Bab 4: Rahasia Perut yang "Ekstra" dan Kejutan di Layar Monitor

Bab 4: Rahasia Perut yang "Ekstra" dan Kejutan di Layar Monitor

Lev
0
Ikuti perjalanan keluarga mereka dalam menyambut kehadiran anak kembar setelah perjalanan umrah. Sebuah kisah slice of life Islami tentang persaudaraan Khalisah dan Naura, hobi memelihara kucing, dan bumbu komedi kehidupan bertetangga.

Dua minggu setelah insiden "Duo Salsabilla" di klinik gigi drg. Dina, perut Rina Rufida mengalami perkembangan yang signifikan. Sebagai guru Bahasa Inggris, Rina mulai melakukan riset mandiri melalui berbagai jurnal kesehatan internasional. Ia merasa ada yang aneh. Baru memasuki awal trimester kedua, tapi ukuran perutnya seolah-olah sudah melompat ke bulan keenam.

"Bi, I think something is unusual," ujar Rina sambil mencoba mengancingkan rok kerja PNS-nya yang sudah tidak muat lagi. "Masa baru segini perut Umi sudah sebesar ini? Apa mungkin karena kebanyakan makan English Breakfast minggu lalu?"

Hifni, yang sedang merapikan tumpukan map diposisi di tas kerjanya, menoleh. Sebagai pria yang terbiasa dengan data statistik di kantor pemerintahan, ia mencoba berpikir logis. "Mungkin itu efek karena Umi bahagia, jadi nutrisinya terserap sempurna. Atau... mungkin faktor genetik?"

"Genetik dari mana? Di keluarga Umi nggak ada yang perutnya secepat ini besarnya," balas Rina sambil cemberut.

Di sudut kamar, Khalisah sedang sibuk mencoba memakaikan baju boneka ke kucingnya, Kiko. "Umi, kata Kiko di dalam situ adiknya ada banyak. Soalnya Kiko kalau hamil anaknya nggak pernah satu!" celetuk Khalisah polos.

Hifni dan Rina hanya tertawa kecil mendengar ocehan sulung mereka. Namun, rasa penasaran itu akhirnya membawa mereka kembali ke dokter spesialis kandungan pada sore harinya.

Suasana ruang tunggu rumah sakit cukup padat. Hifni duduk dengan tenang, meski sesekali ia melirik jam tangan, teringat ada laporan bulanan yang belum selesai. Tak lama kemudian, nama "Ibu Rina Rufida" dipanggil.

Di dalam ruang periksa, dr. Setiawan menyambut mereka dengan ramah. Rina berbaring di atas ranjang periksa, sementara cairan gel dingin mulai diusapkan ke perutnya. Layar monitor di samping mereka masih menampilkan gambar statis hitam putih yang buram bagi orang awam.

"Baik, kita lihat ya perkembangannya," ujar dokter sambil menggerakkan alat transduser.

Hening sejenak. Dokter Setiawan mengerutkan kening, lalu menggeser alatnya lebih lambat. Ia memperbesar gambar di layar monitor.

"Wah, Bapak Hifni, Ibu Rina... pantas saja perutnya cepat membesar. Ini hadiah luar biasa dari Allah pasca Umrah kemarin," dokter tersenyum lebar. "Lihat layar ini. Ini kantung pertama dengan satu janin... dan di sebelahnya, ada satu kantung lagi dengan janin kedua. Selamat, Anda akan punya bayi kembar!"

Rina menutup mulutnya dengan tangan, air matanya langsung tumpah. "Kembar, Dok? Twins?"

Hifni terpaku. Otak birokratnya yang biasanya cepat menghitung anggaran mendadak blank. Ia melihat dua titik kecil yang berdenyut di layar. Itulah jawaban dari setiap sujud panjangnya di depan Ka’bah. Dua nyawa sekaligus.

"Alhamdulillah ya Allah..." bisik Hifni parau. Ia menggenggam tangan Rina dengan erat.

"Dua, Dok? Berarti aku bisa gendong satu, Umi gendong satu?" tanya Khalisah yang sejak tadi menyelinap masuk ke dekat meja dokter.

"Iya, Kak Khalisah. Nanti adiknya ada dua," jawab dokter dengan ramah.

"Hore! Kiko harus tahu berita ini! Kita harus beli dua kandang... eh, maksudnya dua tempat tidur bayi!" seru Khalisah kegirangan.

Sepulangnya dari rumah sakit, Hifni dan Rina mampir ke sebuah toko perlengkapan bayi. Namun, sebelum masuk, mereka berpapasan dengan drg. Dina yang sedang mengajak Naura jalan-jalan di mall yang sama.

"Lho, Hifni? Rina? Habis kontrol ya?" tanya Dina ramah.

Rina, yang suasana hatinya sedang melambung tinggi karena kabar bayi kembar, langsung menjawab dengan bangga tanpa sisa kecemburuan dari bab sebelumnya. "Iya, Din. Alhamdulillah, Allah kasih 'bonus' luar biasa. Bayinya kembar!"

Mata Dina membelalak. "Masya Allah! Selamat ya! Kembar itu seru banget, tapi capeknya juga double."

"Nggak apa-apa, Din. Yang penting sehat," balas Hifni, kali ini lebih rileks.

Naura mendekati Khalisah. "Wah, nanti kamu punya dua adik? Namanya siapa?"

Khalisah berpikir sejenak, mengingat-ingat obsesinya pada kucing. "Namanya... yang satu harus ada unsur kucingnya, yang satu lagi harus ada unsur 'Salsabilla' biar kita bertiga makin kompak!"

Hifni langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar ide Khalisah. Ia membayangkan bagaimana reaksi teman-teman kantornya jika ia memberi nama anaknya "Kucing Salsabilla". Segera, ia menggandeng keluarga kecilnya menjauh, sambil berencana menyiapkan daftar nama Islami yang jauh lebih elegan untuk dipresentasikan pada "rapat keluarga" malam nanti.

Perjalanan sesungguhnya sebagai calon orang tua bayi kembar baru saja dimulai. Antara menyiapkan mental, biaya pendidikan ganda, hingga memastikan kucing-kucing mereka tidak merasa terpinggirkan.

Lanjut ke Bab 5: Nama yang Cantik dan Persaingan "Adik Berbulu"? Kita akan masuk ke momen pencarian nama Zayan dan Zayna serta bagaimana Khalisah mulai "melatih" kucingnya jadi penjaga bayi.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default