Memasuki bulan Rabiul Awal di tahun 2025, suasana di Kota Paringin, khususnya di Kabupaten Balangan, terasa jauh lebih religius dan semarak. Tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kalimantan Selatan memang selalu istimewa—penuh dengan lantunan syair-syair Barzanji, aroma masakan Samin yang menggugah selera, dan tentu saja, semangat gotong royong warga yang luar biasa. Namun, di Gang Rukun Roda, peringatan tahun ini mendapatkan tambahan "bumbu" kompetisi yang tidak biasa: Panitia Masjid Al-Akbar mengumumkan lomba menghias kendaraan roda dua untuk pawai keliling kota.
Bagi Haji Luqman dan Abah Zaki, pengumuman ini bukan sekadar ajakan untuk memeriahkan syiar Islam, melainkan deklarasi perang kreativitas antara kubu "Sayap Mengepak" dan "Garpu Tala".
Haji Luqman, dengan ketenangannya yang legendaris, mulai merancang konsep untuk Honda Vario miliknya. Ia tidak ingin hiasan yang terlalu mencolok atau norak. "Islam itu indah dan menyukai keindahan yang bersahaja," gumamnya sambil menempelkan stiker kaligrafi khufi yang berpendar saat terkena cahaya (glow in the dark) pada bodi motornya. Ia juga menambahkan keranjang bambu kecil di sisi motor yang diisi dengan kembang melati dan telur hias khas Maulid yang dibungkus kertas krep warna-warni. Baginya, Honda Vario ini harus tampil seperti seorang sufi: sederhana di luar, namun penuh makna di dalam.
Di sebelah rumah, Abah Zaki justru melakukan hal yang sebaliknya. Baginya, Yamaha N-Max adalah sebuah kanvas besar yang butuh ekspresi maksimal. Ia memasang sistem lampu LED yang bisa berganti warna sesuai ritme selawat yang diputar dari speaker tambahan di bagasi motornya. Tidak tanggung-tanggung, ia memasang replika miniatur kubah masjid yang terbuat dari bahan ringan di bagian jok belakang.
"Abah! Itu motor mau buat pawai atau mau buat panggung konser?" tegur Acil Imas saat melihat suaminya sibuk menyambungkan kabel-kabel listrik ke aki motor.
"Ini namanya syiar visual, Umanya Zaki! Di tahun 2025 ini, kalau tidak menarik perhatian, orang tidak akan menoleh. Dengan Yamaha N-Max yang 'glamour' begini, pesan-pesan selawat akan lebih mudah sampai ke telinga anak muda Paringin!" jawab Abah Zaki dengan penuh keyakinan.
Hari pawai pun tiba. Jalanan di sekitar pusat kota Paringin, mulai dari depan Kantor Bupati hingga area Jembatan Paringin, dipenuhi oleh lautan manusia. Ratusan motor berhias berkumpul. Haji Luqman dan Abah Zaki berdiri berdampingan di garis start.
Haji Luqman melihat ke arah motor Abah Zaki yang berkedip-kedip seperti pohon natal di tengah gurun. "Ki, apa tidak keberatan itu aki motornya menanggung beban kubah sebesar itu? Saya takut nanti di tengah jalan, Yamahanya malah mogok karena kehabisan napas elektrik."
Abah Zaki tertawa mantap. "Tenang, Ji. Teknologi Yamaha 2025 sudah sangat tangguh. Ini namanya pengorbanan demi seni religi. Nah, kalau motor pian, apa tidak terlalu sepi? Cuma stiker dan telur? Orang mungkin akan mengira pian sedang mau jualan telur di pasar, bukan mau pawai Maulid."
"Hahaha, biar saja, Ki. Yang penting telurnya berkah dan tidak tumpah," balas Haji Luqman kalem.
Pawai dimulai. Suara selawat menggema di sepanjang jalan. Warga Paringin keluar ke pinggir jalan, bersorak kegirangan melihat iring-iringan. Namun, ujian sesungguhnya datang saat rombongan harus melewati tanjakan di dekat area perbukitan menuju arah perumahan dinas.
Tiba-tiba, motor Abah Zaki mulai tersendat. Beban miniatur kubah yang cukup berat ditambah sistem audio yang menyedot daya aki besar mulai menunjukkan dampak. Suara shalawat dari speaker-nya mulai berubah menjadi parau, dan lampu LED-nya berkedip tidak beraturan. Uhuk... uhuk... Mesin Yamaha N-Max itu mendadak mati tepat di tengah tanjakan.
Abah Zaki panik. Ia berusaha menghidupkan mesin, tapi aki motornya sepertinya sudah "menyerah" pada beban estetika yang berlebihan. Sementara itu, Haji Luqman yang berada di belakangnya segera menepi. Dengan sigap, ia memarkir Honda Vario-nya yang tetap stabil meski membawa beban telur hias.
"Ayo, Ki! Jangan menyerah. Kita dorong bareng-bareng ke pinggir," ajak Haji Luqman.
Di pinggir jalan, di bawah tatapan warga yang melintas, Haji Luqman dan Abah Zaki bahu-membahu menurunkan replika kubah masjid yang berat itu. "Sudah saya bilang, Ki. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik dalam Islam. Kita niatnya mau memuji Rasulullah, tapi kalau malah menyiksa motor, jadinya malah mubazir daya," nasihat Haji Luqman sambil tersenyum tulus, tanpa ada nada mengejek.
Abah Zaki tertunduk malu, namun ia merasa tersentuh. "Iya, Ji. Saya khilaf. Terlalu semangat pamer teknologi sampai lupa kapasitas. Maafkan saya, Ji."
Dalam momen yang penuh haru itu, Haji Luqman mengeluarkan kabel jumper yang selalu ia simpan di bagasi Honda-nya—sebuah persiapan yang selalu ia lakukan karena sifat waspadanya. "Sini, kita pancing akinya pakai motor Honda saya. Biar 'Satu Hati' kita sambungkan ke mesin Yamaha pian, supaya ukhuwah kita kembali menyala."
Setelah beberapa saat, mesin Yamaha N-Max kembali menderu. Akhirnya, mereka melanjutkan pawai dengan cara yang berbeda. Kali ini, mereka tidak lagi bersaing. Replika kubah masjid diletakkan di pinggir jalan untuk diambil nanti, dan mereka berkendara berdampingan dengan kecepatan yang sama.
Di akhir acara di halaman Masjid Al-Akbar, panitia memang tidak mengumumkan mereka sebagai pemenang dekorasi terbaik. Namun, mereka mendapatkan penghargaan yang jauh lebih berharga: "Penghargaan Tetangga Paling Kompak". Ketua panitia mengatakan bahwa semangat mereka membantu satu sama lain saat terjadi kendala adalah esensi sejati dari ajaran Nabi Muhammad SAW.
Sore itu, sambil menikmati hidangan nasi samin di serambi masjid, Abah Zaki berbisik kepada Haji Luqman. "Ji, besok-besok kalau ada pawai lagi, saya mau hias yang sederhana saja. Yang penting bisa sampai garis finish bareng pian."
Haji Luqman menepuk pundak sahabatnya itu. "Nah, itulah inti dari Maulid, Ki. Meneladani sifat Rasulullah yang sederhana namun memberikan manfaat besar bagi sesama. Tidak peduli motornya Honda atau Yamaha, yang penting supirnya punya akhlak yang mulia."
Mereka pun pulang ke Gang Rukun Roda saat adzan Maghrib mulai berkumandang. Cahaya lampu dari Honda Vario dan Yamaha N-Max mereka kini menyinari jalan yang sama, menuju rumah yang bersebelahan, dalam sebuah harmoni yang diridhai oleh Allah SWT.
