Usman membacakan doa-doa kesembuhan dan surat-surat pendek Al-Qur'an di samping tempat tidur Khalisa, mengalirkan energi positif dan ketenangan.
"Ujian sakit itu adalah cara Allah menggugurkan dosa-dosa kita, Nak," kata Abah Usman lembut kepada Rina dan Hifni yang terlihat kelelahan. "Yang penting kita sabar, ikhtiar, dan terus berdoa."
Hifni dan Rina menjalankan peran mereka dengan penuh kasih sayang. Hifni bergantian mengompres dahi Khalisa, sementara Rina memastikan obat diminum tepat waktu. Khalisa yang biasanya lincah dan cerewet, kini hanya terbaring lemah. Rumah yang biasanya riuh dengan celotehnya, menjadi sepi.
Rina merasa bersalah. "Ini pasti gara-gara Ummi izinkan dia makan es krim di Dwiwarna kemarin, Bi," sesal Rina, matanya sedikit berkaca-kaca.
"Bukan salah Ummi. Namanya juga anak-anak. Insya Allah cepat sembuh," Hifni menenangkan istrinya.
Dua hari berlalu. Kondisi Khalisa berangsur membaik. Demamnya turun, dan dia sudah mulai bisa makan bubur dengan lahap. Tawa kecilnya mulai terdengar lagi saat Abah Usman melawak dengan gaya khas pensiunannya.
Pada hari ketiga, Khalisa sudah bisa duduk dan bermain dengan boneka sapinya lagi. Rumah kembali hidup. Hifni dan Rina memutuskan untuk kembali masuk kantor esok harinya.
Kejadian Khalisa sakit ini menjadi pengingat bagi Hifni dan Rina tentang betapa berharganya nikmat kesehatan. Mereka sadar bahwa di tengah kesibukan pekerjaan dan rutinitas duniawi, ada hal yang jauh lebih penting untuk dijaga, yaitu kesehatan keluarga dan waktu berkualitas bersama.
Malam itu, saat Hifni dan Rina menidurkan Khalisa, mereka berdua memanjatkan doa syukur. Ujian kecil sakitnya Khalisa justru semakin mempererat ikatan keluarga mereka, mengajarkan arti kesabaran, ikhtiar, dan pentingnya doa dalam setiap aspek kehidupan. Di kota Barabai yang damai ini, di rumah kecil mereka, mereka menemukan kekuatan dari iman dan kehangatan keluarga yang tak ternilai harganya.
