Pukul 03:00 pagi. Waktu sahur di Manchester biasanya sunyi, hanya dipecah oleh suara mesin pembersih jalan atau langkah kaki satu dua orang yang menuju masjid. Namun bagi Layla, kesunyian pagi itu adalah sebuah alarm bahaya.
Ia terbangun dengan perasaan tidak enak. Setelah kejadian banjir semalam, ia tertidur lelap karena kelelahan. Saat ia melangkah ke kamar ayahnya untuk membangunkan sahur, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Tempat tidur itu kosong. Rapi, seolah tidak pernah ditiduri.
"Ayah?" panggil Layla, suaranya bergetar di koridor rumah yang dingin.
Tidak ada jawaban. Ia memeriksa dapur; teko listrik masih dingin. Ia memeriksa kamar mandi; kering. Mata Layla kemudian tertuju pada pintu depan yang sedikit terbuka. Di ambang pintu, ia melihat jejak kaki di atas lapisan salju tipis—fenomena spring snow yang sesekali menyapa Manchester di bulan April.
Layla panik. Ia menyambar jaketnya tanpa sempat mengganti piyama. Di luar, suhu turun drastis. Pikiran Layla langsung melayang pada kondisi Malik. Dalam fase demensia tertentu, penderita sering kali mengalami sundowning atau disorientasi waktu yang parah.
Layla berlari ke ujung jalan, berteriak memanggil nama ayahnya. Ponselnya bergetar; Yusuf menelepon.
"Layla! Aku baru saja melihat postingan di grup Facebook Salford Community," suara Yusuf terdengar panik namun cepat. "Seseorang melihat pria tua memakai jersey United tahun 99 dan syal merah sedang berjalan sendirian di dekat Warwick Road. Dia bilang dia ingin 'mengejar kick-off'."
"Ya Allah, Yusuf! Itu arah ke Old Trafford!" pekik Layla. "Jaraknya hampir dua mil dari sini. Dia tidak akan kuat berjalan di udara sedingin ini!"
"Aku meluncur ke sana sekarang. Tetaplah di telepon!"
Layla memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, mengabaikan genangan sisa banjir semalam. Air matanya mengalir deras, membasahi kemudi. Ia teringat cerita ayahnya tentang bagaimana ia selalu menggandeng tangan Layla kecil saat melewati gerbang stadion. Sekarang, peran itu terbalik, dan Layla merasa gagal menjaga tangan itu tetap dalam genggamannya.
Saat ia mencapai area stadion yang megah namun gelap di malam hari, ia melihat sosok renta duduk di bangku beton dekat United Trinity Statue—patung Best, Law, dan Charlton.
Malik duduk di sana, menggigil hebat, namun matanya menatap lurus ke arah stadion yang sunyi.
"Ayah!" Layla melompat keluar dari mobil dan langsung memeluk ayahnya, menyelimutinya dengan jaket tebal yang ia bawa.
Malik menoleh, wajahnya tampak bingung namun tersenyum tipis. "Layla? Kau telat. Pertandingannya akan segera mulai. Sir Alex bilang kita harus disiplin."
"Yah... pertandingannya sudah selesai bertahun-tahun lalu," isak Layla sambil mengusap pipi ayahnya yang sedingin es. "Sekarang waktunya sahur. Kita harus pulang."
"Tapi lampunya mati, Layla," gumam Malik sambil menunjuk stadion. "Kenapa mereka mematikan lampu saat kita sedang berjuang?"
Kalimat itu mengandung makna yang lebih dalam dari sekadar bola. Bagi Malik, lampu hidupnya perlahan padam, dan ia berusaha keras mencari sisa-sisa cahaya di tempat yang paling ia cintai.
Tiba-tiba, sebuah mobil van berhenti di dekat mereka. Itu Yusuf. Ia keluar dengan membawa termos besar berisi cokelat panas dan beberapa roti lapis.
"Alhamdulillah, kalian ketemu," Yusuf mengembuskan napas lega yang terlihat seperti uap di udara dingin. Ia segera menuangkan cokelat panas untuk Malik. "Paman, kau benar-benar striker yang sulit dijaga. Kau berlari sampai ke sini sendirian?"
Malik meminum cokelat itu perlahan, kesadarannya mulai kembali saat rasa hangat menyentuh tubuhnya. "Yusuf... si Biru. Kenapa kau ada di Teater Impian?"
"Aku datang untuk menjemput legenda, Paman," jawab Yusuf lembut, tanpa ejekan sedikit pun kali ini. "Ayo, waktu sahur hampir habis. Kita tidak mau berpuasa dengan perut kosong, kan?"
Mereka membantu Malik masuk ke mobil. Di dalam perjalanan pulang, Malik tertidur di kursi belakang karena kelelahan. Layla menatap sepupunya lewat spion tengah.
"Yusuf, terima kasih. Lagi-lagi kau membantuku," bisik Layla.
Yusuf tersenyum kecil sambil menyetir. "Jangan berlebihan. Di Manchester, kita mungkin bertengkar soal siapa yang punya trofi lebih banyak, tapi kita tidak membiarkan keluarga kita hilang di tengah malam. Lagipula, ini Ramadan. Pahala mencari fans United yang tersesat itu berlipat ganda, tahu."
Layla tertawa di tengah sisa tangisnya. Malam itu, di bawah bayang-bayang stadion yang membisu, Layla menyadari bahwa ujian Ramadan-nya bukan hanya tentang menahan lapar, tapi tentang menjaga sisa-sisa memori yang berharga sebelum semuanya benar-benar tertutup malam.
Sesampainya di rumah, mereka makan sahur dengan sederhana di meja makan yang sama. Hanya ada nasi, telur dadar, dan keheningan yang penuh syukur. Saat azan subuh berkumandang dari masjid di Eccles, Layla bersujud lebih lama dari biasanya. Ia bersyukur Allah masih memberinya waktu—waktu untuk mencintai ayahnya, dan waktu untuk tetap menjadi 'Merah' di kota yang terus berubah.
L
Proactive Follow-up: Lanjut ke Bab 8, di mana Layla mendapati bahwa kejadian "hilangnya" Malik justru membawa berkah tak terduga berupa tawaran dari yayasan Manchester United Foundation untuk ayahnya? #GGMU
