Konflik kecil antara Sarah dan Aisyah telah berlalu, digantikan oleh kehangatan kolaborasi membuat Dubai Chocolate baru yang sukses besar. Kehidupan keluarga Rahmat kembali normal, diwarnai rutinitas khas Banjarmasin: pagi yang sibuk di pasar, siang yang santai, dan sore yang penuh aroma masakan.
Suatu sore, saat Ayah Rahmat sedang menyiram tanaman di halaman depan, sebuah truk pindahan berhenti di depan rumah kosong di sebelah mereka. Rumah itu sudah lama tak berpenghuni. Ayah Rahmat segera menghampiri, dengan keramahan khas Banjar yang suka bertegur sapa.
"Assalamualaikum, Pak. Mau pindahan ya? Selamat datang di komplek kami," sapa Ayah Rahmat ramah kepada seorang pria yang sedang sibuk mengawasi barang-barang.
Pria itu menoleh dan tersenyum. "Waalaikumsalam, Pak. Iya, kami sekeluarga baru pindah dari Jawa Tengah, tepatnya Solo. Nama saya Aris."
"Saya Rahmat, tetangga sebelah. Panggil saja Pak Rahmat," jawab Ayah Rahmat, mengulurkan tangan.
Ibu Salma, yang melihat kejadian itu dari jendela, segera mengajak Sarah dan Aisyah menyiapkan penganan kecil untuk menyambut tetangga baru. Ini adalah tradisi Islami yang kuat dipegang keluarga Rahmat: memuliakan tamu dan tetangga.
"Kita bawakan apa ya, Bu?" tanya Sarah.
"Kita bawakan sesuatu yang khas Banjar biar mereka tahu makanan sini," usul Ibu Salma. "Buatkan Pundut sama Buras saja."
Pundut adalah makanan khas Banjar yang terbuat dari beras yang dimasak dengan santan dan dibungkus daun pisang, mirip lontong tapi lebih gurih dan medok rasanya. Biasanya disajikan dengan kuah santan ikan yang gurih. Buras juga serupa, tapi isinya ketan putih.
Tak lama kemudian, Ibu Salma, Sarah, dan Aisyah membawa nampan berisi piring-piring Pundut dan Buras ke rumah Pak Aris.
"Assalamualaikum, Pak Aris, Bu Aris. Kami tetangga sebelah, ini ada sedikit penganan untuk penyambutan," ujar Ibu Salma ramah kepada Bu Aris dan suaminya yang sedang istirahat.
Bu Aris, seorang wanita Jawa yang halus tutur katanya, menyambut dengan senyum sumringah. "Waalaikumsalam. Ya Allah, repot-repot sekali, Bu. Terima kasih banyak."
Mereka pun duduk bersama di teras, ngobrol santai. Keluarga Pak Aris punya dua anak, sebaya dengan Aisyah dan Zaki. Obrolan mengalir tentang perbedaan budaya dan kuliner antara Banjar dan Jawa.
"Ini namanya Pundut, Bu. Lauknya pakai kuah ikan," jelas Ibu Salma sambil menawarkan.
Bu Aris dan keluarganya mencoba Pundut dan Buras dengan antusias. Wajah mereka menunjukkan ekspresi penasaran dengan rasa yang unik itu.
"Rasanya unik sekali, Bu Salma. Lebih gurih dan kental ya kuahnya daripada lontong sayur Jawa," komentar Pak Aris. "Kalau di Solo, kami biasanya makan Nasi Liwet atau Gudeg."
"Wah, saya juga penasaran sama Gudeg Jogja yang manis itu. Belum pernah coba yang asli," Ayah Rahmat menimpali.
"Kapan-kapan saya masakkan, Pak Rahmat. Kami senang sekali bisa punya tetangga seramah ini," ujar Bu Aris tulus.
Aisyah dan Sarah mengobrol dengan Sari (anak perempuan Pak Aris) tentang sekolah dan media sosial. Zaki langsung akrab dengan Adi (anak laki-laki Pak Aris) yang ternyata sama-sama suka main game.
Interaksi sore itu penuh kehangatan. Keluarga Rahmat dan keluarga Aris belajar tentang perbedaan budaya dan kuliner yang justru memperkaya kehidupan mereka. Mereka belajar bahwa meskipun berbeda suku dan tradisi makanan, nilai-nilai kemanusiaan, keramahan, dan saling menghormati adalah bahasa universal yang mengikat mereka sebagai tetangga dan sesama muslim. Sore itu, di bawah langit Banjarmasin yang teduh, dua budaya bertemu dan mulai menenun benang silaturahmi yang indah.
