Bab 9: Gerimis di Banjarmasin

Bab 9: Gerimis di Banjarmasin

Lev
0
BAGIAN 2: Jejak Kenangan di Tanah Banua (Bab 9-20)

Flashback — Tahun 2015.

Suasana Banjarmasin berbeda drastis dari Puruk Cahu yang tenang. Kota seribu sungai itu selalu hidup, ramai, dan kadang sedikit semrawut. Udara panas khas kota metropolitan Kalimantan Selatan sering diselingi hujan lebat yang tiba-tiba.

Di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Hifni muda adalah mahasiswa semester tiga Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Usianya 20 tahun, masih lugu, idealis, dan aktif di berbagai organisasi intra kampus, terutama organisasi kerohanian Islam (Rohis). Hifni adalah tipe pria pendiam yang lebih suka berbicara melalui tindakan nyata daripada kata-kata.

Sore itu, gerimis baru saja reda, menyisakan bau khas aspal basah di area kampus. Hifni sedang terburu-buru menuju Aula Serbaguna untuk rapat persiapan acara Islamic Youth Festival (IYF).

Di koridor gedung utama, pandangannya tak sengaja bertemu dengan sepasang mata indah di balik kacamata minus yang tebal. Mata itu milik seorang mahasiswi baru yang sedang sibuk membawa tumpukan buku dan proposal di tangannya.

Rina Rufida. Mahasiswi semester tiga dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Rina adalah tipe wanita cerdas, tegas, dan sangat terstruktur. Dia juga aktif di Rohis, tetapi di fakultas yang berbeda.

"Astaghfirullah!" seru Rina kaget saat tumpukan proposal di tangannya sedikit miring akibat berpapasan terlalu dekat dengan Hifni di koridor yang sempit. 

"Eh, maaf, saya buru-buru," kata Hifni, refleks membantu memungut beberapa lembar kertas yang jatuh ke lantai. Wajahnya langsung memerah karena malu. Dia jarang berinteraksi langsung dengan mahasiswi, apalagi yang secantik Rina.

"Iya, nggak apa-apa," balas Rina, sedikit judes karena panik dengan proposalnya yang mungkin basah terkena sisa air hujan di lantai. Dia mengecek satu per satu proposalnya.

Hifni memberanikan diri menatap Rina sejenak. "Anak FKIP ya?" tanyanya basa-basi.

Rina mengangguk singkat. "Iya. Anda FISIP?"

"Iya. Mau ke Aula Serbaguna juga?"

"Iya, rapat IYF," jawab Rina.

Hifni menghela napas lega. Setidaknya mereka punya tujuan yang sama. "Bareng aja, saya juga mau ke sana. Biar saya bantu bawakan bukunya."

Rina awalnya ragu, tapi melihat ketulusan Hifni dan tumpukan proposal yang memang berat, dia akhirnya mengizinkan. "Makasih ya."

Mereka berjalan beriringan menuju aula. Suasana canggung menyelimuti perjalanan singkat itu. Hifni terlalu gugup untuk bicara, sementara Rina terlalu fokus memikirkan materi rapatnya.

"Nama kamu siapa? Aku Hifni," Hifni memecah keheningan saat mereka hampir tiba di aula.

"Rina. Rufida," jawab Rina singkat.

Setibanya di aula, suasana sudah ramai. Panitia acara sudah menunggu. Hifni dan Rina langsung memisahkan diri, bergabung dengan divisi masing-masing—Hifni di Divisi Acara, Rina di Divisi Dana Usaha (Danus).

Selama rapat berlangsung, Hifni sesekali mencuri pandang ke arah Rina. Diam-diam, dia terpesona oleh cara Rina menyampaikan ide-ide fundraising yang kreatif dan terstruktur. Rina bukan hanya cantik, tapi juga cerdas dan berani bicara di forum.

Rina, di sisi lain, mulai menyadari keberadaan Hifni. Dia terkesan dengan ketenangan Hifni saat memediasi perdebatan antar divisi acara. Hifni tahu cara menenangkan suasana dengan argumen yang logis dan solutif.

Rapat selesai larut malam. Gerimis kembali turun, kali ini lebih deras. Banyak mahasiswa yang terjebak di aula.
Hifni melihat Rina duduk sendirian di pojokan, tampak gelisah. Dia mendekat.

"Nggak bisa pulang, Rina?"

"Iya nih, nggak bawa jas hujan. Kostanku lumayan jauh," keluh Rina.

Hifni berpikir sejenak. Dia hanya punya satu jas hujan ponco yang muat untuk satu orang. Tapi dia tidak tega melihat Rina kehujanan.

"Pakai jas hujan saya saja. Saya bisa lari-lari kecil nanti di belakang," tawar Hifni tulus.

Rina menolak. "Nggak usah, Hifni. Kamu nanti sakit."

"Nggak apa-apa. Kan sudah biasa olahraga. Kamu duluan aja, nanti aku nyusul," desak Hifni.

Akhirnya Rina menerima tawaran itu. Sebelum Rina pergi, Hifni berpesan, "Hati-hati ya. Kalau sudah sampai kostan, kabarin. Safety first."

Ucapan Hifni yang terdengar seperti perhatian seorang kakak atau teman dekat itu membuat hati Rina sedikit menghangat. Di bawah gerimis Banjarmasin, di tahun 2015 itu, percikan awal kisah mereka mulai menyala, walau Hifni sendiri belum menyadarinya. Pertemuan canggung di koridor dan kebaikan hati Hifni menjadi awal dari babak baru dalam hidup mereka berdua.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default