Setelah petualangan dingin di Puncak Eropa, hari berikutnya keluarga Ryley mencari suasana yang lebih santai dan hangat. Tujuan mereka adalah dua danau paling indah di sekitar Interlaken: Danau Brienz (Brienzsee) yang terkenal dengan warna biru toska yang mencolok, dan Danau Thun (Thunersee).
"Hari ini agenda kita santai, Bu. Naik kapal, lihat danau, piknik lagi," kata Lev, memastikan Anindya tidak membawa daftar belanjaan atau memulai live Instagram jualan skincare.
"Siap, Yah. Mode menikmati alam on," jawab Anindya, memakai topi pantainya yang ceria.
Mereka berjalan kaki dari chalet ke pelabuhan Interlaken Ost untuk naik kapal feri umum di Danau Brienz. Anindya sudah menyiapkan bekal roti isi, buah-buahan, dan cookies buatan sendiri (setelah insiden coklat kemarin, Anindya memutuskan memasak sendiri lebih aman).
Begitu kapal mulai bergerak, semua anggota keluarga langsung terhipnotis oleh warna air danau. Biru toska yang jernih, seolah ada filter Instagram alami yang terpasang di sana. Pemandangan desa-desa kecil yang rapi di pinggir danau, dengan latar belakang gunung hijau, sangat menenangkan jiwa.
"Masya Allah, airnya biru banget, Yah! Kok bisa se-biru ini ya?" tanya Ghina, matanya takjub.
"Itu karena airnya berasal dari lelehan gletser, Nak. Membawa partikel-partikel mineral yang bikin warnanya jadi begitu," jelas Lev, sok tahu (hasil baca Wikipedia semalam).
Maryam langsung sibuk dengan sketchbook-nya, mencoba menangkap nuansa warna biru yang sulit ditiru dengan pensil warnanya. Aisyah duduk di dek kapal, menikmati angin sepoi-sepoi dan ketenangan.
"Di sini rasanya damai sekali, Bu. Beda sama hiruk pikuk kota," bisik Aisyah.
Anindya mengangguk, lalu mengeluarkan ponselnya. Lev melirik curiga. "Cuma foto, Yah! Nggak live!" Anindya tertawa, mengambil foto selfie dengan latar danau biru toska yang sempurna.
Mereka turun di desa Brienz, sebuah desa kecil penghasil kerajinan kayu yang cantik. Mereka berjalan santai di pinggir danau, menikmati suasana desa yang tenang. Anindya sempat mampir ke beberapa toko kerajinan lokal, tapi berhasil menahan diri untuk tidak memborong (Lev memuji usahanya).
Setelah dari Brienz, mereka kembali ke Interlaken dan melanjutkan perjalanan ke Danau Thun, yang warnanya sedikit berbeda, lebih ke biru tua yang dalam. Pemandangan di sekitar Danau Thun lebih banyak kastil-kastil tua yang megah.
Di tepi Danau Thun, dekat Kastil Spiez, mereka menemukan spot piknik yang sempurna. Anindya menggelar tikar dan mengeluarkan bekal makan siang. Mereka makan bersama di bawah sinar matahari Swiss yang hangat, dengan pemandangan danau dan kastil di kejauhan.
"Yah, Ayah sama Ibu nggak mau romantis-romantisan di sini kayak di film-film?" celetuk Ghina, yang entah dari mana idenya.
Anindya tersipu malu. Lev tertawa. "Romantisnya Ayah sama Ibu kan sudah dari dulu, Nak. Ini aja sudah romantis banget, piknik bareng kalian."
Tapi Anindya tidak mau kalah. Setelah makan, ia mengajak Lev berjalan berdua saja di pinggir danau, meninggalkan anak-anak yang asyik bermain dengan kerikil danau.
"Makasih ya, Yah. Untuk semua ini," Anindya memegang tangan Lev. "Tujuh belas tahun lalu, kita cuma bisa bayangin tempat-tempat kayak gini. Sekarang kita bisa ke sini bareng anak-anak. Masya Allah."
Lev tersenyum, membalas genggaman tangan istrinya. "Semua berkat doa kita, Bu, dan rasa syukur yang selalu kita jaga. Allah kasih rezeki lebih dari yang kita bayangkan."
Momen romantis itu diabadikan secara diam-diam oleh Aisyah yang mengambil foto mereka dari jauh. Maryam sudah selesai dengan sketsa danaunya. Ghina dan Rayyan sudah mulai bosan lagi.
Sore harinya, mereka kembali ke chalet dengan hati yang tenang dan pikiran yang segar. Keajaiban Danau Brienz dan Thun telah memberikan mereka ketenangan jiwa. Mereka belajar bahwa alam adalah salah satu cara terbaik untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta, dan momen kebersamaan adalah ibadah yang paling indah. Swiss, dengan segala keindahannya, mulai menunjukkan pesonanya yang sesungguhnya.
