Bab 10: Ceramah Dadakan Pak RT: Belajar Toleransi di Masyarakat Majemuk

Bab 10: Ceramah Dadakan Pak RT: Belajar Toleransi di Masyarakat Majemuk

Lev
0

Komplek PNS Harmoni Indah di Barabai, meskipun didominasi oleh warga Muslim, adalah miniatur kecil dari keberagaman Indonesia. Ada beberapa keluarga non-Muslim yang tinggal di sana, hidup berdampingan dengan damai selama bertahun-tahun. Keharmonisan ini tak lepas dari peran serta warga dan, anehnya, dari ceramah dadakan Pak RT yang seringkali out of the box.

Sabtu sore, setelah salat Asar berjamaah di musala komplek, bapak-bapak biasanya berkumpul sejenak di teras musala sambil menikmati kopi atau teh hangat yang disiapkan oleh ibu-ibu. Sore itu, topiknya adalah persiapan acara 17 Agustusan yang tinggal sebentar lagi.

Pak RT, Pak Hadi—pensiunan guru SD yang vokal itu—memimpin diskusi dengan semangat. "Bapak-bapak, seperti biasa, 17-an tahun ini harus meriah! Kita adakan lomba panjat pinang, sepak bola sarung, dan lomba makan kerupuk!"

Semua bapak-bapak menyambut dengan antusias, termasuk Hifni. Rio, staf honorer Hifni, mengusulkan, "Pak RT, gimana kalau lomba panjat pinangnya kita campur pesertanya? Yang menang nanti surprise hadiahnya."

Saat sedang asyik berdiskusi soal hadiah lomba, tiba-tiba Pak RT mengubah topik pembicaraan. Wajahnya berubah serius.
"Bapak-bapak," ujarnya dengan suara yang sedikit berat, "Saya mau ngomong sedikit soal toleransi."

Semua bapak-bapak terdiam, sedikit bingung. Topik ini jarang sekali diangkat secara formal di pertemuan santai seperti itu.

"Di komplek kita ini, ada keluarga Pak Frans dan Bu Maria, yang non-Muslim. Mereka sudah belasan tahun jadi tetangga kita. Mereka baik, ikut kerja bakti, ikut jaga malam, ikut iuran komplek," Pak RT memulai ceramahnya.

"Beberapa hari lalu, saya dengar ada sedikit perbincangan ndak enak soal acara Natal mereka nanti akhir tahun. Ada yang bilang ndak boleh bantu, ndak boleh ucapkan selamat, dan lain-lain," lanjut Pak RT, matanya menatap tajam ke beberapa bapak-bapak.

Hifni melirik ke arah Pak Dadang, rekan kerjanya yang memang terkenal agak konservatif. Pak Dadang terlihat salah tingkah.

"Bapak-bapak, kita ini hidup di Indonesia, di Barabai. Kita hidup berdampingan. Islam itu agama yang rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam. Allah mengajarkan kita untuk berbuat baik sama tetangga, siapa pun agamanya," Pak RT melanjutkan, suaranya mulai berapi-api seperti sedang mengajar di kelas dulu.

"Toleransi itu bukan berarti kita ikut ibadah mereka, bukan berarti kita jadi sama keyakinan. Toleransi itu menghargai. Menghargai mereka merayakan hari besar mereka dengan tenang, tanpa kita ganggu. Menghargai mereka sebagai manusia, sebagai tetangga kita," jelas Pak RT.

"Kalau mereka butuh bantuan pas ada acara, ya kita bantu tenaganya, bantu bikin panggung 17-an, bantu jaga keamanan. Itu namanya hablumminannas, hubungan baik antar manusia. Agama kita mengajarkan itu!"

Bapak-bapak di sana mendengarkan dengan saksama. Ceramah dadakan Pak RT, meskipun disampaikan dengan gaya yang sedikit lucu dan penuh celetukan khas Barabai, berhasil menyentuh inti permasalahan.

"Jadi, saya tekankan, 17-an nanti Pak Frans dan keluarganya wajib kita ajak ikut lomba juga. Mereka bagian dari kita. Mari kita tunjukkan bahwa Komplek Harmoni Indah ini benar-benar harmonis, damai, dan jadi contoh toleransi di Barabai," tutup Pak RT, mengakhiri ceramah dadakannya yang inspiratif.

Malam harinya, di rumah Hifni, Rina sedang menjahit kecil baju Khalisa yang sobek. Hifni menceritakan ceramah dadakan Pak RT sore tadi.

Rina tersenyum bangga mendengar cerita suaminya. "Pak RT itu memang unik, Bi. Gayanya lucu, tapi pesannya dalam banget. Pas banget sama ajaran Islam kita."

"Iya, Mi. Abi jadi ingat, besok mau jenguk Pak Frans. Katanya istrinya, Bu Maria, lagi sakit tipes," kata Hifni.

"Nah, itu baru namanya PNS Islami yang baik. Menjaga hubungan baik sama tetangga, tanpa pandang bulu," puji Rina. 

Esok harinya, Hifni dan Rina menyempatkan diri menjenguk Bu Maria di rumahnya. Mereka membawakan buah tangan dan mendoakan kesembuhan, tanpa canggung dengan perbedaan keyakinan mereka. Pak Frans dan Bu Maria terlihat sangat terharu dengan kunjungan keluarga Hifni.

"Terima kasih banyak, Pak Hifni, Bu Rina. Baik sekali sudah menyempatkan datang," kata Pak Frans tulus. 

Di Komplek Harmoni Indah, kehidupan terus berjalan dengan dinamis. Ada drama arisan, ada salah kirim email, ada godaan suap, ada anak sakit, tapi di atas semua itu, ada benang merah kuat yang mengikat mereka: kehangatan bermasyarakat dan semangat toleransi yang diajarkan oleh pemimpin informal mereka seperti Pak RT dan Haji Saleh, serta dipraktikkan oleh keluarga-keluarga seperti Hifni dan Rina.

Mereka belajar bahwa menjadi Muslim yang baik berarti menjadi tetangga yang baik pula, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, dan hidup berdampingan dengan damai di bawah panji keberagaman Indonesia, di kota kecil Barabai yang mereka cintai.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default