Bab 13: Ketika Levℛyley Ikut Demam Live Shopping

Bab 13: Ketika Levℛyley Ikut Demam Live Shopping

Lev
0

Banjarmasin sedang diguyur hujan deras sore itu. Aktivitas di luar rumah terhenti, membuat semua anggota keluarga Levℛyley berkumpul di ruang keluarga. Anindya sedang sibuk mengurus pesanan produk musala online yang membludak pasca-liputan TV. Ghina sibuk mengedit video review terbarunya. Aisyah dan Maryam membaca buku. Hanya Levℛyley yang tampak gelisah, sesekali melirik ponselnya.

Biasanya, Levℛyley adalah benteng terakhir pertahanan melawan budaya belanja konsumtif. Prinsip syariah dan kehati-hatiannya selalu jadi rem pakem bagi Anindya. Namun, sore itu, ada yang berbeda dari raut wajahnya.

"Mas, kenapa? Dari tadi kok kayak cacing kepanasan lihat HP?" tanya Anindya, curiga.

Levℛyley tersentak. "E-enggak kok, Bu. Ayah cuma lagi... cek grup kantor. Ada diskusi penting soal server baru."

Anindya menyipitkan matanya, tahu ada yang disembunyikan suaminya.

Malam harinya, setelah salat Isya, Anindya mendengar suara aneh dari kamar mandi. Seperti suara orang berbisik tapi panik. Dia mendekat perlahan, dan terkejut melihat Levℛyley sedang berbicara serius di ponselnya, dengan ekspresi tegang.

"Iya, iya, saya mau yang model terbaru. Diskonnya berapa persen? Stoknya masih ada? Jangan sampai kehabisan!" bisik Levℛyley.

Anindya membuka pintu kamar mandi perlahan. "Mas Lev, kamu ngapain di kamar mandi sambil telepon belanja?"

Levℛyley langsung melompat kaget, ponselnya hampir jatuh ke kloset. "Astaghfirullah, Bu! Ngagetin aja. Ayah lagi... lagi pesan... eh, filter air terbaru!"

Anindya tidak percaya begitu saja. Suaminya yang sangat konservatif soal belanja online, kini malah panik live shopping di kamar mandi. Dia merebut ponsel suaminya.

"Masya Allah, Mas! Kamu live shopping alat pancing casting terbaru dari Jepang?!" seru Anindya, matanya membesar. Ternyata, Levℛyley punya hobi tersembunyi memancing, dan dia sedang mengincar joran (alat pancing) langka yang hanya dijual terbatas secara live dengan diskon besar.

Wajah Levℛyley memerah. "Iya, Bu. Tadi iklannya muncul di feed Ayah. SEO marketing mereka jago banget, tahu Ayah suka mancing. Diskonnya cuma dua jam lagi. Ayah kan jarang-jarang belanja, Bu."

Semua anak, yang mendengar keributan itu, langsung berkumpul di kamar mandi. Mereka menertawakan ayah mereka yang kini terjerat dalam pesona live shopping yang selama ini ditentangnya.

"Ayah, Ayah... katanya COD lebih utama, katanya kehati-hatian, kok sekarang malah panik live shopping?" goda Aisyah sambil tertawa.

"Iya, Yah! Pakai metode pembayaran apa nih? Transfer instan kan? Nggak COD?" tambah Ghina, tak mau ketinggalan menggoda ayahnya.

Levℛyley hanya bisa pasrah. Akhirnya, dengan bantuan Anindya yang jago checkout cepat, joran impiannya berhasil didapatkan sebelum diskonnya habis. Pembayarannya pun menggunakan transfer instan.

Beberapa hari kemudian, paket raksasa dari Jepang mendarat di rumah mereka. Pak Ahmad kurir sampai heran melihat paket alat pancing sebesar itu.

"Wah, Pak Lev, kali ini mancingnya di Samudra Hindia kayaknya," canda Pak Ahmad.

Levℛyley hanya tersenyum malu. Malam itu, di ruang keluarga, dia dengan bangga menunjukkan joran barunya kepada anak-anaknya, sambil sesekali melirik Anindya yang tersenyum penuh kemenangan.

"Tuh kan, Mas. Sekali-kali belanja online buat hobi itu nggak salah kok, asal tahu batasannya. Yang penting, tokonya terpercaya dan produknya ori," kata Anindya.

Levℛyley mengangguk, mengakui kekalahannya. "Iya, Bu Anindya, iya. Kamu memang ratu online shop yang paling jago. Tapi lain kali jangan di kamar mandi belanjanya ya, kesempitan."

Keluarga itu kembali tertawa. Drama belanja online memang tak pernah ada habisnya di rumah mereka. Tapi di balik setiap paket yang datang, ada cerita baru, tawa baru, dan pelajaran baru tentang keseimbangan hidup di era digital, bahkan untuk seorang ayah yang paling teguh pendiriannya sekalipun.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default