Hari Sabtu yang dinanti akhirnya tiba. Kompleks Gedung Serbaguna Tabalong di kawasan Pembataan tampak ramai sejak subuh. Truk logistik Halida Wedding Organizer sudah terparkir gagah di area bongkar muat. Hari ini adalah pembuktian besar bagi Halida. Konsep "Avengers Syar'i Modern" pesanan Hendra dan Nisrina harus diwujudkan dalam waktu kurang dari dua belas jam.
"Dani! Pasang kain tirai infishal pemisah saf pria dan wanitanya agak digeser ke kanan. Pastikan siluet gambar gedung futuristiknya tersambung rapi!" teriak Halida menggunakan pengeras suara kecil, berdiri di tengah ruangan gedung yang masih berantakan.
Hijab marunnya sudah agak berantakan, dan beberapa helai daun melati segar menempel di gamis kerjanya. Sejak pukul lima subuh, Halida sudah berkutat dengan kawat, paku, dan busa dekorasi.
"Siap, Bos! Aman terkendali!" sahut Dani dari atas perancah besi setinggi tiga meter.
Di sudut lain, Fikri tampak sibuk membantu tim dekorasi. Mengenakan kaus oblong hitam dan celana kargo, mahasiswa magang itu terlihat cekatan memotong stereofom besar membentuk kaligrafi bergaya font tegas khas pahlawan super Amerika. Kehadiran Fikri di lokasi hari itu murni sebagai relawan sukarela, sebuah tindakan yang membuat jantung Halida berdegup tidak karuan setiap kali mereka tidak sengaja berpapasan pandang.
"Ustadzah Halida, ini kaligrafi lafaz Sakinah yang bergaya Avengers sudah selesai ulun potong. Mau dipasang di sebelah mana?" tanya Fikri sambil menyeka keringat di dahinya menggunakan lengan baju.
"Eh, Mas Fikri. Taruh di panel tengah saja, Mas. Samping kanan dekorasi lampu LED biru," jawab Halida agak gugup, buru-buru memalingkan wajah pura-pura memeriksa tumpukan suvenir.
Tepat pukul sebelas siang, suasana yang tadinya terkontrol mendadak berubah menjadi kepanikan massal. Pintu utama gedung serbaguna terbuka lebar. Sosok pria sepuh mengenakan jubah putih panjang, serban hijau di pundak, dan peci putih berjalan masuk dengan langkah berwibawa. Beliau adalah Haji Mansyur, ayah kandung Nisrina sekaligus tokoh ulama garis keras di kampung sebelah.
"Mbak Halida! Celaka, Mbak! Abah saya datang mau inspeksi mendadak!" bisik Nisrina yang mendadak muncul dari ruang rias dengan wajah pucat, padahal wajahnya baru selesai dipulas bedak dasar.
Halida tercekat. Ia melirik ke arah panggung pelaminan yang baru setengah jadi. Lampu LED biru futuristik sedang menyala terang, dan papan kaligrafi bergaya pahlawan super sudah terpasang gagah. Di sisi lain, tirai pembatas saf tamu juga baru terpasang setengahnya.
"Assalamualaikum," suara berat Haji Mansyur menggema di dalam gedung, menghentikan seluruh aktivitas kru dekorasi yang sedang memaku papan.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Selamat datang, Abah Haji Mansyur," Halida memberanikan diri maju ke depan, menyambut sang kiai dengan senyuman paling takzim yang ia miliki.
Haji Mansyur mengedarkan pandangannya yang tajam ke sekeliling gedung. Matanya terpaku pada lampu-lampu LED biru dan dekorasi siluet kota malam hari yang menghiasi kain pembatas. Dahinya mengernyit dalam, membuat bulu kuduk Halida meremang.
"Ini... konsep pernikahan islami macam apa yang kalian bikin? Kenapa suasananya gelap-gelap kebiruan seperti tempat pertunjukan komedi? Di mana dekorasi khas Banjar yang religius? Mana hiasan janur kuning dan payung ubur-ubur adat?" tanya Haji Mansyur dengan nada suara yang berat dan penuh tuntutan.
Hendra yang baru saja datang mengenakan jas hitam dengan sapu tangan merah di kantongnya langsung ciut. Ia bersembunyi di balik punggung Dani yang berbadan besar.
Sebelum Halida sempat membuka suara untuk berdiplomasi, Fikri melangkah maju dari arah belakang panggung. Ia membawa sebuah papan klip berisi draf konsep acuan yang tempo hari mereka diskusikan.
"Mohon izin menjelaskan, Abah Haji," ujar Fikri dengan suara yang sangat tenang, lembut, dan menggunakan bahasa Banjar halus (bahasa daerah krama) yang sangat fasih. "Ulun Muhammad Fikri, tim konseptor dari WO Ustadzah Halida. Warna biru tua dan siluet yang Abah lihat di kain pembatas ini sebenarnya adalah simbolisasi dari waktu Sepertiga Malam Terakhir di Kota Tanjung."
Halida menoleh ke arah Fikri dengan mata membelalak. Sepertiga malam dari mana? Itu kan konsep siluet kota Gotham dan New York versi Avengers! batin Halida berteriak kaget.
Fikri melanjutkan penjelasannya dengan wajah tanpa dosa yang sangat meyakinkan. "Kami sengaja mengambil tema malam hari, Abah. Sebab, di sepertiga malam itulah doa-doa terbaik dipanjatkan, dan waktu di mana Allah SWT turun ke langit dunia untuk mengabulkan hajat hamba-Nya. Kami ingin para tamu yang datang ke sini mengingat pentingnya salat tahajud dan kekhusyukan ibadah rumah tangga yang akan dibangun oleh anak pian, Nisrina, dan Mas Hendra."
Haji Mansyur terdiam sejenak. Kerutan di dahinya perlahan mulai mengendur. "Oh... jadi ini maknanya waktu sepertiga malam? Lalu, itu tulisan Arab di atas panggung kenapa bentuk hurufnya kaku-kaku begitu? Tidak seperti khat naskhi di kitab suci?"
Fikri tersenyum tipis, lalu menunjuk kaligrafi tersebut. "Nah, kalau yang itu namanya Khat Kufi Kontemporer Modern, Abah. Bentuknya sengaja dibuat tegas, tebal, dan kokoh. Maknanya adalah lambang dari ketegasan seorang suami sebagai pemimpin rumah tangga. Suami harus kuat seperti tiang fondasi masjid, tidak boleh lembek menghadapi badai ujian kehidupan. Ustadzah Halida sengaja memilihkan jenis tulisan ini agar Mas Hendra selalu ingat tanggung jawab besarnya sebagai pelindung keluarga."
Mendengar penjelasan Fikri yang sangat filosofis dan sarat akan nilai-nilai agama, wajah Haji Mansyur berubah total. Senyum puas terukir di wajah sepuhnya. Beliau menepuk-nepuk bahu Fikri dengan penuh rasa kagum.
"Masya Allah... luar biasa sekali pemikiran kalian ini. Anak muda zaman sekarang tapi pemikirannya sangat dalam dan religius. Saya pikir tadi ini konsep barat yang aneh-aneh. Kalau begitu maknanya, saya sangat setuju dan rida! Lanjutkan pekerjaannya, Nak Fikri, Mbak Halida. Saya mau kembali ke rumah untuk bersiap-siap," ujar Haji Mansyur penuh kemenangan, lalu melangkah pergi meninggalkan gedung dengan hati yang tenang.
Begitu pintu gedung kembali tertutup, seluruh kru WO langsung terduduk lemas di lantai. Hendra dan Nisrina bernapas lega seolah baru saja lolos dari lubang jarum.
Halida berjalan mendekati Fikri, menatap mahasiswa magangnya itu dengan kombinasi rasa kagum dan ingin tertawa geli. "Mas Fikri... pian ini bujuran pintar memutarbalikkan fakta, lah. Sepertiga malam dan ketegasan suami? Otak matematika pian kok bisa berubah jadi otak pujangga begini?"
Fikri terkekeh renyah, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kargo. "Itu namanya ilmu pencocokan logika, Ustadzah Halida. Dalam matematika, kita sebut sebagai pembuktian tidak langsung. Yang penting kan tujuannya baik, membuat orang tua rida dan impian klien tetap terwujud tanpa melanggar syariat agama."
Halida menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum manis. Di usianya yang ke-25 ini, menghadapi kerumitan dunia kerja ternyata terasa jauh lebih ringan dan penuh tawa sejak kehadiran sosok Fikri di sampingnya. Namun, di tengah rasa lega itu, Halida tidak menyadari bahwa di luar gedung, Rahmat dan tim Spionase Jodoh 8B baru saja turun dari sepeda ontel mereka, siap menjalankan misi pemantauan tingkat lanjut untuk hari esok.
Bagaimana keseruan hari H pernikahan Avengers Syar'i ini? Hubungan Halida dan Fikri semakin dekat lewat kerja sama tim yang solid.
