Pagi itu, udara di Murung Pudak, Tabalong, terasa lebih sejuk setelah hujan mengguyur Bumi Saraba Kawa semalaman. Di rumah dinas sederhana milik Muhammad Hifni, suasana dapur sudah riuh. Rina Rufida sedang sibuk menyiapkan Gangan Asam ikan haruan, kuliner khas Kalimantan Selatan yang aromanya mulai menyeruak hingga ke teras depan.
Khalisah Salsabilla duduk di lantai dapur dengan wajah serius. Di depannya, si Jagau sedang menanti jatah potongan kepala ikan dengan sabar. "Bunda, apakah Snowee juga suka ikan haruan? Naura bilang Snowee cuma makan makanan kaleng yang baunya seperti roti," tanya Khalisah sambil mencolek hidung merah si Jagau.
"Snowee itu kucing kota, Sayang. Perutnya mungkin belum siap dengan pedasnya bumbu kuning kita," jawab Rina sambil tersenyum. Namun, pikirannya melayang pada pertemuan di Taman Giat kemarin. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya tentang drg. Dina Yulianti.
Tak lama kemudian, sebuah mobil SUV putih yang sudah sangat mereka kenal berhenti di depan pagar. drg. Dina Yulianti turun bersama Naura Salsabilla. Kali ini, Naura membawa keranjang piknik kecil.
"Assalamu’alaikum! Khalisah, aku bawa cupcake rasa salmon untuk Jagau!" seru Naura penuh semangat.
Hifni yang baru saja selesai mencuci motor dinasnya di samping rumah segera merapikan diri. Ia merasa sedikit canggung setiap kali Dina datang, terutama saat ia menyadari bahwa Rina selalu memperhatikannya dengan sudut mata yang tajam.
"Wa'alaikumussalam, Dok. Masuk, Dok. Wah, repot-repot sekali bawa oleh-oleh," ucap Hifni dengan nada sopan namun tetap menjaga jarak profesional.
Di teras, kedua Salsabilla itu segera menggelar tikar purun. Pertemuan antara Jagau, sang preman Murung Pudak, dan Snowee, sang putri bangsawan, kembali terjadi. Jagau tampak curiga dengan cupcake salmon pemberian Naura, sementara Snowee malah terlihat sangat tertarik dengan aroma ikan haruan dari dapur Rina.
"Lihat, Naura! Snowee mau jadi kucing Tabalong! Dia lebih suka bau haruan daripada kue kamu," goda Khalisah. Benar saja, Snowee mulai mengendus-endus ke arah pintu dapur, meninggalkan makanan mahalnya.
Sembari anak-anak asyik dengan kucing mereka, ketiga orang dewasa itu duduk di kursi rotan. Dina memberikan sebuah kotak kecil kepada Rina. "Ini untuk Bu Rina. Vitamin kulit dan pasta gigi khusus dari klinik saya. Sebagai tanda terima kasih karena Khalisah sudah menyelamatkan Snowee kemarin."
"Terima kasih banyak, Dok. Tapi ngomong-ngomong soal terima kasih..." Rina menjeda kalimatnya, menatap Dina dan Hifni bergantian. "Saya masih penasaran. Hifni bilang kalian teman lama di organisasi mahasiswa. Apakah dulu ada 'tradisi' memberikan nama Salsabilla untuk anak-anak kalian nantinya?"
Hifni hampir saja tersedak udara, sementara Dina hanya tersenyum tenang. "Sebenarnya, Bu Rina, nama itu adalah judul sebuah esai yang pernah Hifni tulis di majalah kampus dulu. 'Mata Air Salsabilla: Tentang Kejernihan Hati'. Esai itu sangat menginspirasi saya saat sedang terpuruk di tingkat akhir kedokteran. Jadi, saya berjanji jika punya anak, saya akan memberinya nama dari judul esai yang menyelamatkan semangat saya itu."
Hifni tertegun. Ia sendiri hampir lupa pernah menulis esai itu. Rina tampak sedikit lega mendengar penjelasan yang bersifat intelektual tersebut, meski insting kewaspadaannya tetap menyala.
Di luar, sebuah kejadian lucu terjadi. Jagau, yang awalnya gengsi, akhirnya mencoba mencicipi cupcake salmon milik Naura. Namun, karena tidak terbiasa dengan tekstur lembutnya, Jagau malah bersin hingga remah-remah kue itu menempel di kumisnya yang panjang.
"Hahaha! Jagau pakai bedak!" Naura tertawa terpingkal-pingkal.
"Naura, kucing kamu juga lucu! Lihat, Snowee mencoba memanjat pohon sawo tapi malah tersangkut!" balas Khalisah sambil menunjuk Snowee yang kaki belakangnya bergelantungan di dahan rendah.
Melihat tawa lepas kedua putri mereka, ketegangan di antara para orang tua perlahan mencair. Di Murung Pudak hari itu, mereka belajar bahwa masa lalu mungkin meninggalkan jejak berupa nama atau kenangan, namun masa depan adalah tentang bagaimana anak-anak (dan kucing-kucing) membangun jembatan persahabatan yang baru.
"Bah, sepertinya kita harus beli pohon sawo yang lebih kuat kalau Snowee mau sering main ke sini," celetuk Rina yang akhirnya ikut tertawa melihat tingkah konyol kucing-kucing tersebut.
Info Menarik untuk Pembaca:
Ikan Haruan (Gabus) yang disukai Jagau di Tabalong ternyata sangat baik untuk penyembuhan luka karena kandungan albuminnya yang tinggi. Jika Anda ingin memberikan ikan kepada kucing, pastikan ikan tersebut sudah matang dan durinya sudah dibuang untuk mencegah luka pada tenggorokan kucing.
Untuk perawatan bulu kucing agar tetap cantik seperti Snowee, Anda bisa mencari produk grooming terbaik di Lazada atau Shopee. Jangan lupa kunjungi Website Kabupaten Tabalong untuk mengetahui agenda wisata budaya dan kuliner di Bumi Saraba Kawa!
