Bab 12: Gresik, Kota Para Mursyid

Bab 12: Gresik, Kota Para Mursyid

Lev
0

Pagi masih buta ketika Lev, Anindya, dan Aisyah meninggalkan guesthouse di kawasan Ampel Surabaya. Hari ini, mereka akan melanjutkan perjalanan ke Gresik, kota pelabuhan tua yang menjadi gerbang masuknya Islam ke tanah Jawa. Jaraknya hanya sekitar satu jam perjalanan dengan mobil, tetapi Lev sengaja berangkat pagi untuk menghindari macet dan mendapatkan suasana khidmat di makam para waliyullah.

"Mas, di Gresik ini ada dua wali kan ya? Sunan Gresik sama Sunan Giri?" tanya Anindya sambil menyusu Aisyah di kursi belakang.

"Betul, Nindya. Pertama, kita ke makam Maulana Malik Ibrahim, atau Sunan Gresik. Beliau ini yang paling sepuh, yang pertama kali menyebarkan Islam di Jawa. Dijuluki Wali Qutub," jelas Lev.

Mereka tiba di area kompleks makam Maulana Malik Ibrahim di Desa Gapurosukolilo saat matahari mulai menampakkan sinarnya. Suasana di sini terasa sangat kuno dan bersejarah. Kompleks makamnya berada di area masjid kuno yang sudah direnovasi, namun beberapa bagian asli masih dipertahankan.

Anindya dan Lev terkesan dengan arsitektur makam Sunan Gresik. Batu nisan dan jirat (kijing) makamnya terbuat dari batu pualam yang diukir dengan kaligrafi Arab yang indah, didatangkan langsung dari Gujarat, India. Ini menunjukkan betapa pentingnya peran Sunan Gresik di masanya.

"Subhanallah, indah sekali ukirannya, Mas. Detailnya halus banget," puji Anindya, mengusap pelan ukiran kaligrafi di sisi makam.

Mereka berdoa dan membaca tahlil dengan khusyuk. Lev merenungkan metode dakwah Sunan Gresik yang sangat adaptif. Beliau dikenal pandai berdagang, bergaul dengan masyarakat, dan mengobati orang sakit, sehingga dakwahnya diterima dengan tangan terbuka tanpa paksaan.

"Beliau mengajarkan kita bahwa berdakwah itu nggak harus selalu di mimbar masjid, Nindya. Di pasar, di tempat kerja, bahkan dengan sikap ramah dan tolong-menolong aja itu sudah dakwah," bisik Lev pada Anindya.

Aisyah kali ini lebih tenang, terpesona oleh banyaknya burung merpati yang terbang di sekitar area masjid. Dia sibuk menaburkan remahan biskuitnya untuk burung-burung itu.

Setelah selesai berziarah di makam Sunan Gresik, mereka melanjutkan perjalanan singkat ke area Giri Kedaton, kompleks makam Sunan Giri atau Raden Paku. Lokasinya berada di atas sebuah bukit kecil.

"Mas, kok makamnya di atas bukit gini?" tanya Anindya saat mereka mulai menapaki anak tangga menuju kompleks makam.

"Sunan Giri ini mendirikan pesantren di sini, yang kemudian berkembang jadi pusat pemerintahan Giri Kedaton. Jadi, lokasinya memang strategis untuk pendidikan dan pertahanan," jelas Lev.

Mendaki anak tangga sambil menggendong Aisyah yang mulai rewel karena lelah menjadi tantangan fisik tersendiri bagi Lev dan Anindya. Tapi setibanya di atas, pemandangan kota Gresik dari ketinggian dan kesejukan udara di area makam membayar lunas lelah mereka.

Area makam Sunan Giri sangat indah dan artistik. Pintu gerbangnya berupa Candi Bentar dan Paduraksa yang berukir rumit, mencerminkan akulturasi budaya Hindu-Buddha dengan Islam pada masa itu.

Mereka kembali berdoa di area makam. Sunan Giri dikenal sebagai pencipta berbagai permainan anak-anak dan kesenian tradisional Jawa yang bernapaskan Islam, seperti Jelungan dan Cublak-cublak Suweng. Metode dakwahnya yang kreatif dan ramah anak membuat Lev terinspirasi sebagai seorang ayah.

"Beliau ini pintar banget ya, Mas. Lewat mainan aja bisa nyelipin nilai-nilai agama," kata Anindya kagum.

Sore harinya, mereka turun dari bukit dan kembali ke mobil. Perut mereka sudah keroncongan. Mereka mampir ke sebuah warung makan di pinggir jalan Gresik yang viral dengan menu Nasi Krawu yang khas, dengan suwiran daging sapi dan serundeng tiga warna.

"Mbak, Nasi Krawunya tiga porsi ya, pedasnya sedang aja," pesan Lev.

"Abi, Aisyah mau kerupuk yang besar itu!" tunjuk Aisyah pada kerupuk putih bundar besar khas Krawu.

Mereka makan dengan lahap, menikmati kuliner lokal yang kaya rasa. Kunjungan ke Gresik memberikan pelajaran berharga tentang kreativitas, adaptasi budaya, dan pentingnya pendidikan dalam menyebarkan nilai-nilai luhur. Nazar mereka di Gresik tuntas, hati mereka semakin penuh hikmah. Besok, perjalanan akan berlanjut ke Lamongan, ke makam Sunan Drajat yang terkenal dengan jiwa sosialnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default