Kisah Vania dan Lev mulai bersemi setelah pertemuan romantis di toko buku. Keduanya sepakat untuk tidak terburu-buru, melainkan saling mengenal lebih dalam lagi. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, entah itu diskusi proyek di sekolah, makan malam di tempat-tempat sederhana di Banjarmasin, atau hanya duduk berdua di kafe "Senja Martapura", menikmati senja di tepi Sungai Martapura.
Lev adalah pria yang dewasa dan penuh perhatian. Ia tidak pernah memaksa Vania, selalu memberinya ruang untuk berpikir dan merasa nyaman. Vania pun merasa semakin yakin bahwa Lev adalah pria yang tepat untuknya. Ia tidak lagi peduli dengan masa lalu Lev yang misterius, karena ia melihat ketulusan di mata Lev.
Suatu sore, saat mereka sedang makan malam di sebuah restoran terapung, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Seorang wanita cantik dengan gaya busana yang mencolok, tiba-tiba datang menghampiri meja mereka.
"Lev! Ini kamu, kan?" seru wanita itu, dengan suara yang riang.
Lev terkejut. "Sandra?"
Sandra, wanita itu, langsung memeluk Lev. Lev tampak canggung, dan Vania merasa tidak nyaman.
"Aku nggak nyangka bisa ketemu kamu di Banjarmasin!" Sandra melepaskan pelukannya, menatap Lev dengan mata berbinar. "Kamu ngapain di sini?"
"Aku... ada proyek," jawab Lev, matanya melirik ke arah Vania.
Sandra melihat Vania. "Siapa ini, Lev? Pacar baru?"
"Ini Vania. Rekan kerja saya," jawab Lev, berusaha terlihat profesional.
Vania tersenyum. "Halo, saya Vania."
"Oh, halo," jawab Sandra, dengan nada yang sedikit sinis. "Saya Sandra. Mantan pacar Lev."
Vania terkejut. "Mantan pacar?"
"Iya. Kami sudah pacaran lama, tapi putus karena aku harus ke luar negeri," Sandra menjelaskan. "Tapi sekarang, aku sudah kembali. Jadi, kita bisa balikan, kan, Lev?"
Vania merasa canggung. Ia menatap Lev, yang tampak gelisah.
"Sandra, kita sudah putus," kata Lev, dengan tegas.
"Tapi kan kita putusnya karena jarak, Lev," Sandra mencoba membujuk. "Bukan karena cinta kita sudah habis."
"Sandra, sudahlah," Lev mencoba mengakhiri pembicaraan. "Aku lagi makan sama rekan kerjaku."
Sandra menatap Vania dengan sinis. "Rekan kerja? Sejak kapan kamu tertarik sama rekan kerja, Lev?"
Vania merasa malu. Ia ingin pergi dari sana, tapi ia tidak tahu harus bagaimana.
"Sandra, tolong tinggalkan kami," kata Lev, dengan nada yang mulai meninggi.
Sandra menghela napas. "Oke, oke. Aku pergi. Tapi, Lev, ingat. Kita masih punya urusan yang belum selesai." Sandra tersenyum, lalu pergi.
Vania dan Lev terdiam. Suasana menjadi canggung.
"Maaf, Vania," Lev memecah keheningan. "Dia... memang seperti itu."
"Kalian... pacaran berapa lama?" tanya Vania, penasaran.
"Lima tahun," jawab Lev. "Tapi itu sudah lama sekali. Saya sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi sama dia."
"Tapi dia... sepertinya masih suka sama kamu," Vania berkata, dengan ragu.
"Saya tahu," Lev menghela napas. "Tapi saya sudah bilang, saya sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi sama dia. Saya tidak mau kembali ke masa lalu."
Vania merasa lega mendengar jawaban Lev. Tapi di sisi lain, ia juga merasa khawatir. Ia takut Sandra akan mengganggu hubungan mereka. Ia takut Lev akan goyah.
"Kamu percaya sama saya, kan?" tanya Lev, seolah tahu apa yang Vania pikirkan.
Vania mengangguk. "Tentu saja. Tapi... saya khawatir."
"Tidak perlu khawatir," Lev menggenggam tangan Vania. "Saya sudah memilih kamu. Saya tidak akan berpaling."
Vania tersenyum. Ia merasa tenang. Ia percaya kepada Lev. Ia yakin, Lev akan menjaga janjinya. Ia hanya bisa berdoa, semoga hubungan mereka tidak akan terganggu oleh masa lalu Lev yang belum selesai.
