Bab 13: Malam di Teater Opera

Bab 13: Malam di Teater Opera

Lev
0

Sejak kunjungan ke Masjid Fatih dan Zwinger, perubahan pada Lev terlihat nyata. Cindy tidak lagi harus melakukan terapi humornya, karena tawa Lev kini muncul secara alami, terutama saat ia menceritakan betapa indahnya Dresden. Cindy pun merasa puas. Ia merasa misinya di Banjarmasin telah berhasil, dan kini di Dresden, ia hanya perlu menemaninya menjalani proses pemulihan.

Malam itu, Cindy mengajak Lev ke Semperoper, teater opera paling terkenal di Dresden. Gedung itu megah, dengan arsitektur yang menakjubkan. Lev terkesima melihatnya. "Ini... benar-benar indah," bisiknya.

"Tentu saja," jawab Cindy. "Ini salah satu yang terbaik di dunia. Kamu akan suka."

Cindy dan Lev masuk ke dalam teater. Interiornya megah dengan ornamen emas, lampu kristal, dan kursi-kursi merah beludru yang mewah. Lev merasa seperti masuk ke dalam istana. "Apakah kita salah kostum?" bisik Lev, merasa sedikit minder karena ia hanya mengenakan jaketnya, sementara orang-orang di sekitarnya berpakaian rapi.

"Tenang saja, Lev. Yang penting, kamu nyaman," kata Cindy, tersenyum. "Lagipula, kamu tetap yang paling tampan di sini."

Lev merona, malu. Mereka duduk di kursi mereka. Pertunjukan opera pun dimulai.

Lev yang tidak pernah menonton opera sebelumnya, merasa sedikit canggung. Ia tidak mengerti bahasa yang digunakan, dan ia tidak tahu kapan harus bertepuk tangan. Cindy, yang sudah terbiasa dengan suasana teater opera, hanya tersenyum melihat tingkah Lev.

Di tengah pertunjukan, Lev bertanya pada Cindy, "Cindy, kenapa suara penyanyinya bisa sekeras itu? Apa mereka tidak pakai mic?"

Cindy tertawa kecil. "Itu seni, Lev. Mereka dilatih untuk bisa mengeluarkan suara seperti itu tanpa mic. Kalau pakai mic, malah jadi aneh."

Lev mengangguk, lalu kembali fokus pada pertunjukan.
Saat pertunjukan selesai, semua orang bertepuk tangan dengan riuh. Lev, yang ikut terbawa suasana, ikut bertepuk tangan, bahkan sampai berdiri. Cindy melihatnya, dan ia tak bisa menahan tawanya.

"Kenapa, Cindy?" tanya Lev, bingung.

"Kamu terlihat lucu sekali, Lev. Tadi kamu bingung, sekarang kamu yang paling heboh," kata Cindy.

Lev tersipu malu. "Aku hanya terbawa suasana."

Mereka keluar dari teater. Udara malam yang dingin menyambut mereka. "Bagaimana, Lev?" tanya Cindy. "Kamu suka?"

"Suka. Tapi aku tidak mengerti ceritanya," jawab Lev, jujur.

Cindy tertawa. "Tidak apa-apa. Yang penting, kamu menikmati musiknya. Lain kali, kita coba tonton film saja, ya?"

"Boleh," kata Lev.

Mereka berjalan pulang, menyusuri jalanan kota yang sepi. Di bawah sinar lampu jalan yang redup, Lev merasa hatinya begitu hangat. Ia menyadari, Vania mungkin tidak bisa melihat Dresden bersamanya, tapi Vania ada di hatinya. Dan Cindy, dengan segala kekonyolannya, membantunya mengingat itu.

"Cindy," kata Lev, tiba-tiba.

"Ya, Lev?"

"Terima kasih. Kamu membuat hidupku terasa lebih ringan," kata Lev, tulus.

Cindy tersenyum. "Sama-sama, Lev. Itu yang seharusnya dilakukan oleh keluarga, kan?"

Malam itu, Lev kembali tidur dengan nyenyak. Ia tahu, Vania tidak akan pernah bisa digantikan. Tapi ia juga tahu, hidupnya tidak akan pernah kosong. Ada Cindy, yang akan selalu ada untuknya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default