Bab 13: Lamongan, Kesejahteraan Sosial

Bab 13: Lamongan, Kesejahteraan Sosial

Lev
0

Pagi hari di Gresik, setelah menikmati sarapan nasi krawu lagi (karena Anindya ketagihan), keluarga kecil Lev melanjutkan perjalanan mereka. Roda mobil MPV silver bergulir ke arah barat, menuju Kabupaten Lamongan. Destinasi mereka kali ini adalah kompleks makam Sunan Drajat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran.

Perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 jam. Pemandangan di sepanjang jalan didominasi oleh tambak ikan, kebun mangga, dan area pesisir utara Jawa yang kering namun ramai.

"Sunan Drajat ini terkenal karena apa, Mas?" tanya Anindya, membuka buku saku doa yang dibawanya.

"Beliau ini fokus banget sama kesejahteraan sosial dan pendidikan adab, Nindya. Metode dakwahnya yang paling terkenal itu Catur Piwulang, empat ajaran utama, salah satunya yang artinya 'Berilah tongkat kepada orang buta, berilah makan kepada orang lapar, berilah pakaian kepada orang telanjang, dan berilah payung kepada orang kepanasan'," jelas Lev, fokus menyetir.

Anindya mengangguk kagum. "Masya Allah, ajaran yang sangat aplikatif, ya. Pas banget sama kondisi masyarakat kita sekarang."

Setibanya di area kompleks makam Sunan Drajat, suasana terasa sangat tertata rapi dan bersih. Kompleks ini dikelola dengan baik oleh yayasan dan pemerintah daerah. Area parkirnya luas, dan jalan menuju makam dihiasi taman-taman kecil.

Mereka melewati museum Sunan Drajat terlebih dahulu, tempat berbagai peninggalan sejarah dipajang. Lev dan Anindya melihat gamelan Singo Mengkok yang legendaris, konon digunakan Sunan Drajat sebagai media dakwahnya. Aisyah, seperti biasa, tertarik pada benda-benda yang bisa bersuara.

"Abi, ini bunyinya gimana?" tanya Aisyah, menyentuh gamelan dengan hati-hati.

"Nanti kalau ada yang mainkan baru bunyi, Nak," jawab Lev.

Setelah dari museum, mereka menuju area makam yang terletak di bagian belakang kompleks. Arsitektur gapura dan bangunan di sini kental dengan nuansa Majapahit Hindu-Jawa, menunjukkan betapa pandainya Sunan Drajat mengadaptasi budaya lokal untuk syiar Islam.

Di dalam area makam, suasananya tenang dan khusyuk. Peziarah tidak seramai di Ampel atau Sekumpul, sehingga mereka bisa berdoa dengan lebih leluasa. Lev dan Anindya duduk bersila di depan makam Sunan Drajat, memanjatkan doa dan merenungkan ajaran beliau.

Lev merasa ajaran Sunan Drajat sangat relevan dengan kehidupannya sebagai PNS baru. Ia ingin mengabdi pada masyarakat, memastikan kesejahteraan sosial di lingkungannya, dan menerapkan nilai-nilai integritas. Nazar ini semakin memantapkan niatnya untuk menjadi abdi negara yang amanah.

Saat mereka berdoa, momen komedi kecil kembali terjadi. Aisyah, yang bosan, mulai bernyanyi lagu anak-anak dengan lirik yang diubahnya sendiri.

"Naik-naik ke puncak gunung, capek-capek sekali..." nyanyi Aisyah, membuat beberapa peziarah menahan tawa.

Anindya cepat-cepat membungkam Aisyah dengan snack Pocky kesukaannya. "Sstt... Aisyah, jangan nyanyi di sini, Nak. Nanti di mobil lagi, ya."

Wajah Anindya memerah menahan malu, sementara Lev tersenyum geli. Kehadiran Aisyah selalu menjadi pengingat bahwa hidup harus dijalani dengan ringan dan ceria, bahkan di tempat yang sakral.

Setelah selesai ziarah, mereka mampir ke sebuah warung di dekat kompleks makam untuk makan siang. Kali ini, mereka mencicipi Soto Lamongan yang terkenal dengan taburan koya udang yang gurih.

"Enak sekali sotonya, Mas! Koyanya ini yang bikin beda," puji Anindya, lahap menyantap sotonya.

Mereka juga melihat kehidupan bermasyarakat di sekitar desa Drajat yang sangat guyub dan saling tolong-menolong, mencerminkan ajaran sang wali. Banyak program sosial dan pendidikan yang berjalan dengan baik di sana.

Sore harinya, mereka kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju Tuban. Hati Lev dan Anindya dipenuhi inspirasi baru tentang pentingnya kepedulian sosial dan pendidikan adab. Nazar mereka di Lamongan tuntas, menambah khazanah spiritual dalam perjalanan panjang mereka. Tuban, kota berikutnya, sudah menanti dengan kisah Sunan Bonang.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default