Tidak ada keluarga yang sempurna, begitu pula keluarga Rahmat. Di balik tawa dan kebersamaan, konflik kecil wajar terjadi, terutama antara Sarah dan Aisyah yang sedang memasuki usia dewasa muda dengan ego masing-masing. Kali ini, percikan konflik dipicu oleh hal yang paling remeh namun paling sering jadi biang kerok di rumah itu: makanan.
Ceritanya, Sarah sudah lama menyimpan sepotong Dubai Chocolate buatannya yang paling sempurna di kulkas, ditandai dengan kertas catatan kecil bertuliskan "JANGAN DIMAKAN! Punya Sarah!". Cokelat itu rencananya akan dia gunakan sebagai garnish untuk tugas kuliahnya.
Sore itu, Sarah hendak mengambil cokelatnya. Namun, saat membuka kulkas, dia terkejut. Cokelatnya raib. Hanya tersisa remahan kecil di atas piring bekasnya. Sarah langsung tahu siapa pelakunya.
Dengan wajah cemberut, Sarah menghampiri Aisyah yang sedang asyik bermain ponsel di ruang tengah.
"Aisyah! Mana Dubai Chocolate aku yang di kulkas?" tanya Sarah dengan nada tertahan.
Aisyah, yang baru saja menghabiskan suapan terakhir cokelat tersebut, sedikit kaget. "Oh... yang di piring itu? Udah habis, Kak. Enak banget, enggak kuat nahan godaan."
Mata Sarah membulat. "Kan sudah aku kasih label JANGAN DIMAKAN! Itu buat tugas kuliah aku, Aisyah!"
"Ya ampun, Kak, cuma sepotong cokelat doang, lebay banget sih. Nanti aku ganti, aku bikinin lagi," balas Aisyah santai, meremehkan betapa sulitnya membuat cokelat dengan tempering sempurna itu.
"Kamu gampang bilang ganti! Kamu enggak tahu susahnya bikin cokelat itu! Kamu selalu seenaknya sendiri!" Sarah mulai meninggikan suaranya, emosinya memuncak.
Aisyah yang merasa diserang balik, ikut kesal. "Kakak juga pelit! Cuma gara-gara cokelat doang marah-marah. Lagian kan buat tugas, bisa bikin lagi. Enggak usah nyalahin aku terus!"
Pertengkaran kecil antara dua saudara perempuan itu pun terjadi. Ayah Rahmat dan Ibu Salma yang sedang berada di kamar, mendengar keributan itu dan segera ke ruang tengah. Zaki yang sedang bermain game pun ikut menghentikan aktivitasnya.
"Ada apa ini? Kok ribut-ribut?" tanya Ayah Rahmat, mencoba melerai.
Sarah dengan wajah merah menceritakan hilangnya cokelat tugas kuliahnya. Aisyah membela diri bahwa Sarah terlalu pelit dan lebay. Suasana menjadi tegang.
Ibu Salma, dengan tenang, memisahkan mereka berdua. "Sarah, Aisyah, duduk dulu. Jangan bertengkar. Dalam Islam, bertengkar antar saudara itu dilarang lebih dari tiga hari. Kita ini keluarga, harus saling menyayangi."
Ayah Rahmat, dengan gaya humorisnya yang khas, mencoba mencairkan suasana. "Iya, Bu Haji benar. Masa gara-gara Dubai Chocolate yang harganya selangit, silaturahmi kita putus? Nanti Allah marah, rezeki cokelat kita disetop lho!"
"Tapi Ayah, ini serius!" Sarah masih kesal.
Ibu Salma kemudian menerapkan metode tabayun (klarifikasi) yang diajarkan dalam Islam. "Aisyah, kamu salah karena makan barang yang sudah ada pemiliknya dan dilarang. Kamu harus minta maaf ke Kakak."
Aisyah, yang sudah mulai sadar kesalahannya karena terpancing emosi, menunduk malu. "Iya, Kak, maaf ya. Aku khilaf, godaan cokelatnya terlalu kuat."
"Sarah, kamu juga. Marah itu boleh, tapi jangan sampai memutus hubungan. Adikmu sudah minta maaf, dimaafkan ya," lanjut Ibu Salma.
Sarah, yang melihat adiknya tulus meminta maaf, luluh juga hatinya. "Iya, aku maafkan. Tapi lain kali jangan diulangi ya, Ais. Bilang dulu kalau mau."
Ayah Rahmat kemudian memberikan solusi ala dirinya. "Begini saja, sebagai gantinya, Aisyah dan Ayah akan bantu Sarah bikin Dubai Chocolate yang baru, yang lebih sempurna buat tugas kuliahnya besok!"
Seketika, suasana tegang berubah menjadi tawa. Aisyah dan Ayah Rahmat berjanji akan membantu Sarah. Konflik kecil itu selesai dengan damai, berkat intervensi bijak orang tua dan kesadaran untuk saling memaafkan. Mereka kembali ke dapur, bukan untuk bertengkar, tapi untuk berkolaborasi membuat Dubai Chocolate yang baru. Mereka belajar bahwa perbedaan pendapat itu wajar, tapi kasih sayang dan saling memaklumi harus tetap utama, seperti diajarkan dalam Islam.
