BAB 9: Di Ambang Pintu Langit (Fase Ihtidhar)

BAB 9: Di Ambang Pintu Langit (Fase Ihtidhar)

Lev
0
Simak kisah pilu Lev Ryley melepaskan Vania Larasati di Banjarbaru. Sebuah novel Islami tentang kanker dan keikhlasan. 

Banjarbaru, 20 September 2026

Malam ini, langit di atas Banjarbaru tampak begitu jernih. Lev Ryley berdiri di balkon lantai dua rumahnya, menatap ke arah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Namun, pandangannya seolah menembus waktu, kembali ke sebuah malam di bulan September sebelas tahun yang lalu, di mana udara terasa begitu berat dan oksigen seakan menolak masuk ke paru-parunya.

"September itu, Van... saat aku sadar bahwa cinta sehebat apa pun takkan bisa menahanmu jika Allah sudah memanggil namamu," gumam Lev. Di tahun 2026 ini, ia telah menjadi pria yang jauh lebih dewasa, namun setiap kali tanggal 20 September tiba, dadanya masih merasakan sesak yang sama—sesak saat ia harus membisikkan kalimat tauhid di telinga wanita yang paling ia cintai di tengah riuhnya bunyi mesin ICU.

Banjarbaru, September 2015

Ruang ICU RSUD Idaman adalah tempat di mana waktu seolah berhenti. Di sini, tidak ada siang atau malam, yang ada hanyalah cahaya lampu neon yang pucat dan bunyi bip yang ritmis dari monitor jantung. Vania Larasati terbaring di tengah kepungan kabel dan selang. Sebuah ventilator kini mengambil alih tugas paru-parunya untuk bernapas.

Lev Ryley duduk di kursi plastik di samping ranjang, mengenakan gaun pelindung steril yang terasa dingin. Wajahnya tampak sangat kuyu, matanya merah karena kurang tidur selama berhari-hari. Di tangannya, sebuah mushaf kecil yang sudah lembap oleh keringat digenggamnya erat.

Keluarga besar Vania berkumpul di luar ruangan, bergantian masuk untuk membacakan surah Yasin. Hadir pula Ustaz Mansyur, guru mengaji mereka, yang duduk di samping Lev.

"Lev," bisik Ustaz Mansyur lembut. "Tugasmu sekarang bukan lagi meminta dia bertahan. Tugasmu adalah mengantarnya dengan sebaik-baiknya. Bimbinglah jiwanya agar tetap terpaut pada cahaya-Nya."

Lev mengangguk lemah. Ia mendekat ke telinga kanan Vania. Meski mata gadis itu terpejam rapat dan tubuhnya tak lagi merespons rangsangan apa pun, Lev yakin jiwa Vania masih mampu mendengarnya.

"Vania... ini aku, Lev," suaranya bergetar, namun ia berusaha tegar agar tidak mengganggu ketenangan Vania. "Kamu sedang menempuh perjalanan yang sangat indah, Van. Jangan takut. Allah besertamu. Malaikat rahmat sedang menunggumu."

Lev mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan nada yang sangat menyayat hati. Ia membacakan surah Ar-Ra’d, ayat demi ayat tentang ketenangan hati bagi mereka yang beriman. Di saat yang sama, grafik pada layar monitor menunjukkan fluktuasi yang tajam. Tekanan darah Vania mulai menurun secara perlahan.

Tiba-tiba, mesin ventilator mengeluarkan bunyi alarm yang melengking. Suster dan dokter segera datang memeriksa. Ibu Vania yang baru saja masuk langsung jatuh pingsan di pelukan saudaranya. Suasana menjadi sangat kacau, namun Lev tetap tidak bergeming dari posisinya. Ia menggenggam jemari Vania yang kini sudah mulai membiru di bagian ujung kuku.

"Lailahaillallah..." bisik Lev tepat di lubang telinga Vania. "Lailahaillallah, Vania..."

Ia terus mengulang kalimat itu. Ia ingin kata terakhir yang masuk ke dalam kesadaran Vania adalah nama Sang Pencipta. Lev mengabaikan air mata yang membasahi masker medisnya. Ia mengabaikan rasa perih di dadanya yang seolah diremas-remas. Fokusnya hanya satu: memastikan kekasih jiwanya pergi sebagai seorang husnul khatimah.

Momen itu terasa sangat magis sekaligus tragis. Di satu sisi, ada alat-alat teknologi modern yang berusaha menahan nyawa seseorang, namun di sisi lain, ada kekuatan spiritual yang sedang mempersiapkan jiwa untuk terbang. Lev bisa merasakan denyut nadi di tangan Vania kian melemah, kian halus, hingga nyaris tak terasa.

"Pergilah, Vania... pergilah menuju taman-taman surga yang sering kita ceritakan dulu," bisik Lev di sela isaknya.

Tepat saat jarum jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari, grafik di monitor jantung perlahan-lahan merata. Bunyi panjang yang menyayat hati—peeeeeeeppp—memenuhi ruangan itu. Dokter mendekat, memeriksa pupil mata Vania, lalu menatap Lev dengan pandangan duka yang mendalam.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Vania Larasati telah tiada," ucap dokter pelan.

Dunia Lev Ryley seketika runtuh. Ia terdiam membatu. Meski ia sudah menyatakan rida di bulan Agustus, namun saat kematian itu benar-benar hadir di depan matanya, rasa sakitnya melampaui segala deskripsi kata. Ia mencium kening Vania yang mulai mendingin untuk terakhir kalinya.

"Selamat jalan, calon bidadari surgaku," batin Lev.

September 2015 di Banjarbaru ditutup dengan duka yang menyelimuti seluruh kota bagi mereka yang mengenal Vania. Dan bagi Lev, ini adalah awal dari sebuah babak baru: hidup tanpa cahaya yang selama ini ia perjuangkan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default