Bab 19: Keseriusan dan Keraguan

Bab 19: Keseriusan dan Keraguan

Lev
0

Setelah pertemuan yang tidak mengenakkan dengan Sandra, Vania dan Lev memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal itu. Lev meyakinkan Vania bahwa masa lalunya sudah berakhir, dan yang terpenting adalah masa depan mereka. Namun, kehadiran Sandra tetap meninggalkan keraguan kecil di hati Vania. Ia takut jika nanti Sandra akan kembali mengganggu, atau bahkan lebih parah, menghancurkan hubungan mereka.

"Kamu yakin dia tidak akan mengganggu lagi, Lev?" tanya Vania, suatu malam saat mereka sedang berbincang di kafe Senja Martapura.

"Saya yakin, Vania," jawab Lev, menggenggam tangan Vania. "Saya sudah bilang padanya kalau saya sudah punya kamu. Dan saya tidak akan kembali ke masa lalu."

Vania tersenyum, merasa sedikit lega. Tapi, ia tetap merasa khawatir. Ia tidak ingin lagi menghadapi drama yang tidak perlu. Ia hanya ingin hubungan yang tenang, damai, dan penuh cinta.

"Aku takut, Lev," Vania berkata, jujur. "Aku takut jika kamu berubah pikiran."

"Vania," Lev menatap Vania dengan lembut. "Saya sudah memilih kamu. Saya tidak akan berubah pikiran. Saya serius. Saya ingin melamar kamu."

Vania terkejut. "Melamar? Secepat ini?"

"Iya," Lev mengangguk. "Kenapa harus menunggu? Kita sudah sama-sama yakin, kan?"

"Tapi... Lev. Aku belum siap. Aku masih merasa takut," Vania menunduk.

"Takut apa, Vania?" Lev bertanya, dengan lembut.

"Takut... jika kita tidak cocok," Vania berkata, jujur. "Aku... aku tidak mau terburu-buru."

Lev menghela napas. "Baiklah. Saya akan menunggu. Tapi, saya akan buktikan kalau saya serius. Saya akan buktikan kalau saya bisa jadi suami yang baik untuk kamu."

Vania merasa terharu. Ia merasa Lev adalah pria yang sangat baik. Ia tidak memaksanya, tapi justru memberikan waktu dan meyakinkan. Ia merasa Lev adalah pria yang tulus.

Malam itu, mereka kembali menikmati senja di tepi Sungai Martapura. Di tengah obrolan mereka, Vania menceritakan kekonyolannya saat memasak gulai patin, dan Lev tertawa mendengarnya. Vania merasa nyaman di dekat Lev. Ia merasa Lev bisa menerimanya apa adanya.

"Vania," Lev memanggilnya.

"Iya, Lev?"

"Saya ingin kamu tahu. Saya tidak mencari wanita yang sempurna. Saya mencari wanita yang bisa membuat hidup saya lebih berwarna. Dan kamu, Vania, kamu berhasil membuat hidup saya lebih berwarna."

Vania tersenyum. Ia merasa bahagia. Ia merasa, ia tidak salah memilih Lev. Ia yakin, Lev adalah pria yang tepat untuknya.

"Aku juga, Lev," kata Vania. "Kamu membuat hidupku lebih berwarna."

Mereka berdua saling berpegangan tangan. Di bawah langit Banjarmasin yang kini mulai gelap, dengan lampu-lampu kota yang mulai menyala, Vania dan Lev merasa bahwa takdir memang sudah mempersiapkan sesuatu yang indah untuk mereka. Mereka hanya perlu menjalaninya, dengan penuh keyakinan dan cinta.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default