Keesokan harinya di kampus ULM, cerita tentang Hifni yang memberikan jas hujannya kepada Rina menyebar cepat di kalangan panitia IYF. Di lingkungan organisasi kampus yang menjunjung tinggi nilai Islami, tindakan Hifni dianggap sebagai bentuk perhatian yang santun dan gentleman.
Hifni sendiri merasa malu saat beberapa teman lelakinya menggodanya di sekretariat Rohis.
"Wah, Hif, sejak kapan kamu jadi romantis begitu? Sampai rela hujan-hujanan demi Rina anak FKIP," goda Faisal, sahabat karib Hifni.
Hifni hanya tersenyum salah tingkah. "Apaan sih, Faisal. Cuma bantu sesama muslimah yang kesulitan. Lagian, dia kan bawa proposal penting acara kita."
Namun, di dalam hatinya, Hifni tidak bisa memungkiri bahwa Rina Rufida memiliki daya tarik tersendiri. Ketegasan, kecerdasan, dan tatapan matanya yang tajam saat rapat meninggalkan kesan mendalam.
Di sisi lain, Rina juga mendapat godaan serupa dari teman-teman perempuannya di FKIP.
"Cieee, Rina. Dosen Bahasa Inggris masa depan, dianterin pulang sama Pangeran FISIP nih yee," ledek Sarah, teman sekostan Rina.
Rina hanya mendengus. "Dianterin apaan? Dia cuma kasih pinjam jas hujan. Aku yang nyetir motornya sendiri kok."
"Ya tetap aja, dia lari-lari di belakang kamu kan? Mana ada cowok yang mau begitu kalau nggak ada rasa," desak teman lainnya.
Rina mencoba bersikap netral. Baginya, Hifni adalah pria yang baik dan santun, tapi dia tidak mau terbawa perasaan. Fokus utamanya saat itu adalah kuliah, lulus tepat waktu, dan menggapai cita-citanya menjadi dosen PNS. Kisah cinta ala sinetron tidak ada dalam kamusnya. Dia butuh kepastian, bukan drama.
Interaksi mereka berlanjut selama persiapan IYF. Hifni sebagai koordinator acara sering berkoordinasi dengan Rina di divisi Danus. Koordinasi ini menjadi ajang bagi mereka untuk mengenal karakter masing-masing lebih dalam.
Hifni mengetahui bahwa Rina sangat perfeksionis. Semua laporan keuangan Danus harus rapi, terstruktur, dan tidak boleh meleset satu rupiah pun. Rina mengetahui bahwa Hifni adalah pemecah masalah yang luar biasa tenang. Saat terjadi konflik antar divisi, Hifni selalu bisa menemukan solusi win-win solution dengan kepala dingin.
Perbedaan karakter ini seringkali memicu perdebatan kecil yang lucu.
"Hifni, ini anggaran sewa sound system kayaknya kemahalan deh. Aku cek di luar bisa lebih murah lima puluh ribu," protes Rina saat rapat evaluasi di sekretariat Rohis.
"Iya, Rina, tapi yang ini kualitasnya terjamin dan bisa standby teknisinya 24 jam. Kita kan acaranya tiga hari penuh, butuh kepastian. Jangan cuma lihat murahnya saja," bela Hifni, mencoba menjelaskan rasionalisasinya.
"Tapi kan lima puluh ribu bisa buat nambah konsumsi panitia, Hifni," Rina tidak mau kalah.
Mereka berdebat kecil dengan data dan argumen masing-masing, sementara anggota panitia lain hanya bisa tersenyum melihat interaksi mereka yang intens.
"Kalian ini, berdebat terus, tapi kok serasi ya," celetuk Faisal, membuat Hifni dan Rina salah tingkah dan langsung menghentikan perdebatan mereka. Wajah Rina memerah, Hifni salah tingkah membenarkan letak pecinya.
Bukan cinta pandangan pertama, tapi sebuah proses pengenalan karakter yang mendalam. Mereka mulai menghargai kelebihan dan menerima kekurangan masing-masing. Hifni yang tenang melengkapi Rina yang ekspresif. Rina yang perfeksionis menyeimbangkan Hifni yang lebih fleksibel.
Acara IYF sukses besar. Di malam penutupan, suasana haru menyelimuti semua panitia. Hifni dan Rina berdiri berdampingan di barisan depan saat doa penutup dipanjatkan. Hati mereka bergetar, merasakan kedekatan yang berbeda dari sekadar teman organisasi.
Setelah acara selesai, Hifni memberanikan diri mendekati Rina yang sedang membereskan laporan akhir Danus.
"Rina, makasih ya atas kerja kerasnya di Danus. Laporanmu rapi sekali," puji Hifni tulus.
"Sama-sama, Hif. Makasih juga sudah jadi koordinator acara yang sabar hadapi drama," balas Rina, senyumnya kali ini sangat tulus, tidak ada kesan judes sedikit pun.
Malam itu, di bawah langit Banjarmasin yang bertabur bintang setelah suksesnya acara kampus, Hifni tahu bahwa perasaannya pada Rina bukan lagi sekadar kekaguman biasa. Dia mulai serius memikirkan Rina.
Bagi Rina pun, Hifni telah berubah dari sekadar 'cowok FISIP lugu yang kasih pinjam jas hujan' menjadi 'Hifni yang bertanggung jawab dan berintegritas'. Benih cinta yang Islami, yang tumbuh dari kekaguman akan akhlak dan kinerja, mulai bersemi di hati keduanya. Babak baru kisah mereka, yang akan menguji perasaan itu di medan KKN, sudah menanti di semester berikutnya.
