Syekh, pemandu spiritual Vania, menjelaskan bahwa ada satu cara yang diizinkan Allah agar kerinduan itu terobati tanpa melanggar hukum alam barzakh: melalui mimpi yang hakiki (ru'ya shadiqah).
"Mimpi dari Allah adalah cara komunikasi yang sah antara yang hidup dan yang mati, bukan tipu daya setan," jelas Syekh. "Jika niatmu murni untuk menenangkan mereka dan memberikan petunjuk, Allah akan mengizinkannya."
Vania memohon izin kepada Allah dengan sepenuh hati. Dia ingin sekali lagi meyakinkan orang tuanya bahwa dia baik-baik saja, dan memberikan ketenangan pada Lev agar dia bisa melanjutkan hidupnya tanpa rasa bersalah.
Malam itu, di Banjarmasin, Bu Fatma tertidur setelah lelah seharian mengurus rumah dan menerima tamu. Dalam mimpinya, Bu Fatma berjalan di sebuah taman yang indah, penuh bunga anggrek bulan putih—bunga favorit Vania. Vania muncul, mengenakan mukena putih bersih, wajahnya berseri-seri, jauh lebih sehat dan cantik daripada saat terakhir di dunia.
"Ibu..." panggil Vania dalam mimpi itu, suaranya seperti melodi yang menenangkan.
Bu Fatma terkejut, air matanya tumpah dalam tidur. "Vania, anakku! Kamu di mana? Kamu baik-baik saja?"
"Alhamdulillah, Bu, Vania bahagia di sini. Tidak ada sakit lagi. Ibu jangan sedih terus, ya. Doa Ibu sampai ke Vania," kata Vania, memeluk ibunya dalam mimpi itu. Pelukan spiritual yang terasa nyata bagi Bu Fatma.
Bu Fatma terbangun di pagi hari dengan hati yang ringan dan damai. Kerudung kesedihan yang menyelubunginya selama ini terasa terangkat. Dia yakin Vania telah berada di tempat yang baik.
Giliran Lev Ryley. Beberapa malam kemudian, Vania diizinkan untuk 'mengunjungi' mimpi Lev. Lev berada di tepi Sungai Martapura, termenung. Vania mendekatinya, memegang bahunya dengan lembut.
"Lev, lanjutkan hidupmu. Aku sudah ikhlas," bisik Vania.
Dalam mimpinya, Lev menoleh, matanya penuh kerinduan. "Vania? Kamu nyata?"
"Aku nyata dalam mimpimu, Lev. Aku bahagia. Tugasmu sekarang adalah bahagia di dunia, beribadah yang rajin, dan jangan lupakan Allah. Aku menunggumu di sana," kata Vania, menunjuk ke arah langit.
Lev terbangun dengan degup jantung kencang, tapi ada resolusi baru di matanya. Mimpinya terasa begitu hidup, begitu nyata, dan penuh pesan Islami. Bukan hantu atau roh gentayangan, melainkan pesan cinta yang diizinkan oleh Sang Pencipta.
Dari alam barzakh, Vania merasakan kepuasan luar biasa. Cahaya dari hati Bu Fatma dan Lev menjadi lebih stabil dan terang. Dia telah berhasil menyampaikan pesannya melalui cara yang paling Islami dan indah. Kerinduannya teredam, dan dia siap untuk babak selanjutnya dalam petualangan spiritualnya.
