Bab 8: Dunia yang Terus Berjalan Tanpa Menoleh

Bab 8: Dunia yang Terus Berjalan Tanpa Menoleh

Lev
0
Baca Novel Islami paling sedih 2026. Kisah Elena, mualaf asal Sofia yang mempertanyakan arti keberadaannya di mata dunia saat ajalnya mendekat. Sebuah refleksi mendalam tentang kesunyian, iman, dan cinta kepada Allah. Cocok untuk Anda yang sedang merasa kesepian dan tak berarti.



Februari 2026 datang membawa badai salju yang lebih ganas ke Sofia. Dari balik jendela apartemennya yang kini mulai berkerak es, Elena menyaksikan dunia luar melalui celah gorden yang kian jarang ia buka. Ia duduk di kursi kayu tua, tubuhnya dibalut tiga lapis selimut, namun kedinginan itu seolah datang dari dalam sumsum tulangnya sendiri.

Di jalanan bawah sana, kehidupan tampak begitu angkuh. Ia melihat bus listrik modern kota Sofia meluncur tanpa suara di atas aspal yang basah. Orang-orang berlari kecil menghindari salju, wajah-wajah mereka tertuju pada layar ponsel yang menyala. Di seberang jalan, sebuah papan reklame digital raksasa memamerkan iklan apartemen mewah dengan teknologi AI terbaru—dunia yang dulu sangat dipahami Elena sebagai arsitek, namun kini terasa seperti planet asing yang tidak mengenalnya lagi.

"Lihatlah mereka," batin Elena dengan suara yang kian parau. "Mereka berencana untuk sepuluh tahun ke depan, sementara aku berjuang hanya untuk satu tarikan napas di menit berikutnya."

Sebuah pemandangan di trotoar menarik perhatiannya. Seorang wanita muda, mungkin seusiaya, baru saja menjatuhkan gelas kopinya. Wanita itu mengeluh, mengeluarkan tisu, dan segera dibantu oleh seorang pria yang lewat. Mereka tersenyum, berbicara sejenak, lalu melanjutkan hidup masing-masing.

Elena memejamkan mata. Rasa nyeri itu kembali, mencengkeram lambungnya seperti kuku-kuku besi. Ia membayangkan jika ia yang jatuh di sana. Apakah ada yang akan berhenti? Ataukah mereka hanya akan melangkahinya, menganggap hijab dan pakaian hitamnya sebagai simbol kemalangan yang harus dihindari?

Ia teringat ibunya. Hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Dengan jari-jari yang gemetar dan membiru, ia meraih ponselnya yang layarnya sudah retak. Ia mengetik pesan singkat: "Selamat ulang tahun, Mama. Aku mencintaimu. Maafkan aku."

Jari jempolnya tertahan di atas tombol 'kirim'. Ia teringat kata-kata terakhir ibunya lewat telepon sebulan lalu: "Jangan hubungi kami lagi, Elena. Ayahmu sakit jantung setiap kali melihat namamu muncul di layar. Biarkan kami tenang dalam sisa hidup kami."

Elena menghapus pesan itu. Air mata jatuh, hangat sejenak sebelum mendingin di pipinya yang tirus.

"Dunia benar-benar tidak menoleh," bisiknya pada bayangannya di kaca jendela. "Jika aku menghilang dari garis waktu ini, tidak akan ada kekosongan yang tercipta. Kursi di bus tetap terisi, bangku taman tetap penuh, dan hati Mama tetap tenang karena tidak lagi diganggu oleh putri yang dianggapnya sesat."

Kenyataan ini adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, ia merasa sangat kesepian hingga dadanya terasa kosong. Namun di sisi lain, ia merasakan kebebasan yang aneh. Karena dunia tidak peduli, ia tidak lagi memiliki siapapun untuk dibahagiakan selain Allah. Ia tidak lagi memiliki reputasi untuk dijaga, tidak ada karir untuk dipertahankan.

Ia adalah Elena yang tak berarti. Ia adalah Layla yang tersembunyi.

Ia merangkak kembali ke sajadahnya, tempat satu-satunya di mana ia merasa benar-benar 'terlihat'. Ia menyadari bahwa meski Sofia tetap dingin dan orang-orang tetap tak menoleh, ada Satu Dzat yang tak pernah sedetik pun memalingkan pandangan-Nya dari hamba-Nya yang sedang sekarat dalam kesunyian.

"Ya Allah," rintihnya saat dahinya menyentuh bumi, "terima kasih telah membuatku tidak berarti di mata dunia, agar aku bisa belajar untuk hanya berarti di hadapan-Mu."

Di luar sana, lonceng gereja berdentang, suara musik dari kafe sebelah terdengar samar, dan Sofia tetap indah dengan cahayanya. Dunia tetap berjalan, dan Elena mulai belajar untuk melepaskannya.

Optimasi & Navigasi Pembaca:

Bab ini menggambarkan realitas psikologis "social death" yang sering dialami oleh penderita penyakit terminal atau mereka yang terasing secara sosial. Untuk informasi mengenai kesehatan mental dan cara menghadapi pengabaian keluarga, Anda dapat mengunjungi Mental Health Foundation.

Nantikan Bab 9: Zikir dalam Kesunyian Apartemen Sempit, di mana Elena akan menemukan kedamaian spiritual yang tak terduga tepat sebelum kondisinya mencapai titik kritis. Baca artikel inspiratif lainnya tentang kekuatan doa di Islam Online.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default