Waktu berputar cepat di Bumi Tabalong. Tahun 1941 tiba dengan membawa hawa kecemasan yang makin menebal di udara. Perang besar di Eropa sedang berkecamuk, dan desas-desus tentang pergerakan tentara Jepang di Asia pasifik mulai menjadi buah bibir rahasia di kedai-kedai kopi di seputar Tanjung. Namun, di sebuah rumah panggung ulin yang harmonis di kawasan Murung Pudak, ada berkah kecil yang menjadi pelipur lara segala ketegangan politik itu.
Pernikahan Muhammad Hifni dan Rina Rufida telah dikaruniai seorang putri kecil yang menggemaskan bernama Khalisah Salsabilla. Di usianya yang baru menginjak 6 tahun, Khalisah tumbuh menjadi bocah perempuan berpipi kemerahan yang cerdas. Warisan kecerdasan bahasa dari ibunya dan ketenangan dari ayahnya bersatu dalam dirinya. Namun, ada satu hobi serius dari si kecil ini yang sering membuat kedua orang tuanya mengelus dada sekaligus tertawa geli: Khalisah adalah seorang pecinta kucing sejati.
Bagi Khalisah, setiap kucing liar yang mengeong kelaparan di sepanjang jalanan Tanjung adalah sahabat yang harus ditolong. Rumah panggung mereka kini tak pernah sepi dari suara dengkuran halus makhluk berbulu itu.
"Ibu! Lihat, si belang ini kakinya pincang. Tadi dia menangis di bawah pohon karet," ujar Khalisah pagi itu, sambil menggendong seekor kucing lokal berbulu tiga (calico) yang kotor. Wajah polosnya mendongak, menatap Rina yang sedang menjahit baju.
Rina menghentikan kayuhan mesin jahitnya, lalu tersenyum lembut. "Astaga, Khalisah. Ini sudah kucing kelima yang kamu bawa pulang minggu ini. Kalau begini terus, jatah ikan peda untuk lauk Abahmu bisa habis diserbu pasukan berbulumu."
Tepat saat itu, Hifni melangkah masuk dari pintu depan, baru saja pulang dari kantor dinasnya. Wajahnya tampak sedikit lelah karena tumpukan berkas sensor surat kabar yang diperketat oleh pemerintah Hindia Belanda. Melihat putrinya sedang memeluk kucing kotor, Hifni langsung pura-pura memasang wajah serius.
"Wah, wah. Siapa lagi anggota baru di rumah kita ini, Khalisah? Apakah dia sudah punya surat izin tinggal dari Meneer Kontrolir?" goda Hifni sambil meletakkan tas kulitnya di atas meja.
Khalisah mengerucutkan bibirnya yang mungil, membuat pipinya makin tembam. "Kucing tidak perlu surat izin, Abah! Dia hanya perlu makan ikan asin. Tadi katanya dia mau belajar Bahasa Inggris juga sama Ibu, supaya kalau bertemu Meneer Belanda, dia bisa bilang 'Give me fish, please!'"
Tawa renyah Hifni dan Rina langsung pecah memenuhi ruangan. Komedi kecil yang diciptakan oleh kepolosan Khalisah selalu sukses menjadi oase penyejuk di tengah ketatnya tekanan hidup sebagai pegawai bumiputera yang terus dicurigai oleh intelijen kolonial (Politieke Inlichtingen Dienst / PID).
Namun, tawa mereka mendadak terhenti ketika terdengar ketukan pintu yang sangat keras dari arah bawah tangga rumah panggung mereka. Suaranya ritmis dan berat, pertanda tamu yang datang bukanlah tetangga Banjar biasa.
Hifni memberikan kode mata kepada Rina untuk segera membawa Khalisah masuk ke kamar dalam. Dengan langkah tenang namun waspada, Hifni berjalan menuju beranda dan membuka pintu.
Di hadapannya, berdiri Kapten De Vries, seorang perwira militer Belanda yang terkenal kejam dalam memburu para aktivis pergerakan, didampingi oleh dua tentara bersenjata laras panjang. Wajah De Vries tampak kaku dan dingin.
"Hifni," ucap De Vries tanpa basa-basi dalam bahasa Belanda yang tegas. "Kami menerima laporan bahwa istrimu masih sering mengadakan pertemuan rahasia dengan pemuda-pemuda di Murung Pudak dengan kedok kelas bahasa. Kami juga mencurigai ada dokumen terlarang dari Batavia yang disembunyikan di rumah ini. Kami harus menggeledah tempat ini sekarang."
Jantung Hifni berdegup kencang. Laporan itu tidak sepenuhnya salah. Di bawah salah satu papan lantai ulin di ruang tengah, Hifni memang menyembunyikan beberapa pamflet seruan kemerdekaan yang dikirim oleh jaringan pemuda nasionalis. Jika dokumen itu ditemukan, tamatlah riwayat keluarganya.
"Silakan, Kapten. Rumah kami terbuka. Kami tidak menyembunyikan apa pun selain barang-barang rumah tangga biasa," jawab Hifni dengan nada suara yang diatur se-tenang mungkin, mencoba mengulur waktu.
Para tentara itu langsung merangsek masuk. Mereka mengobrak-abrik lemari buku, membalikkan kasur, dan memeriksa setiap sudut ruangan dengan kasar. De Vries sendiri berjalan mendekati sudut ruang tengah, tepat di atas area papan lantai yang sedikit longgar—tempat dokumen rahasia itu berada.
Hifni menahan napas. Tangannya mengepal di balik saku beskapnya. Ia bersiap untuk kemungkinan terburuk jika rahasia itu terbongkar.
Pada detik-detik yang sangat menegangkan itu, seekor kucing calico kotor—yang tadi dibawa oleh Khalisah—tiba-tiba melompat keluar dari balik tirai kamar. Dengan langkah santai tanpa dosa, kucing itu berjalan mendekati sepatu lars mengkilap milik Kapten De Vries. Ia mulai menggosok-gosokkan badannya ke kaki sang kapten, lalu mengeluarkan suara dengkuran (purring) yang keras, seolah-olah perwira kejam itu adalah pemilik lamanya yang paling dirindukan.
De Vries tersentak. Ia menurunkan pandangannya. Ketegasannya sebagai tentara mendadak buyar melihat makhluk kecil yang begitu pasrah dan manja di kakinya.
Dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Khalisah tiba-tiba berlari keluar. "Kucing! Jangan nakal pada Tuan Besar!" seru Khalisah dengan polosnya.
Bocah kecil itu langsung berlutut di dekat sepatu De Vries, mendongak menatap wajah sang kapten dengan mata bulatnya yang jernih tanpa rasa takut. "Excuse me, Sir. My cat likes you. He thinks you are a good man," ucap Khalisah dengan pelafalan Bahasa Inggris yang sangat fasih, buah dari didikan ibunya.
Mendengar seorang anak kecil pribumi di pedalaman Tabalong berbicara Bahasa Inggris dengan begitu sopan dan fasih, Kapten De Vries tertegun luar biasa. Ego kolonialnya tersentuh. Rasa curiga yang tadinya memenuhi kepalanya perlahan mencair, digantikan oleh rasa kagum yang tak bisa disembunyikan.
De Vries berlutut kecil, menyamakan tingginya dengan Khalisah, lalu mengelus kepala kucing itu dengan ragu. "Your cat has a good taste, little girl. And your English is perfect," balas De Vries dengan senyum tipis yang jarang terlihat di wajah sangarnya.
Perwira itu bangkit berdiri, lalu menoleh ke arah Hifni yang masih berdiri tegang. "Hifni, seorang pemberontak tidak akan membiarkan anaknya merawat hewan dengan kasih sayang dan belajar bahasa internasional seperti ini. Kurasa informan kami telah salah memberikan data. Penggeledahan selesai."
De Vries memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk keluar dari rumah. Sebelum melangkah pergi, ia menaruh sebuah keping koin Gulden perak di atas meja. "Untuk membeli makanan kucing anakmu," ujarnya singkat, lalu berlalu pergi dikuti deru langkah tentaranya.
Setelah pintu ditutup, Hifni langsung lemas dan terduduk di kursi. Rina keluar dari kamar dengan air mata yang menetes karena lega, langsung memeluk Khalisah erat-erat.
"Alhamdulillah... Ya Allah," bisik Rina berulang kali.
Hifni menatap putrinya, lalu beralih menatap si kucing calico kotor yang kini sedang asyik menjilati kakinya di atas papan lantai terlarang itu. Siapa yang menyangka, di tengah kejamnya hukum kolonial, hobi polos seorang anak kecil dan seekor kucing liar justru menjadi perisai yang menyelamatkan nyawa mereka semua dari kehancuran.
Keluarga Hifni kembali selamat berkat keajaiban tak terduga. Namun, badai yang lebih besar kini sedang mengintai di cakrawala Tabalong seiring dengan makin dekatnya armada militer Jepang yang siap menggusur kekuasaan Belanda.
