Meskipun keluarga Al-Fikri adalah keluarga Muslim yang taat dan menjalani kehidupan di Paris dengan penuh dedikasi pada nilai-nilai mereka, kecintaan mereka pada budaya pop global dan selebriti terkadang menjadi sumber perdebatan yang paling sengit, lucu, dan penuh gairah di meja makan.
Malam itu, makan malam berlangsung damai—ayam panggang dengan herba Provence yang harum. Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama. Imran membuka kotak Pandora.
"Kalian tahu," kata Imran, sambil memotong paha ayamnya, "Aku baca berita tadi, Dwayne Johnson menyumbang jutaan dolar untuk amal. Pria itu, di balik ototnya, punya hati emas. Dia inspirasi sejati. Disiplin, kuat, dermawan."
Aisha meletakkan garpunya. "Oh, Imran, jangan mulai. Tentu saja dia baik. Tapi 'inspirasi sejati'? Beyoncé-ku mendirikan yayasan untuk perempuan muda kulit hitam di Amerika yang nilainya jauh lebih besar. Dia memberdayakan perempuan, Imran. Kekuatan nyata bukan otot, tapi pengaruh sosial."
Imran mendengus geli. "Pengaruh sosial? Bisakah Beyoncé mengangkat truk yang terguling sendirian? The Rock bisa! Itu kekuatan nyata yang bisa melindungi keluarga."
Zahra, si sulung, yang sedang sibuk dengan laptopnya, melirik. "Maaf, Ayah, Ibu, tapi pengaruh terbesar ada di fashion dan seni visual. Lihat bagaimana fashion icon papan atas bisa mengubah cara pandang orang tentang estetika dan identitas. Itu abadi. The Rock mungkin kuat sekarang, tapi fashion tetap relevan selamanya."
Tariq, yang biasanya diam saat perdebatan orang tua, merasa terpanggil. "Fashion? Ayolah, Kak Zahra. Apa yang lebih abadi dari olahraga? Sepak bola menyatukan dunia. Messi adalah duta perdamaian global setiap kali dia mencetak gol. Jutaan orang melupakan perbedaan mereka selama 90 menit pertandingan. Itu dampak nyata!"
Perdebatan memanas. Layla dan Omar, si bungsu, bingung.
"Aku suka Elsa," kata Layla dengan suara kecil. "Dia baik dan dia nyanyi."
"Aku suka astronot," tambah Omar. "Mereka menjelajahi luar angkasa."
"Lihat!" kata Imran, menunjuk Layla dan Omar. "Anak-anak punya idola yang jelas!"
Aisha menggelengkan kepalanya. "Kalian semua salah fokus. Intinya bukan siapa yang lebih baik, tapi apa yang mereka wakili. The Rock mewakili ketekunan fisik. Beyoncé mewakili kemandirian. Messi mewakili bakat alami. Semuanya adalah manifestasi dari bakat yang diberikan Allah SWT.
Imran mengangguk, sedikit melunak. "Ya, kamu benar, Aisha. Tapi tetap saja, The Rock itu punya karisma yang luar biasa...
"Hanya karena dia sering pamer otot," potong Aisha cepat.
Tiba-tiba, telepon rumah berdering. Imran mengangkatnya. Itu Bapak Mahmud dari komite masjid.
"Imran, bisakah kamu datang sebentar? Kita ada masalah kecil dengan genteng masjid yang bocor, dan butuh saran arsitek ahli segera."
Imran melihat jam. Sudah larut malam. Tapi ini panggilan tugas dari komunitas.
"Tentu, Pak Mahmud. Saya datang sekarang," jawab Imran.
Dia menutup telepon, mengambil jaketnya. "Tugas memanggil, chéri. Genteng masjid bocor."
Aisha tersenyum dan memberinya kunci mobil. "Hati-hati, Pahlawan Otot."
Imran pergi, dan perdebatan selebriti berhenti seketika.
Zahra, Tariq, Layla, dan Omar melihat orang tua mereka.
Mereka menyadari bahwa di balik semua idola global dan selebriti terkenal di dunia, pahlawan sejati mereka adalah Ayah dan Ibu mereka sendiri. Mereka mungkin berdebat tentang The Rock atau Beyoncé, tapi ketika komunitas membutuhkan, mereka selalu ada.
Imran mungkin tidak sekuat The Rock secara fisik, tapi dia kuat dalam tanggung jawab. Aisha mungkin tidak sekaya Beyoncé, tapi dia kaya akan kasih sayang dan kontribusi.
Malam itu, keluarga Al-Fikri belajar bahwa inspirasi bisa datang dari layar lebar atau lapangan hijau, tapi cinta dan pengabdian sejati datang dari rumah, dari tindakan nyata orang tua mereka setiap hari di jantung kota Paris.
