Bab 20: Permadani dan Tawa

Bab 20: Permadani dan Tawa

Lev
0

Isfahan tidak hanya terkenal dengan arsitektur masjid-masjidnya yang megah, tetapi juga dengan pasar-pasarnya yang ramai, yang menawarkan kerajinan tangan khas Persia. Pasar yang paling terkenal adalah Pasar Qeysarie, yang terletak di ujung Alun-alun Imam. Lev dan Fatimah memutuskan untuk menjelajahi pasar ini, mencari permadani-permadani indah yang terkenal dari Iran.

"Karpet Persia adalah mahakarya," kata Fatimah, menunjuk sebuah toko yang memajang permadani dengan motif rumit. "Setiap motif punya makna, Lev. Ada cerita di baliknya."

"Luar biasa," bisik Lev, takjub. "Ini seperti... lukisan di lantai."

Mereka masuk ke salah satu toko permadani yang dipenuhi dengan gulungan-gulungan karpet dari berbagai ukuran dan warna. Penjualnya, seorang pria paruh baya dengan senyum ramah, menyambut mereka. Fatimah, yang mahir berbahasa Persia, mulai bernegosiasi dengan penjual itu.

"Ini permadani buatan tangan, Tuan," kata penjual itu, dengan bangga. "Harganya... agak mahal."

"Berapa harganya?" tanya Fatimah, mencoba menawar.

"Lima juta toman," jawab penjual itu, menyebutkan harga dalam mata uang lokal.

Fatimah, dengan ekspresi datar, mencoba menawar. "Terlalu mahal. Bagaimana kalau tiga juta saja?"

Penjual itu tertawa. "Tidak bisa, Nyonya. Ini permadani terbaik di toko saya."

Lev, yang tadinya hanya mengamati, merasa penasaran dengan proses tawar menawar. Ia teringat kembali pengalamannya di pasar malam Sharjah bersama Aisyah. Kali ini, ia merasa harus mencoba lagi.

"Fatimah, biar aku yang coba," bisik Lev.

Fatimah menatap Lev dengan pandangan curiga. "Jangan macam-macam, Lev. Aku tidak mau malu."

"Aku hanya ingin coba pendekatan budaya Banjar," jawab Lev.

Lev kemudian menghampiri penjual itu, tersenyum lebar. Ia mencoba berbicara dengan bahasa Inggris yang ia campur dengan bahasa Persia seadanya.

"Salam, doost! Aku suka permadani ini. Tapi... aku miskin," kata Lev, berpura-pura sedih.

Penjual itu menatap Lev dengan bingung, lalu menoleh ke Fatimah. Fatimah hanya bisa mengangkat bahu, pasrah.

Lev kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, dan berpura-pura menghitungnya dengan cermat. "Lima ratus ribu toman. Gimana, Pak? Doost?"

Penjual itu tidak bisa menahan tawa. "Lima ratus ribu? Ini tidak cukup, Tuan. Ini permadani, bukan roti."

Fatimah, yang tadinya tegang, kini ikut tertawa.

Lev tidak menyerah. Ia kemudian menceritakan tentang Banjarmasin, tentang pasar terapung, tentang budaya tawar menawar di sana. Ia menceritakan dengan gaya yang konyol, membuat penjual itu semakin geli.

"Di sana, kalau tawar menawar, kita harus ramah, dan sedikit drama," kata Lev. "Ini... drama."

Penjual itu, yang sudah terhibur dengan tingkah Lev, akhirnya menawarkan harga yang lebih rendah. Fatimah, yang sudah merasa cukup, langsung menyetujui. Lev merasa bangga. Ia berhasil menawar, meskipun dengan cara yang lucu.

"Kau beruntung, Lev," kata Fatimah, tersenyum. "Penjualnya terhibur dengan tingkah konyolmu."

"Aku kan sudah bilang," kata Lev, bangga. "Pendekatan budaya lokal."

Setelah membeli permadani, mereka melanjutkan perjalanan ke area kuliner. Di sana, mereka mencoba hidangan tradisional Persia, seperti chelo kebab dan ghormeh sabzi. Lev, yang sudah terbiasa dengan masakan Timur Tengah, kini merasa lebih nyaman. Ia bahkan mencoba untuk mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Persia kepada pelayan, meskipun masih sedikit kacau.

Malam itu, mereka duduk di sebuah kafe, membicarakan pengalaman mereka di pasar. Fatimah tertawa terbahak-bahak mengingat kekonyolan Lev.

"Kau ini, Lev," kata Fatimah. "Tapi aku harus akui, caramu unik. Aku tidak pernah melihat orang tawar menawar dengan cara seperti itu."

"Itu namanya... skill," jawab Lev, bangga.

Di bawah langit Isfahan yang bertabur bintang, Lev dan Fatimah merasa lebih dekat. Kekonyolan Lev, yang tadinya hanya membuat Fatimah menggelengkan kepala, kini menjadi sumber tawa. Lev menyadari, humor adalah bahasa universal yang bisa menjembatani perbedaan. Dan di Iran, di tengah keindahan arsitektur dan permadani, ia menemukan humor itu.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default