BAB 7: Jejak Air Terjun Lano dan Doa yang Mengalir

BAB 7: Jejak Air Terjun Lano dan Doa yang Mengalir

Lev
0
Ikuti petualangan seru nan haru keluarga Lev Ryley (Banjarmasin) & Muhammad Hifni (Tabalong) dari Mekah hingga ke Murung Pudak. Novel Slice of Life Islami tentang ukhuwah, komedi kucing, dan keindahan wisata Jaro.



Pagi itu, udara di Tanjung terasa lebih dingin dari biasanya. Muhammad Hifni memutuskan untuk membawa rombongan "Invasi Banjarmasin" menjauh sejenak dari hiruk-pikuk pasar menuju ujung utara Tabalong. Destinasi mereka: Wisata Alam Air Terjun Lano, sebuah surga tersembunyi di perbatasan Kalimantan Selatan dan Timur.

"Kita akan jalan kaki sedikit menembus hutan, Pak Lev. Anggap saja ini trekking kecil biar kolesterol dari Paliat kemarin luntur," canda Pak Hifni sambil membagikan tongkat kayu sederhana untuk pegangan.

Lev â„›yley yang biasa duduk di depan monitor merasa tertantang. "Siap, Pak! Selama ada sinyal buat navigasi, saya aman." Namun, begitu masuk ke area hutan lindung, layar ponselnya kembali menunjukkan tulisan No Service. Lev hanya bisa tersenyum kecut, pasrah pada insting alam sang PNS senior.

Perjalanan sejauh kurang lebih 600 meter itu menjadi panggung bagi duo Salsabilla. Salsa (Khalisah) dan Bella (Naura) tampak sangat lincah melompati akar-akar pohon besar. "Ayo Kak Aisyah! Nanti air terjunnya habis kalau kita lambat!" teriak Naura.

Aisyah Humaira, sang mahasiswi PGSD ULM, dengan sabar menggandeng Rayyan yang sibuk bertanya, "Kak, di hutan ini ada harimau yang bisa terbang nggak?"

Sesampainya di titik utama, gemuruh air yang jatuh dari ketinggian 17 meter menyambut mereka. Uap air yang dingin menerpa wajah, seketika menghapus lelah perjalanan lima jam dari Banjarmasin kemarin.

"Masya Allah... ini lebih bagus dari konten manapun!" seru Anindya Putri. Bukannya langsung mengeluarkan ponsel, ia justru terdiam, memejamkan mata, dan menghirup udara dalam-dalam. "Yah, di sini rasanya tenang banget ya?"

Lev mengangguk, merangkul istrinya. "Iya, Bun. Kadang kita sibuk nyari 'view' di layar, padahal yang asli ada di depan mata."

Di sudut lain, Maryam Safiya sudah duduk di atas batu besar yang permukaannya rata. Ia mulai mensketsa jatuhnya air dengan teknik arsiran cepat. Sementara itu, Ghina Qalbi sedang sibuk merekam suara air terjun menggunakan mikrofonnya. "Guys, ini adalah suara healing alami. Lupakan musik lo-fi, ini real dari alam Tabalong!"

Momen haru terjadi saat mereka semua duduk melingkar di pinggir aliran sungai kecil yang jernih. Pak Hifni mulai bercerita bahwa air terjun ini adalah sumber kehidupan bagi desa sekitarnya.

"Air ini mengalir terus, nggak pernah putus, sama seperti niat kita waktu di depan Ka'bah dulu," ujar Pak Hifni. Ia menoleh ke arah Ibu Rina dan drg. Dina. "Tahu nggak kenapa kedua anak ini namanya Salsabilla? Selain artinya 'Mata Air Surga', kami semua ingin mereka menjadi penyejuk bagi orang-orang di sekitarnya, seperti air Lano ini."

Ibu Rina Rufida menambahkan dengan suara bergetar, "Dulu, saat kami sulit mendapatkan keturunan, kami berjanji jika diberi amanah anak, kami akan menamainya dengan sesuatu yang mengalirkan kebaikan. Tak disangka, drg. Dina juga punya niat yang sama. Dan sekarang, kita dipertemukan di sini."

Mendengar itu, drg. Dina memeluk Naura, sementara Ibu Rina mendekap Khalisah. Air mata haru menyatu dengan percikan air terjun. Rayyan yang merasa suasana terlalu serius, tiba-tiba menceburkan kakinya ke air sambil berteriak, "Dingin banget! Kayak es campur!"

Gelak tawa kembali pecah, memecah kesunyian hutan Jaro. Liburan sekolah ini bukan lagi sekadar kunjungan wisata, tapi perjalanan spiritual yang mempererat simpul ukhuwah mereka di bawah gemuruh air terjun yang terus mengalir—seperti doa yang tak pernah terputus.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default