Babak final Turnamen Petualang Agung Aethelgard telah tiba. Suasana di koloseum memanas. Ribuan penonton menantikan pertarungan puncak antara tim "Tiga Sekawan" dan tim "Dragon Slayer", tim petualang peringkat A yang sombong dan kuat, yang telah mengalahkan banyak monster legendaris.
"Dragon Slayer" dipimpin oleh seorang ksatria gagah berani bernama Sir Reginald, dengan pedang besar yang memancarkan aura suci. Di sisinya ada penyihir api dan pendeta penyembuh yang kuat.
“Pemenang turnamen ini akan mendapatkan hadiah utama dari Kerajaan Aethelgard dan gelar kehormatan!” pembawa acara mengumumkan dengan semangat. “Pertarungan final: ‘Tiga Sekawan’ melawan ‘Dragon Slayer’!”
Aturan final adalah pertarungan tim penuh 3 lawan 3. Mereka memasuki arena. Ketegangan terasa di udara.
“Mulai!”
Tim "Dragon Slayer" tidak membuang waktu. Sir Reginald menyerang Lev, sementara penyihir api dan pendeta support menyerang Vania dan Anastasya. Mereka terpisah.
Vania dan Anastasya sibuk menangkis serangan sihir api dan mencoba melewati perisai penyembuh pendeta. Lev harus menghadapi Sir Reginald sendirian.
Sir Reginald adalah ksatria sejati. Serangannya cepat, kuat, dan terkoordinasi. Pedang sucinya memaksa Lev bertahan dengan susah payah, mengandalkan kelincahan untuk menghindari tebasan mematikan.
“Sippy, Chicky, Bulby! Serang dia!” perintah Lev.
Monster unik Lev menyerang Sir Reginald. Tapi ksatria itu terlalu kuat. Dia menangkis Chicky dengan pedangnya, mengabaikan lendir Sippy yang licin, dan menghindari spora Bulby.
“Monster sirkusmu tidak akan mempan melawanku, anak muda!” ejek Sir Reginald.
Lev panik. Dia melihat artefak bola kristal panas-dingin di ranselnya. Ide gila muncul di benaknya.
“Anastasya, bisakah kau menyalurkan sihir es dan api ke bola kristal ini bersamaan?” teriak Lev.
“Ide gila! Itu bisa meledak!” jawab Anastasya sambil menangkis sihir api.
“Percayalah padaku! Kita butuh pengalihan besar!”
Anastasya mempercayai Lev. Dia menyalurkan sihir es dan api ke bola kristal yang dilempar Lev ke tengah arena. Energi campur aduk itu menciptakan pusaran energi kacau di tengah arena.
Tiba-tiba, ledakan energi besar terjadi, bukan ledakan fisik, tapi ledakan energi magis yang melumpuhkan semua sihir di arena sesaat. Para penyihir dari kedua tim terkejut, mantra mereka terputus.
“Sekarang!” teriak Lev. “Sippy, lendir licin maksimal ke arah tim ‘Dragon Slayer’!”
Sippy menciptakan area es super licin di bawah kaki tim "Dragon Slayer" yang masih kaget karena ledakan energi tadi. Sir Reginald dan timnya tergelincir dan jatuh bersamaan.
Vania dan Anastasya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Vania menembakkan rentetan panah ke arah mereka, dan Anastasya meluncurkan Void Blast terkuatnya.
Tim "Dragon Slayer" kalah telak, tumbang di lantai licin beraroma mawar.
“Pemenangnya: Tim ‘Tiga Sekawan’!” Pembawa acara mengumumkan.
Penonton terdiam sesaat, lalu bersorak gila-gilaan. Kuda hitam telah mengalahkan tim peringkat A!
Saat "Tiga Sekawan" merayakan kemenangan mereka, Sir Kael, Guild Master, berlari ke tengah arena dengan wajah panik.
“Semua, tenang! Ada penyusup!” teriaknya.
Dari arah kursi VIP bangsawan, beberapa pria berjubah hitam muncul. Mereka adalah agen "Shadow Void"! Mereka bergerak cepat ke arah Putri Kerajaan Aethelgard yang sedang menonton.
“Mereka mengincar sang putri!” Vania sadar.
“Ini konspirasi! Turnamen ini hanya pengalihan!” kata Lev.
Anastasya langsung bereaksi. “Kita harus menghentikan mereka! Abaikan kemenangan kita!”
“Tim ‘Tiga Sekawan’! Kita dalam mode misi nyata!” teriak Vania.
Mereka berlari ke arah agen "Shadow Void" yang sedang bertarung dengan penjaga kerajaan. Duel di arena turnamen berubah menjadi pertarungan hidup dan mati melawan organisasi jahat sungguhan. Momen slice of life dan komedi berakhir, digantikan oleh aksi RPG fantasi yang serius. "Tiga Sekawan" siap menghadapi Shadow Void di panggung terbesar Aethelgard.
