Bab 10: Fikri & Lagu Lawas

Bab 10: Fikri & Lagu Lawas

Lev
0

Malam itu, Kompleks Griya Indah diselimuti keheningan. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Semua anggota keluarga Salman sudah terlelap, kecuali Fikri. Ayah empat anak itu masih terjaga, duduk di ruang kerja kecilnya.

Fikri sedang merasa penat. Hari ini cukup berat di kantor pemerintahan Kota Banjarbaru. Ada beberapa proyek infrastruktur yang harus diselesaikan, dan tekanan pekerjaan membuatnya sedikit stres. Dia butuh pelampiasan yang sehat dan Islami.

Sambil memandangi foto keluarga yang terpajang di meja kerja, Fikri meraih headphone lamanya. Dia tidak ingin mengganggu Aisyah dan anak-anaknya yang sedang tidur. Dia tahu persis apa yang bisa menenangkan hatinya.

Dia membuka aplikasi musik di komputernya dan membuka playlist khusus: "Pengobat Rindu Era 80-an". Fikri memasang headphone di telinganya dan menekan tombol play.

Mengalunlah lagu “Camelia” dari Ebiet G. Ade. Lirik puitis tentang seorang pengembara dan kesetiaan Camelia yang misterius itu langsung merasuk ke jiwa Fikri. Dia mulai bersenandung pelan, suaranya teredam oleh headphone, tapi ekspresinya menunjukkan penghayatan yang mendalam.

Bagi Fikri, lagu-lagu lawas Indonesia, terutama karya Ebiet G. Ade atau Chrisye, bukan sekadar hiburan. Itu adalah media refleksi, pengingat akan nilai-nilai hidup, alam, dan ketuhanan yang sering terselip dalam liriknya.

Fikri hanyut dalam nostalgia dan ketenangan. Dia memejamkan mata, menikmati setiap notasi dan kata-kata yang mengalir.

Namun, di lantai atas, Rizki, si sulung, ternyata juga belum tidur. Dia sedang menyelesaikan tugas kuliahnya. Samar-samar, dia mendengar suara Ayahnya bersenandung dari bawah. Rizki penasaran. Dia mengendap-endap menuruni tangga.

Zahra juga terbangun, ingin mengambil air minum ke dapur. Dia melihat lampu ruang kerja Ayahnya menyala dan mendengar suara dengungan halus. Dia ikut mengendap di belakang Rizki.

Mereka berdua mengintip dari balik pintu ruang kerja yang sedikit terbuka.

Di dalam, Fikri sedang asyik, kini berganti lagu “Kidung” milik Chrisye. Dia bahkan sudah berdiri, berakting seolah-olah dia sedang konser tunggal di panggung megah, lengkap dengan gerakan tangan dramatis.

“Kau lukiskan dunia… dalam notasi…” Fikri bernyanyi dengan penuh perasaan, melengking di bagian reff.

Rizki dan Zahra saling pandang, menahan tawa mati-matian. Melihat Ayahnya yang PNS kalem bisa se-dramatis itu, sungguh pemandangan langka.

Tiba-tiba, Fahmi muncul dari belakang mereka. Dia juga terbangun karena kebelet ke kamar mandi. Fahmi tidak bisa menahan tawanya.

“HAHAHA! Ayah jadi penyanyi dangdut!” Fahmi tertawa terbahak-bahak, membuat Fikri terkejut setengah mati.
Fikri langsung melepas headphone-nya. Wajahnya langsung memerah padam karena malu ketahuan oleh ketiga anaknya.
“Kalian! Ngapain ngintip-ngintip?!” Fikri mencoba bersikap tegas, tapi gagal total.

Aisyah, yang terbangun karena tawa Fahmi, juga ikut datang ke ruang kerja. Dia melihat suaminya salah tingkah, anak-anaknya masih cekikikan.

“Ada apa ini ribut-ribut tengah malam?” tanya Aisyah.

“Ayah, Umi! Ayah tadi nyanyi kayak Ebiet G. Ade mau konser! Lucu banget!” lapor Fahmi tanpa dosa.

Aisyah tersenyum melihat suaminya. “Mas, Mas. Katanya stres kerja, kok malah konser tengah malam?”

Fikri akhirnya pasrah. Dia tertawa malu. “Ya habis, lagu-lagu lawas ini obat stres paling mujarab, Mi. Menenangkan hati dan pikiran.”

Rizki menimpali, “Asal jangan kebablasan nyanyinya, Yah. Nanti dikira orang kesurupan di kompleks Banjarbaru ini.”

Malam itu, ruang kerja yang tadinya sunyi berubah menjadi hangat oleh tawa keluarga Salman. Fikri belajar bahwa kadang-kadang, mengekspresikan diri melalui musik—meskipun secara tersembunyi—adalah cara yang baik untuk menjaga kesehatan mental. Dan keluarganya belajar bahwa Ayah mereka, di balik sosok PNS yang serius, adalah seorang penyanyi tersembunyi yang menggemari lagu-lagu legendaris Indonesia.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default