Bab 9: Mahalini: Ratu Tawar Menawar yang Tak Terkalahkan

Bab 9: Mahalini: Ratu Tawar Menawar yang Tak Terkalahkan

Lev
0
Baca Novel Islami terbaru 2025: 'Sajadah di Tepian Mahakam'. Kisah komedi haru 3 keluarga bertetangga di Samarinda. Antara hobi belanja online Dokter Raisa, gaya mall Ibu Rossa, dan ketangguhan pasar Ibu Mahalini. Temukan makna ukhuwah dan hijrah finansial di Bumi Tepian. Klik di sini!


Pagi itu, langit di atas Kota Samarinda tampak sedikit mendung, memberikan hawa sejuk yang jarang terjadi di kota khatulistiwa ini. Bagi sebagian orang, cuaca seperti ini paling cocok untuk berlama-lama di bawah selimut. Namun bagi Ibu Mahalini, mendung adalah sinyal taktis. Ia tahu bahwa saat mendung atau hujan rintik, jumlah pembeli di Pasar Pagi Samarinda—pasar tertua yang melegenda di tepi Mahakam—akan berkurang, dan itu artinya posisi tawar pembeli akan menguat.

Mahalini bersiap dengan setelan andalannya: celana kulot yang nyaman, kaos lengan panjang, dan tentu saja tas belanja anyaman yang kuat. Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri mengecek ponsel. Di grup WhatsApp "Tetangga Syariah", notifikasi sudah berisik sejak jam 5 subuh.

Ibu Rossa: "Bu Lini, kalau lewat pedagang kain di Pasar Pagi, titip lihatkan furing jilbab warna 'Nude-Brown' ya. Di mall harganya naik gara-gara stok impor terhambat. Siapa tahu di pasar ada yang stok lama!"

Dokter Raisa: "Titip bawang putih kating ya Bu Lini, yang sudah dikupas kalau ada. Capek saya kupas sendiri pulang dari RS, jempol saya sampai bau bawang padahal mau pakai stetoskop. Hehe."

Mahalini tersenyum kecil. "Dua sahabatku ini... yang satu anti-becek, yang satu anti-repot, tapi ujung-ujungnya larinya ke pasar juga lewat tangan saya," gumamnya sambil menghidupkan mesin motor.

Seni Diplomasi di Gang-Gang Sempit

Pasar Pagi Samarinda adalah labirin emosi. Di sini, ribuan orang bertemu setiap hari untuk bertahan hidup. Mahalini melangkah dengan penuh percaya diri, menyusuri gang sempit yang diapit oleh kios-kios pakaian dan perlengkapan rumah tangga.

Ia berhenti di sebuah kios kain milik Haji Mabrur.

"Assalamualaikum, Pak Haji. Gimana kabarnya? Sudah berangkat umrah kemarin keluarganya?" sapa Mahalini membuka percakapan. Dalam dunia pasar tradisional, menyapa bukan sekadar basa-basi, tapi investasi hubungan muamalah.

"Waalaikumussalam, Bu Lini. Alhamdulillah sudah pulang minggu lalu. Ini ada kain baru datang, tapi harganya naik sedikit karena ongkos kirim dari Jawa naik," jawab Haji Mabrur jujur.

Mahalini memegang kain tersebut, merasakannya dengan teliti. "Aduh Haji, ini buat teman saya, PNS di kantor gubernur. Kalau harganya mahal, nanti dia lebih milih belanja ke Mall. Kasihan kan kios Haji jadi sepi. Gimana kalau harga lama, tapi saya beli tiga meter? Nanti saya promosikan ke grup ibu-ibu kompleks," rayu Mahalini.

Inilah kehebatan Mahalini. Ia tidak menawar dengan kasar, melainkan dengan argumen ekonomi yang masuk akal dan janji pemasaran mulut ke mulut. Setelah diskusi selama sepuluh menit yang penuh tawa dan sedikit "drama" pura-pura pergi, Haji Mabrur menyerah. Mahalini mendapatkan harga terbaik untuk Ibu Rossa.

Insiden Dompet dan Ujian Kejujuran

Saat hendak berpindah ke area sayuran, mata Mahalini menangkap sesuatu yang berkilau di atas lantai pasar yang lembap. Sebuah dompet kulit berwarna cokelat tua tergeletak di dekat tumpukan karung beras. Mahalini memungutnya. Isinya cukup tebal dengan uang tunai dan beberapa kartu identitas.

Sejenak, pikirannya melayang. “Kalau uang ini saya pakai, saya bisa beli kulkas baru yang diinginkan suami tanpa harus menabung berbulan-bulan,” bisik sisi manusianya. Namun, ia segera beristighfar. Ia teringat firman Allah dalam Al-Qur'an tentang menjaga amanah dan larangan memakan harta orang lain dengan cara yang batil.

Mahalini tidak melanjutkan belanjanya. Ia justru mencari kantor pengelola pasar. Di sana, ia menyerahkan dompet tersebut. Tak lama kemudian, melalui pengeras suara pasar, seorang ibu paruh baya datang dengan wajah pucat dan mata sembab. Ternyata itu adalah uang modal usaha seorang pedagang kecil yang baru saja mengambil pinjaman tanpa riba dari koperasi masjid.

"Terima kasih, Bu... terima kasih. Kalau uang ini hilang, saya tidak tahu bagaimana harus jualan besok," kata ibu tersebut sambil menangis dan berusaha memberikan uang imbalan kepada Mahalini.

Mahalini menolaknya dengan halus. "Simpan saja, Bu. Saya hanya menjalankan kewajiban sebagai sesama Muslim. Doakan saja supaya keluarga saya sehat dan berkah."

Kembali ke Kompleks dengan Kebanggaan

Pukul 10.30 WITA, Mahalini kembali ke Cluster Ar-Raudhah. Ia membagikan titipan kepada Raisa dan Rossa di depan rumah masing-masing.

"Ini kainnya, Bu Rossa. Harganya lebih murah 20 ribu dari yang di mall, dan ini bawang putih kupasnya, Bu Dokter," kata Mahalini sambil menyeka keringat.

Rossa terkesima melihat kainnya. "Kok bisa dapat harga segini, Bu Lini? Saya kemarin tanya di butik langganan harganya hampir dua kali lipat!"

Mahalini tertawa. "Itulah bedanya pasar dan mall, Bu Rossa. Di pasar, kita bicara dengan pemiliknya langsung, ada ikatan batin. Dan yang paling penting, tadi saya dapat 'bonus' pahala karena mengembalikan dompet orang hilang."

Mendengar cerita Mahalini tentang dompet tersebut, Raisa dan Rossa terdiam. Mereka merasa malu jika selama ini terlalu sibuk memikirkan diskon dan paket, sementara ada tetangga mereka yang sedang berjuang mempertahankan integritas di tengah hiruk-piruk pasar.

"Bu Lini benar-benar 'Ratu' kami," ucap Raisa tulus. "Bukan cuma ratu tawar-menawar, tapi ratu kejujuran."

Edukasi untuk Pembaca

Bab ini mengangkat nilai Amanah (Kejujuran) dan Adab Jual Beli dalam Islam. Menemukan barang hilang (Luqathah) memiliki aturan fikih tersendiri, di mana mengembalikannya kepada pemilik adalah prioritas utama untuk menjaga keberkahan hidup.

Bagi masyarakat Samarinda, Pasar Pagi adalah situs sejarah ekonomi yang harus tetap didukung. Berbelanja di sana tidak hanya soal mendapatkan harga murah, tetapi juga tentang melestarikan warisan budaya kota. Anda bisa melihat sejarah singkat pasar ini di Laman Budaya Samarinda.

Untuk tips tawar-menawar yang sopan dan sesuai syariah, Anda bisa mempelajari konsep Al-Khiyar (hak memilih atau membatalkan transaksi) agar kedua belah pihak merasa rida (Antaradin), sebagaimana dijelaskan dalam portal Konsultasi Syariah.

Kesimpulan Bab 9:
Ibu Mahalini membuktikan bahwa kecerdasan finansial harus dibarengi dengan kecerdasan spiritual. Pasar yang becek tidak menghalangi langkahnya untuk mencari keberkahan. Namun, sebuah tantangan baru muncul di Bab 10: Para suami di Cluster Ar-Raudhah mulai curiga dengan "gerakan bawah tanah" istri-istri mereka dalam mengelola uang belanja!

Jangan lewatkan Bab 10: Suami-Suami Sabar: Perkumpulan Bapak-Bapak Cluster Ar-Raudhah!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default