Eva berjalan dalam kegelapan malam, salju berkeretak di bawah sepatunya. Dinginnya Alaska menusuk kulitnya, tetapi hatinya terasa lebih dingin. Ia tahu, ia telah membuat kesalahan. Ia telah membiarkan dirinya terlalu dekat dengan Alex. Ia telah membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup.
Di kedai kopi "Temaram Senja," Alex menunggunya. Aroma kopi yang kuat menyambutnya saat ia masuk. Alex duduk di sudut yang biasa mereka tempati, dengan dua cangkir kopi panas di atas meja. Alex menatapnya, dan Eva melihat kehangatan di matanya, kehangatan yang membuat hatinya mencair.
"Aku tahu kau datang," kata Alex, senyum kecil terukir di bibirnya.
Eva duduk, mengambil cangkir kopinya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Semua kata-kata terasa hampa di bibirnya.
"Aku sudah memikirkannya," kata Alex. "Aku sudah memikirkan semua yang kau katakan. Tentang perpisahan, tentang waktu, tentang takdir."
Eva menatapnya, menunggu.
"Dan aku tahu," lanjut Alex, "bahwa aku tidak bisa menghentikan waktu. Aku tidak bisa menghentikanmu pergi. Aku tidak bisa menghentikan takdir kita."
Hati Eva terasa sakit. Ia tahu, ini adalah akhir dari persahabatan mereka.
"Tapi," kata Alex, "aku juga tahu, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku tidak bisa berpura-pura kau tidak ada di hidupku. Aku tidak bisa berpura-pura kita tidak pernah bertemu."
"Apa yang kau maksud?" tanya Eva, suaranya pelan.
"Aku akan mencintaimu," kata Alex, matanya dipenuhi dengan kejujuran yang menakutkan. "Meskipun aku tahu, akhirnya akan menyakitkan. Aku akan mengambil risiko itu. Aku akan mengambil risiko itu, karena kau layak untuk itu."
Eva menggelengkan kepalanya. "Tidak, Alex. Kau tidak mengerti. Aku akan melihatmu menua. Aku akan melihatmu pergi. Aku tidak bisa melakukan itu padamu."
"Itu keputusanku," kata Alex, memegang tangan Eva. "Aku yang memilih. Aku yang memilih untuk mencintaimu, meskipun aku tahu akhirnya akan datang. Aku tidak ingin hidup tanpamu, Eva. Aku tidak peduli berapa lama waktu yang kita miliki. Aku hanya ingin kita menghabiskannya bersama."
Eva terdiam. Ia melihat ketulusan di mata Alex, dan ia tahu, Alex serius. Alex tidak takut. Alex siap mengambil risiko itu.
"Ini adalah keputusan yang sulit, Alex," kata Eva. "Kau tahu, cinta kita tidak akan abadi."
"Cinta kita akan abadi di dalam hatiku," kata Alex. "Itu saja yang penting."
Eva melihat Alex, melihat kebaikan di matanya, dan ia merasa hatinya mencair. Ia tidak bisa menolak. Ia tidak bisa lari. Alex, dengan cintanya yang tulus, telah membuatnya menyadari, bahwa ia tidak bisa terus menerus berlari dari takdirnya.
"Aku tidak bisa berjanji akan berada di sini selamanya," kata Eva, air mata mengalir di pipinya.
"Aku tidak memintamu untuk itu," kata Alex. "Aku hanya memintamu untuk berada di sini, sekarang. Di sisiku."
Eva mengangguk. Ia tidak bisa berbohong lagi. Ia tidak bisa melarikan diri lagi. Ia harus menghadapi takdirnya, dengan Alex di sisinya.
Alex tersenyum, senyum yang penuh dengan kelegaan. Ia membungkuk, dan mencium Eva. Ciuman yang lembut, penuh kasih sayang. Ciuman yang mengakhiri penantian, dan memulai sebuah kisah baru. Kisah cinta antara seorang elf yang abadi, dan seorang manusia yang fana. Kisah cinta yang tahu, akhirnya akan menyakitkan, tetapi mereka memilih untuk menghadapinya bersama.
