Samudra Hindia Tengah, Oktober 1795 Masehi
Kapal Bintang Samudera kini berada di titik yang paling sunyi di dunia. Tak ada lagi burung laut yang mengikuti, hanya hamparan air kelabu yang tampak tak berujung. Kebosanan mulai menyerang para jemaah. Di sinilah Muhammad Hifni, sang PNS Kesultanan yang berjiwa tertib, merasa harus turun tangan.
"Jika kita hanya diam menatap ombak, pikiran kita akan menjadi sarang setan, Rina," ujar Hifni sambil merapikan papan kayu yang ia jadikan meja tulis.
Hifni memutuskan membuka "Madrasah Samudra". Setiap pagi, di bawah bayangan layar utama, ia mengumpulkan anak-anak jemaah—termasuk Khalisa—untuk mengaji dan belajar berhitung. Metode Hifni unik; ia menggunakan butiran kacang hijau dan kerikil kecil untuk mengajarkan matematika dasar.
"Khalisa, kalau ada tiga unta di Mekah, lalu satu unta pergi membeli kurma, sisa berapa untanya?" tanya Hifni jenaka.
"Sisa dua, Abah! Tapi untanya hebat ya bisa belanja sendiri," jawab Khalisa yang disambut tawa anak-anak lain.
Namun, suasana damai itu pecah pada suatu siang yang terik. Dari arah barat, sebuah kapal perang besar dengan bendera Union Jack (Inggris) muncul di cakrawala. Kapal itu melaju cepat, memotong jalur Bintang Samudera.
"Kapal Inggris! Semuanya masuk ke dek bawah!" teriak Kapten Daeng Malaka dengan wajah tegang. Di masa itu, ketegangan antara Inggris dan penguasa lokal sering kali berakhir dengan penggeledahan kasar atau penyitaan muatan.
Hifni segera menggandeng Khalisa masuk, namun Rina Rufida justru berdiri tegak di samping Kapten. "Abah, bawa Khalisa. Biar aku yang bicara. I know their language," bisik Rina mantap.
Seorang perwira Inggris dengan seragam merah dan topi tinggi naik ke atas kapal. Ia tampak angkuh, memegang gagang pedangnya. "Who is the owner of this vessel? What are you carrying?" tanya perwira itu dengan suara menggelegar.
Kapten Daeng tampak gugup, tapi Rina melangkah maju. Ia membungkuk sedikit dengan sopan.
"Good day, Officer," sapa Rina. Logatnya mungkin bercampur Banjar, tapi keberaniannya tak terbantahkan. "This is a pilgrim ship. We go to Mecca for pray. We only carry rice, water, and... holy books."
Perwira itu terkejut. Ia tidak menyangka akan menemukan wanita berkerudung di tengah samudra yang fasih berbahasa Inggris. "You speak English, Madam? Where did you learn that?"
"From the traders in Martapura, Borneo," jawab Rina dengan senyum diplomatik. "We are peaceful people. If you want to check, please check, but we have no gold, only broken hearts that want to see God."
Mendengar kalimat terakhir Rina yang sedikit puitis (meskipun tata bahasanya agak berantakan), ketegangan di wajah perwira itu mencair. Ia melihat Khalisa yang mengintip dari balik pintu dek sambil memegang papan mengaji.
"Very well," ujar perwira itu sambil mengangguk. "Pass through. And... Godspeed for your pilgrimage."
Setelah kapal Inggris itu menjauh, Hifni keluar dengan napas lega. Ia menatap istrinya dengan rasa kagum yang tak terlukiskan. "Rina, kau baru saja menyelamatkan kita dari penggeledahan yang bisa memakan waktu berhari-hari. Sepertinya kursus bahasa Inggrismu di tepi sungai dulu benar-benar investasi yang mabrur."
Rina mengusap keringat di dahinya. "Itu bukan cuma bahasa, Abah. Itu doa yang dijawab. Tapi... my heart still beating fast, Abah. Rasanya mau copot!"
Oktober 2026
Zain sedang duduk di perpustakaan daerah Martapura, mencari referensi tentang hubungan dagang Banjar-Inggris abad ke-18 untuk melengkapi catatannya. Ia tersenyum membaca bagian ini.
"Nenek Rina benar-benar seorang diplomat tanpa gelar," gumam Zain.
Zain kemudian mengakses Portal Sejarah Digital Kalimantan (link simulasi) dan mengunggah Bab 10 ini. Ia menuliskan sebuah ulasan menarik:
Bab 10 mengajarkan kita bahwa 'soft skill' seperti bahasa asing bisa menjadi penyelamat nyawa di masa lalu. Muhammad Hifni mengajarkan ilmu agama, sementara Rina Rufida menjadi tameng diplomasi. Inilah kerja sama tim suami-istri yang sesungguhnya.
Postingan Zain memicu diskusi di kalangan mahasiswa di Banjarmasin. Banyak yang terinspirasi untuk belajar bahasa asing tanpa melupakan akar budaya mereka.
Zain menutup laptopnya, ia teringat ulekan batu yang dibawa Rina. Ia bertanya-tanya, apakah ulekan itu juga sempat dilihat oleh perwira Inggris tadi? Mungkin dikira senjata rahasia? Zain tertawa sendiri membayangkannya.
Intip Bab 11 (November 2026):
Misteri Laut Merah: Kapal mulai memasuki perairan yang lebih sempit dengan suhu udara yang sangat panas.
Khalisa dan Ikan Terbang: Khalisa yakin ikan-ikan yang melompat adalah "pesan" dari naga laut yang sudah menjadi teman.
Persinggahan Maladewa: Kejadian lucu saat Hifni mencoba menukar kain Banjar dengan kelapa laut yang ukurannya raksasa.
Pertanyaan untuk Pembaca: "Menurut kalian, skill modern apa yang paling berguna jika kalian tiba-tiba terlempar kembali ke tahun 1795?"
Sampai jumpa di Bab 11 pada bulan November 2026!
