Bab 34: Cahaya Abadi di Tengah Kekosongan

Bab 34: Cahaya Abadi di Tengah Kekosongan

Lev
0

Pertempuran di taman kota mencapai puncaknya. Sombra, dengan wujud manusia dan mata merah yang menyala-nyala, menembakkan gelombang energi kegelapan dari kristal hitam di tangannya. Energi itu, yang memancarkan aura kehampaan, menyerang Lev, Vania, Anatasya, dan Elara dengan kekuatan yang luar biasa.

Vania dengan sigap menciptakan perisai api, tetapi energi kegelapan itu berhasil menembusnya, hampir memadamkan apinya. Anatasya menggunakan cambuk airnya untuk melawan, tetapi air itu berubah menjadi uap hitam saat menyentuh energi kegelapan. Elara mencoba membekukan serangan Sombra, tetapi es yang ia ciptakan mencair dengan cepat.

Lev, yang menyentuh tanah, merasakan energi Sombra yang kuat. Ia tahu bahwa energi itu terlalu kuat untuk dilawan dengan kekuatan fisik. Ia harus menggunakan kekuatan spiritual.

"Jangan fokus pada Sombra!" teriak Lev. "Fokus pada cahaya abadi!"

Mereka mengangguk, dan mereka menutup mata mereka. Mereka tidak lagi fokus pada Sombra, tetapi pada patung kuno yang memancarkan cahaya redup. Mereka menyalurkan energi mereka ke patung itu, mencoba untuk mengembalikan cahaya abadi.

Sombra, yang melihat bahwa serangannya tidak berpengaruh, menjadi marah. Ia melancarkan serangan yang lebih kuat, mencoba untuk menghancurkan patung itu. Tetapi, saat serangannya mendekati patung itu, cahaya dari patung itu bersinar lebih terang, menangkis serangan Sombra.

Lev, Vania, Anatasya, dan Elara, yang merasakan kekuatan cahaya abadi, membuka mata mereka. Mereka kini berdiri di dalam lingkaran cahaya yang kuat, yang melindungi mereka dari serangan Sombra.

"Kalian... bagaimana?" bisik Sombra, suaranya dipenuhi frustrasi.

"Cahaya abadi," jawab Lev. "Itu adalah kelemahanmu."

Sombra menyerang mereka lagi, kali ini dengan kekuatan penuh. Tetapi, cahaya abadi terlalu kuat. Sombra tidak bisa menembusnya. Sombra menjerit kesakitan, dan ia mulai memudar.

"Aku akan kembali," bisik Sombra. "Aku akan kembali, dan aku akan lebih kuat."

Sombra menghilang, tetapi ia meninggalkan jejak. Kristal hitam di tangannya terjatuh ke tanah.

Lev, Vania, Anatasya, dan Elara, kelelahan tetapi lega, mengambil kristal itu. Kristal itu kini tidak lagi memancarkan energi kegelapan, melainkan cahaya putih yang menenangkan.

"Kristal ini... ia akan menyerap semua kegelapan," kata Elara. "Ini adalah senjata kita untuk melawan Sombra."

Mereka kembali ke Arcanum, membawa kristal itu. Mereka tahu bahwa mereka telah menang, tetapi mereka juga tahu bahwa ini hanyalah pertempuran. Perang yang sesungguhnya akan segera tiba.

Bab ini diakhiri dengan Lev, Vania, Anatasya, dan Elara yang bersiap untuk pertempuran terakhir. Mereka tahu bahwa Sombra akan kembali, dan ia akan lebih kuat. Tetapi, mereka juga tahu bahwa mereka akan menang. Karena kali ini, mereka tidak hanya melawan Sombra. Mereka juga melawan kegelapan dan keputusasaan, dan mereka akan membawa harapan ke dunia manusia.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default