BAB 7: Ngabuburit di Siring: Antara Wadai Banjar dan Konten Ghina

BAB 7: Ngabuburit di Siring: Antara Wadai Banjar dan Konten Ghina

Lev
0
Ikuti keseruan keluarga Lev Ryley dan Anindya Putri menyambut Ramadhan 2026 di Banjarmasin. Mulai dari drama paket belanja online, tips puasa untuk anak, hingga aksi lucu kucing-kucing kesayangan mereka saat tarawih. Kisah inspiratif yang hangat, lucu, dan penuh makna!



Minggu pertama Ramadhan 2026 di Banjarmasin mencapai titik terpanasnya. Angin sepoi-sepoi yang biasanya bertiup dari arah Sungai Martapura seolah tertahan oleh tingginya kelembapan udara. Di Jalan Pierre Tendean, tepat di depan Menara Pandang, kerumunan warga mulai memadati trotoar. Inilah tradisi ngabuburit paling ikonik di Kota Seribu Sungai, dan keluarga Lev â„›yley tidak ingin ketinggalan.

"Ayo cepat, Abah! Kalau telat sedikit, Bingka Barandam langganan Mama di Pasar Wadai bisa ludes!" seru Anindya sambil merapikan jilbab instan yang ia beli dari flash sale dua hari lalu.

Lev, yang baru saja mematikan laptop setelah menyelesaikan konfigurasi jaringan, menghela napas panjang. "Bu, ini baru jam setengah lima sore. Pasar Wadai itu tidak akan lari ke hulu sungai."

"Tapi audiensku sudah menunggu, Bah!" sahut Ghina Qalbi yang sudah siap dengan gimbal ponselnya. "Hari ini temanya 'Vlog Berburu Takjil Estetik di Siring'. Aku harus dapat transisi yang pas antara matahari terbenam dan perahu kelotok yang lewat."

Aisyah Humaira, sang penengah, muncul dengan membawa tas belanja ramah lingkungan. "Sudah, ayo berangkat. Rayyan sudah siap di depan pagar bersama Muezza."

Lev mengernyitkan dahi. "Muezza ikut? Ke Siring yang ramai begitu?"

"Tenang, Abah," Maryam Safiya menyela sambil menunjukkan tas ransel khusus kucing dengan jendela astronot yang transparan. "Muezza aman di dalam sini. Dia butuh udara segar juga, supaya tidak stres melihat tumpukan kardus paket Mama di rumah."

Keluarga itu pun berjalan kaki menyusuri tepian sungai. Suasana Siring sore itu sangat meriah. Deretan penjual kue-kue tradisional Banjar berjajar rapi. Ada Amparan Tatak, Sari India, hingga Kararaban yang aromanya memenuhi udara, menguji iman setiap orang yang melintas.

"Nah, Pian lihat ini, Teman-teman!" Ghina mulai beraksi di depan kameranya, mengarahkan lensa ke arah hamparan kue berwarna-warni. "Ini namanya Bingka. Kalau di Banjarmasin, belum buka puasa namanya kalau belum kena legitnya kue ini. Jangan lupa check-out lewat doa ya, karena ini tidak bisa dikirim pakai ekspedisi kilat ke Jakarta!"

Anindya sibuk memilih sayur masak asam dan ikan patin bakar untuk menu berbuka, sementara Lev menjaga Rayyan agar tidak terlalu dekat ke pinggir sungai. Di tengah keramaian, tas ransel Maryam menjadi pusat perhatian.

"Eh, lihat! Ada kucing pakai helm astronot!" seru seorang anak kecil sambil menunjuk ke arah Muezza.

Muezza, yang biasanya malas, tampak menikmati pemandangan perahu kelotok yang hilir mudik. Matanya yang bulat mengikuti gerakan air sungai. Maryam pun mengeluarkan buku sketsa kecilnya, mencoba menangkap siluet menara pandang di bawah semburat cahaya oranye.

Tiba-tiba, Ghina melihat sesuatu yang menarik untuk kontennya. "Ma! Lihat! Ada paman penjual es kelapa yang pakai kostum superhero! Ayo kita beli di sana, pasti viral!"

"Ghina, kita sudah beli es buah tiga bungkus tadi," protes Aisyah. "Ingat manajemen takjil kita, jangan sampai lapar mata."

"Tapi Kak, ini demi engagement!" balas Ghina tak mau kalah.

Lev hanya bisa tertawa melihat perdebatan anak-anaknya. Ia membawa Rayyan duduk di bangku taman menghadap sungai. "Ray, lihat matahari itu. Dia taat sekali pada perintah Allah. Terbit dan terbenam tepat waktu. Begitu juga puasa kita, sebentar lagi waktunya tiba."

"Abah, Rayyan lapar... tapi Rayyan lebih kasihan lihat Muezza. Dia dari tadi lihat ikan patin bakar tapi tidak bisa makan," bisik Rayyan polos.

"Muezza itu sabar, Ray. Dia tahu kalau dia adalah bagian dari keluarga Ryley yang hebat," jawab Lev menyemangati.

Saat adzan Maghrib berkumandang dari Masjid Sabilal Muhtadin, gema suaranya memantul di permukaan sungai, menciptakan suasana haru yang khidmat. Seluruh aktivitas di Siring mendadak melambat. Keluarga Lev berkumpul di salah satu gazebo kayu. Mereka membatalkan puasa dengan kurma ajwa dan air mineral.

"Alhamdulillah," ucap mereka serempak.

Ghina sempat mengambil satu potret terakhir: foto tangan seluruh anggota keluarga yang memegang kurma dengan latar belakang sungai yang mulai gelap. "Caption-nya: Kemenangan di Tepian Martapura," gumamnya puas.

Sambil menikmati Wadai Bingka yang legit, Anindya berbisik kepada Lev, "Bah, tadi pas di jalan Mama lihat ada toko alat pancing online yang lagi diskon 70%. Sepertinya bagus buat hobi Abah kalau lagi bosan sama komputer..."

Lev tersedak es buahnya. "Bu, tolong... satu hari saja tanpa membicarakan paket."

Aisyah, Maryam, Ghina, dan Rayyan tertawa bersama, sementara Muezza mengeong pelan di dalam tasnya, seolah setuju dengan keberatan Abahnya. Malam itu, di bawah lampu-lampu kota Banjarmasin yang mulai menyala, keluarga Ryley pulang dengan perut kenyang dan hati yang penuh dengan kenangan manis ngabuburit tahun 2026.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default