Bab 7: Toko Bayangan dan Rahasia di Balik Lanting

Bab 7: Toko Bayangan dan Rahasia di Balik Lanting

Lev
0

Rise of the River King". Kisah Lev Ryley, Hunter Rank E di Banjarmasin yang membangkitkan kekuatan Naga Putih Barito. Aksi, Komedi, & Drama Sedih!



Setelah gempuran hebat di Meratus, Lev kembali ke Banjarmasin dengan tubuh yang terasa remuk. Namun, di dalam kepalanya, suara sistem berdentang seperti lonceng gereja yang tak mau berhenti. Begitu ia sampai di rumah susun kayunya yang terletak di atas Lanting (rumah terapung) di pinggiran Sungai Martapura, Lev segera mengunci pintu.

"Vania masih di rumah sakit menjaga pasien, Andriy pasti sedang luluran karena takut kulitnya rusak di hutan tadi... Sekarang waktunya," gumam Lev.

Ia menarik napas panjang dan memanggil antarmuka sistem yang kini berwarna emas gelap.

[Selamat! Anda telah membuka: 'The Shadow Store' (Toko Bayangan)]

Status: Level 15 (Rank C - Hidden)

Saldo Mana Stone: 1.250 Fragmen

Layar hologram itu berubah menjadi deretan item yang terlihat sangat tidak masuk akal. Bukan pedang legendaris atau baju zirah emas, melainkan benda-bisa yang tampak akrab dengan budaya lokal namun memancarkan aura mengerikan.

[Mandau Terkutuk Suku Gaib] - Harga: 5.000 Fragmen (Terkunci)

[Cincin Kecubung Jiwa] - Harga: 800 Fragmen (Meningkatkan regenerasi Mana 20%)

[Minyak Bintang Abadi (High Grade)] - Harga: 1.500 Fragmen (Menghidupkan kembali sel mati secara instan)

[Resep Rahasia Soto Banjar Penambah Stamina] - Harga: 100 Fragmen

"Resep soto? Sistem ini benar-benar terobsesi dengan makanan Banjar," Lev mendengus, namun ia segera membeli Cincin Kecubung Jiwa. Begitu cincin itu melingkar di jarinya, hawa dingin yang menenangkan mengalir ke seluruh tubuhnya, menyembuhkan memar-memar sisa pertempuran dengan Kera Raksasa.

Momen Komedi: Latihan Gila di Siring

Keesokan harinya, Lev tidak bisa bersantai. Sesuai perjanjian, Anatasya menunggunya di Menara Pandang Siring tepat pukul 05.00 WITA.

"Telat satu menit, sepuluh set push-up tambahan," ucap Anatasya dingin. Ia tampil kasual dengan legging hitam dan jaket olahraga, namun tetap terlihat seperti model kelas atas.

"Aku harus naik klotok dulu, Tuan Putri! Arus sungai sedang deras!" protes Lev.

"Jangan banyak alasan. Hermione, mulai simulasinya," perintah Anatasya.

Hermione muncul dari balik tiang menara dengan membawa sebuah kotak besi besar. "Lev, aku sudah memodifikasi alat detektor manaku menjadi 'Generator Monster Virtual'. Secara matematis, kamu harus bisa menghindari 100 peluru air dalam 60 detik tanpa menggunakan skill bayanganmu!"

"Apa?! Itu penyiksaan!"

ZAP! ZAP! ZAP!

Belum sempat Lev bersiap, bola-bola air berkecepatan tinggi melesat ke arahnya. Lev melompat, berguling, dan jungkir balik di lantai semen Siring. Warga yang sedang lari pagi berhenti sejenak, menonton pemandangan aneh itu.
"Lihat itu, ada anak muda sedang dikejar-kejar bola air!" teriak seorang kakek.

"Wah, mungkin itu syuting film superhero lokal, Kek!" jawab cucunya.

"Hermione! Kurangi kecepatannya! Aku hampir mati tenggelam di darat!" teriah Lev sambil terengah-engah.

Momen Sad: Rahasia Healer Vania

Di sisi lain kota, di RSUD Ulin Banjarmasin, Vania Larasati sedang duduk lemas di bangku taman rumah sakit. Tangannya memancarkan cahaya putih redup yang terus bergetar.

Seorang dokter senior mendekatinya. "Vania, kamu baru saja menyelamatkan pasien kritis di ruang ICU tadi tanpa bantuan alat medis. Kamu tahu kan apa artinya ini?"

Vania menunduk, matanya berkaca-kaca. "Aku... aku hanya tidak ingin kehilangan siapa pun lagi, Dok. Seperti saat Ayah pergi."

"Kamu adalah seorang Saintess Class Healer, Vania. Jika Asosiasi Hunter tahu, atau klan Borneo Coal Corp tahu, mereka akan memperebutkanmu seperti aset tambang. Kamu akan berada dalam bahaya besar."

Vania mengepalkan tangannya. Ia tahu kakaknya, Lev, sedang berjuang keras menjadi Hunter demi dirinya. Ia tidak ingin menjadi beban, tapi kekuatan ini terasa seperti kutukan yang mengundang badai.

Konflik Utama: Ancaman Sang Penguasa Tambang

Malam itu, di sebuah gedung pencakar langit di Banjarbaru, seorang pria paruh baya dengan cerutu di tangan menatap layar monitor yang menampilkan rekaman satelit di Meratus. Dia adalah Haji Darmansyah, pimpinan klan penguasa batu bara sekaligus dalang di balik kematian ayah Lev.

"Jadi, ada bocah Rank E yang bisa bekerja sama dengan putri keluarga Anatasya?" suaranya berat dan penuh ancaman. "Cari tahu siapa dia. Jika dia adalah anak si Porter tua itu, pastikan dia tidak pernah melihat matahari terbit di atas Sungai Barito lagi."

Di depannya, berdiri seorang pria misterius dengan jubah hitam bertuliskan aksara kuno. "Serahkan padaku, Tuan. Saya akan menggunakan 'Sihir Pasir Hitam' untuk menguburnya hidup-hidup."

Plot Twist: Panggilan dari Bawah Air

Lev kembali ke Lantingnya malam itu. Saat ia hendak tidur, sistemnya bergetar dengan frekuensi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

[Misi Mendesak: Panggilan dari Kedalaman]
Lokasi: Dasar Sungai Barito (Titik Koordinat Nol).
Deskripsi: Sesuatu yang 'Lama' ingin bertemu dengan 'Penguasa Baru'.

Hadiah: Kunci Sejati 'Kayuh Baimbai'.

Lev menatap ke luar jendela, ke arah air sungai yang hitam pekat dan tenang. Di bawah sana, ada sesuatu yang memanggilnya. Sesuatu yang jauh lebih tua dari Gate mana pun di dunia.

"Sepertinya aku harus belajar bernapas di dalam air lebih lama," gumam Lev sambil menyiapkan perlengkapannya.

Lanjut ke Bab 8?

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default