Ikuti kisah inspiratif, lucu, dan penuh makna 5 mahasiswi perantau di Banjarmasin tahun 2013. Perjuangan kuliah, persahabatan anak kos, hingga nilai-nilai Islami dalam balutan budaya Banjar.
Pukul 04.00 WITA. Alarm dari lima ponsel yang berbeda berbunyi hampir bersamaan di Kamar Nomor 5. Suasana yang biasanya masih hening dengan suara dengkur halus, mendadak berubah menjadi kegaduhan kecil.
"Bangun, bangun! Kena (nanti) kita ketinggalan fajar!" seru Rina Rufida sambil mengguncang bahu Dina yang masih terbungkus selimut tebal.
Hari ini adalah hari Minggu yang telah mereka rencanakan sejak sebulan lalu. Sebagai mahasiswi perantau, belum sah rasanya tinggal di Banjarmasin jika belum menginjakkan kaki di Pasar Terapung Muara Kuin. Di tahun 2013, pasar ini masih menjadi primadona yang otentik, sebelum pergeseran besar wisata ke arah siring kota.
Dengan mata yang masih setengah mengantuk, mereka berlima berangkat menggunakan dua motor bebek—satu milik Eva dan satu lagi pinjaman dari tetangga kos—serta satu angkot yang sudah dipesan sebelumnya. Dinginnya angin subuh Banjarmasin menembus jaket, namun semangat mereka mengalahkan rasa kantuk.
Kelotok dan Kabut Subuh
Sesampainya di dermaga kuintal, mereka menyewa sebuah kelotok (perahu mesin kayu). Suara mesinnya yang khas, "tok-tok-tok-tok", memecah kesunyian sungai Martapura yang masih diselimuti kabut tipis.
"Masya Allah, indahnya..." bisik Abdalia Ulfah saat melihat rona merah di ufuk timur mulai memantul di permukaan air.
Fatimah, sang penyair, sudah siap dengan kamera sakunya. "Lihat bagaimana air ini tidak pernah memprotes meski kita membelahnya dengan mesin. Ia tetap tenang, mencerminkan hati yang harusnya selalu rida pada ketentuan Allah."
"Fatimah, pagi-pagi jangan terlalu berat puitisnya, nanti kepalaku pening," seloroh Eva yang sibuk memastikan kamera ponselnya tidak lowbat.
Tak lama kemudian, pemandangan luar biasa muncul di depan mata. Puluhan jukung (perahu kecil) yang dikayuh oleh para Acil (ibu-ibu) Banjar mulai berkumpul. Mereka membawa hasil bumi: pisang, jeruk, sayur-mayur, hingga kue-kue tradisional yang dijajakan di atas air.
Tragedi "Bapanduk" dan Tawa di Atas Air
"Acil! Soto Banjar satu!" seru Dina penuh semangat.
Keunikan Pasar Terapung 2013 adalah sistem "Bapanduk" atau sarapan di atas perahu. Sebuah perahu yang menjual soto dan kopi merapat ke kelotok mereka. Saat hendak menerima mangkuk soto, kelotok mereka bergoyang terkena ombak dari perahu lain yang lewat.
"Aaaaa!" Dina menjerit kecil. Ia hampir saja terjungkal ke sungai jika Rina tidak sigap menarik jilbab belakangnya.
"Hati-hati, Din! Kamu mau jadi perawat gigi atau perawat ikan di dasar sungai?" canda Rina yang disambut tawa pecah para Acil pedagang.
Di tengah tawa itu, mereka menikmati soto Banjar yang hangat dengan kucuran jeruk nipis dan aroma kayu manis yang kuat. Makan di tengah sungai, di bawah langit subuh yang perlahan membiru, memberikan sensasi yang tidak bisa dibeli dengan uang kiriman bulanan mereka yang terbatas.
Pelajaran dari Para Pedagang Sungai
Sambil mengunyah wadai (kue) bingka, Abdalia memperhatikan seorang Acil tua yang tetap tersenyum meski dagangannya belum banyak yang laku.
"Acil, tidak capek setiap subuh begini mendayung?" tanya Abdalia ramah.
Acil itu tersenyum, menampakkan gurat wajah yang penuh perjuangan. "Ini ibadah, Nak. Mencari rezeki yang halal itu jihad. Selama sungai masih mengalir, rezeki Allah juga akan mengalir."
Kalimat sederhana itu menampar kelima mahasiswi tersebut. Mereka yang sering mengeluh tentang tugas kuliah yang menumpuk merasa malu di hadapan ketangguhan para wanita sungai ini.
"Kita belajar satu hal hari ini," ujar Rina saat kelotok mereka mulai bergerak pulang. "Kuliah kita mungkin berat, tapi perjuangan hidup orang-orang di pasar ini jauh lebih menantang. Kalau mereka bisa tetap tersenyum dan bersyukur, kenapa kita tidak?"
Pulang dengan Semangat Baru
Matahari sudah naik sepenggalah ketika mereka kembali ke darat. Bau bensin kelotok dan aroma sungai masih menempel di baju mereka, tapi ada sesuatu yang berbeda dalam pancaran mata kelimanya. Ada rasa syukur yang lebih dalam dan tekad yang lebih kuat untuk menyelesaikan semester pertama ini dengan gemilang.
"Minggu depan kita ke mana lagi?" tanya Dina yang sekarang sudah berani duduk di pinggir kelotok tanpa rasa takut.
"Tugas dulu diselesaikan, Din!" sahut Eva cepat. "Ingat, senin besok ada kuis algoritma!"
Kelima sahabat itu berjalan menjauh dari sungai, kembali ke hiruk-pikuk Kayutangi. Tahun 2013 mungkin akan berlalu, tapi memori tentang subuh di Muara Kuin akan terus mengalir dalam ingatan mereka, sekental air sungai Martapura yang tak pernah berhenti menghidupi kota ini.
Insight untuk Pembaca (Edisi 2026):
Pasar Terapung Muara Kuin: Merupakan pasar terapung legendaris yang kini statusnya lebih banyak sebagai cagar budaya karena pergeseran aktivitas ke Pasar Terapung Siring Tendean.
Kuliner Khas: Soto Banjar dengan ketupat dan kuah kental adalah menu wajib saat berwisata subuh di Banjarmasin.
Pesan Islami: Kisah ini mengajarkan tentang etos kerja (al-itqan) dan tawakal dari masyarakat lokal yang patut dicontoh oleh generasi muda.
Lanjut ke Bab 9: Sedekah Jumat: Indahnya Berbagi di Masjid Raya Sabilal Muhtadin...
Bagaimana kelima sahabat ini mengelola uang saku mereka yang pas-pasan untuk tetap bisa bersedekah? Ikuti terus kisah inspiratifnya!
