Banjarbaru, 20 Oktober 2026
Hari ini adalah sebelas tahun tepat sejak bumi Banjarbaru memeluk raga Vania Larasati. Lev Ryley berdiri mematung di depan sebuah nisan batu marmer yang mulai berlumut tipis. Angin Oktober berhembus kencang, membawa aroma bunga kamboja yang menusuk kalbu. Di tahun 2026 ini, Lev tidak lagi menangis tersedu-sedu seperti dulu, namun lubang di hatinya tetap menganga, persis seperti lubang lahat yang ia lihat pada tanggal yang sama di tahun 2015.
"Hari itu, Van... aku tidak hanya mengubur jenazahmu. Aku juga mengubur separuh dari nyawaku sendiri," bisik Lev sambil meletakkan seikat bunga mawar putih yang masih segar di atas pusara.
Banjarbaru, 20 Oktober 2015
Langit Banjarbaru seolah tahu bahwa hari ini seorang bidadari dunia sedang dipulangkan. Sejak subuh, mendung tebal menggantung rendah, dan gerimis tipis mulai membasahi aspal Jalan Ahmad Yani. Di rumah duka, suasana begitu mencekam oleh kesedihan. Lev Ryley, dengan mata yang bengkak dan wajah yang pasi, duduk di samping keranda hijau yang membungkus kaku tubuh Vania.
Prosesi pelepasan jenazah selesai dilakukan. Lev bersikeras untuk menjadi salah satu pengusung keranda. Bahunya terasa berat, bukan karena beban kayu dan raga di dalamnya, melainkan karena beratnya kenyataan bahwa ini adalah perjalanan terakhirnya mengawal Vania di dunia.
Iring-iringan mobil jenazah bergerak pelan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) di kawasan Banjarbaru. Di sepanjang jalan, Lev hanya menatap ke luar jendela, melihat pepohonan yang berlari menjauh, menyadari bahwa setiap detik membawanya lebih dekat pada perpisahan yang permanen.
Sesampainya di pemakaman, aroma tanah basah yang khas menyambut mereka. Liang lahat itu sudah menganga, sebuah lubang gelap sedalam dua meter yang digali di tanah merah Kalimantan yang liat. Hujan yang tadinya gerimis kini turun lebih deras, membuat tanah di pinggiran lubang menjadi licin dan becek.
"Lev, apakah kamu sanggup turun?" tanya paman Vania lembut, menyentuh bahu Lev yang bergetar.
Lev mengangguk mantap. Ia ingin tangan inilah yang terakhir kali menyentuh Vania. Ia ingin dadanyalah yang menjadi sandaran terakhir sebelum tanah menutupi segalanya.
Dengan bantuan beberapa kerabat, Lev turun ke dalam lubang sempit itu. Dinginnya tanah mulai meresap ke dalam kain celananya, namun ia tak peduli. Perlahan, jenazah Vania yang terbungkus kain kafan putih bersih diturunkan. Lev menyambutnya dengan tangan gemetar. Saat raga yang kaku itu bersentuhan dengan lengannya, sebuah jeritan tanpa suara meledak di dalam dada Lev.
Ya Allah, ini benar-benar terjadi... batinnya menjerit.
Sesuai tuntunan syariat, Lev perlahan membuka tali pocong di bagian kepala. Dengan jari-jari yang kaku karena menahan tangis, ia memiringkan tubuh Vania agar wajahnya menyentuh tanah, menghadap kiblat. Itulah saat terakhir Lev melihat wajah Vania. Meski tertutup kapas di beberapa bagian, Vania tampak begitu tenang, seolah ia hanya sedang tidur pulas setelah lelah bertarung melawan kanker yang menyiksanya setahun ini.
"Selamat istirahat, kekasihku... bidadariku..." bisik Lev tepat di depan wajah Vania sebelum ia meletakkan gumpalan tanah sebagai penyangga.
Lev naik ke atas dengan bantuan tangan orang lain, tubuhnya kotor oleh tanah merah. Dan kemudian, bunyi yang paling menyakitkan dalam hidupnya terdengar: suara tanah yang jatuh menghantam papan penutup liang lahat. Buk... buk... buk...
Setiap lemparan tanah dari sekop para penggali kubur terasa seperti hantaman palu besar ke jantung Lev. Ia melihat kaki Vania menghilang tertutup tanah, kemudian pinggangnya, dan terakhir... wajahnya. Dalam hitungan menit, sosok yang biasanya memberikan senyuman paling cerah itu kini telah tertimbun di bawah gundukan tanah merah yang basah.
Ibu Vania jatuh pingsan saat nisan kayu pertama ditancapkan. Lev sendiri hanya bisa bersimpuh di samping gundukan itu. Ia tidak peduli bajunya kotor, ia tidak peduli hujan membasahi seluruh tubuhnya. Ia meletakkan telapak tangannya di atas tanah yang masih empuk itu, mencoba merasakan sisa-sisa keberadaan Vania.
"Vania... aku rida. Aku rida Allah memilikimu sepenuhnya sekarang," ucap Lev di tengah isak tangis yang akhirnya pecah tak terkendali. Suaranya tenggelam di antara suara rintik hujan dan lantunan doa talqin yang dibacakan oleh ustaz.
Bunga-bunga tujuh rupa ditaburkan, menyebarkan aroma wangi yang aneh di tengah suasana duka. Satu per satu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman karena hujan kian lebat, namun Lev tetap di sana. Ia menjadi orang terakhir yang meninggalkan makam itu.
Saat ia melangkah keluar dari area pemakaman, Lev menoleh sekali lagi ke belakang. Di sana, di bawah naungan pohon kamboja, Vania Larasati yang berusia 20 tahun kini telah kembali ke asalnya. Banjarbaru menjadi saksi bahwa pada 20 Oktober 2015, seorang pemuda bernama Lev Ryley telah kehilangan dunianya, namun ia menemukan sebuah arti dari iman yang paling murni: bahwa mencintai karena Allah berarti harus siap melepaskan saat Allah memanggilnya kembali.
