Pagi kedua di Paris, Laila dan Amira Al-Fassi bersiap untuk hari belanja yang paling krusial di Rue Saint-Honoré, jantung high fashion Paris yang terkenal. Ini adalah jalan di mana tren dibuat dan dompet-dompet (sangat tebal) dikosongkan.
Laila mengenakan gaun Valentino putih bersih, dan Amira mengenakan setelan celana panjang sutra Celine berwarna navy. Mereka memanggil taksi limousine yang sudah menunggu di depan Ritz. Sopir, seorang pria Prancis paruh baya yang rapi, membuka pintu untuk mereka.
"Prioritas pertama: Chanel," perintah Laila, matanya fokus pada tujuan.
Butik Chanel di Rue Saint-Honoré selalu ramai, tetapi Laila dan Amira memiliki janji temu pribadi dengan seorang asisten penjualan senior yang sudah mereka kenal baik. Mereka langsung dibawa ke ruang VIP di lantai atas, di mana sampanye non-alkohol dan macarons dari Ladurée menunggu.
"Bonjour, Madame Laila, Mademoiselle Amira. Bienvenue (Selamat datang) kembali," sapa asisten penjualan yang elegan, Monsieur Pierre.
"Bonjour, Pierre. Bagaimana koleksi cruise terbaru? Kami ingin melihat yang paling eksklusif," kata Laila.
Pierre tersenyum, mengerti selera kliennya. Dia mengeluarkan beberapa tas Chanel Classic Flap dalam kulit domba lembut dengan warna-warna musiman yang jarang, dan beberapa tas Chanel 2.55 dalam kulit distressed yang unik.
Amira mencoba tas Chanel 19 besar berwarna krem. "Umi, yang ini bagus untuk kuliah sehari-hari. Casual tapi tetap Chanel."
"Amira, kamu sudah punya yang itu warna hitam dan beige di Casablanca," Laila mengingatkan. "Kita cari yang berbeda."
Laila sendiri sedang mengincar tas Chanel Boy baru dengan detail gesper emas antik. Setelah beberapa pertimbangan, kedua tas itu akhirnya dibeli, bersama dengan beberapa pasang sepatu balet kulit Chanel dan syal sutra.
"Totalnya sekitar... €35.000, Madame," kata Pierre sopan. Laila melambaikan tangannya, dan transaksi kartu kredit diselesaikan dalam hitungan detik.
Setelah Chanel, mereka berjalan kaki sebentar ke butik Dior yang megah di Avenue Montaigne. Arsitektur butiknya sendiri sudah merupakan sebuah karya seni. Di sini, mereka fokus pada pakaian siap pakai (prêt-à-porter) dan tas.
Laila mengagumi koleksi Dior Lady Dior terbaru dengan motif cannage yang khas. Amira mencoba beberapa gaun sutra yang ringan. "Umi, lihat gaun Dior ini. Sangat anggun untuk resepsi nanti malam."
Mereka menghabiskan dua jam di Dior, membeli gaun, sepatu hak tinggi Dior J'Adior, dan dua tas Lady Dior baru.
"Rasanya Paris ini menguras dompet lebih cepat daripada Casablanca," keluh Laila bercanda kepada Amira saat mereka keluar dari Dior dengan empat tas belanjaan besar.
"Tapi puas, Umi. Kualitas dan pengalamannya berbeda," jawab Amira, matanya bersinar bahagia.
Mereka makan siang di L'Avenue, restoran favorit para sosialita di Paris, di mana mereka melihat beberapa selebritas dan influencer mode dunia. Sambil menikmati salad salmon mewah, mereka mengamati gaya orang-orang di sekitar mereka.
"Umi, lihat tas wanita di meja sana. Itu Hermès Birkin Himalayan Croco asli, lho. Harganya di resell bisa sampai ratusan ribu dolar," bisik Amira, yang memang ahli dalam mengidentifikasi barang langka.
Laila melirik sekilas. "Ya, aku tahu. Aku punya satu di rumah. Tapi warnanya tidak seputih itu."
Setelah makan siang, Laila memiliki satu misi rahasia: mengunjungi butik Hermès di Rue du Faubourg Saint-Honoré. Mendapatkan tas Birkin atau Kelly di sini adalah sebuah seni tersendiri, membutuhkan janji temu, relasi, dan sedikit keberuntungan. Laila sudah mengatur janji temu melalui agen pribadinya.
Di dalam butik Hermès, suasananya lebih tenang, lebih eksklusif. Tidak semua orang bisa membeli tas ikonik mereka pada kunjungan pertama. Laila bertemu dengan konsultan pribadinya.
"Madame Laila, kami punya kabar baik," kata konsultan itu sambil tersenyum misterius. "Mengingat loyalitas Anda sebagai pelanggan kami, kami bersedia menawarkan tas Birkin 30 kulit Togo dalam warna Étain yang Anda inginkan."
Mata Laila membesar. Ini adalah kemenangan besar dalam dunia belanja mewah. Mendapatkan Birkin tanpa penantian bertahun-tahun adalah sebuah keajaiban.
"Ambil!" kata Laila cepat.
Mereka keluar dari Hermès dengan kotak oranye legendaris itu. Senyum Laila merekah lebar. Misi Paris hari ini sukses besar. Mereka kembali ke Ritz dengan tangan penuh belanjaan, siap untuk menikmati malam di kota cahaya, dengan penampilan baru dari Chanel, Dior, dan, yang paling penting, Hermès Birkin yang didambakan.
