Setelah menempuh perjalanan yang panjang, mobil yang dikendarai Sindy akhirnya memasuki kota Chicago. Lev merasakan perpaduan antara pesona historis dan modernitas yang kuat dari kota ini. Gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, dengan arsitektur klasik yang indah, berjejer rapi. Di tengah hiruk pikuk kota, Lev menemukan ketenangan, yang membuatnya teringat pada pesan ayahnya tentang menebar rahmat di mana pun kaki berpijak.
Sindy, yang menyadari Lev sedang melamun, menepuk pundaknya. “Lev! Bangun! Jangan melamun terus. Kita sudah sampai di Kota Angin!” serunya, dengan nada ceria.
Lev tersenyum. “Aku tidak melamun, Sindy. Aku hanya terkesan. Kota ini indah sekali.”
“Iya, kan? Chicago memang punya pesona tersendiri,” kata Sindy.
Mereka menyewa sebuah kamar di rumah seorang wanita tua bernama Mrs. Rodriguez. Ia adalah seorang imigran dari Meksiko yang sudah lama tinggal di Chicago. Mrs. Rodriguez menyambut mereka dengan hangat, meskipun ia hanya bisa berbicara sedikit bahasa Inggris. Lev, yang pernah belajar bahasa Spanyol di sekolah, berusaha berkomunikasi dengan Mrs. Rodriguez.
“Buenas noches, señora,” sapa Lev, dengan sedikit terbata-bata.
Mrs. Rodriguez tersenyum. “Buenas noches, hijo. Welcome to my home,” katanya, dengan logat khas Meksiko.
Sindy, yang tidak mengerti bahasa Spanyol, hanya bisa mengangguk dan tersenyum.
Di rumah Mrs. Rodriguez, Lev dan Sindy merasa seperti berada di rumah sendiri. Mrs. Rodriguez memasak makanan-makanan lezat untuk mereka, dan ia selalu memastikan mereka merasa nyaman. Ia juga sering bercerita tentang kehidupannya sebagai imigran di Chicago. Ia bercerita tentang perjuangan yang ia hadapi, tentang diskriminasi yang ia terima, tetapi juga tentang kebaikan yang ia dapatkan dari orang-orang.
“Es difícil. Sulit, Nak. Tapi kita tidak boleh menyerah. Tuhan pasti akan membantu,” kata Mrs. Rodriguez, dengan mata berkaca-kaca.
Lev mengangguk. Ia tahu, Mrs. Rodriguez benar. Perjuangan para imigran di Chicago tidaklah mudah.
Di Chicago, Lev dan Sindy mengunjungi banyak tempat. Mereka mengunjungi Millenium Park, tempat di mana mereka melihat The Bean, sebuah patung perak raksasa yang memantulkan pemandangan kota. Mereka juga mengunjungi Navy Pier, sebuah dermaga yang dipenuhi dengan wahana permainan dan restoran.
Di sana, mereka bertemu dengan seorang pemuda bernama Faruq. Ia adalah seorang imigran dari Pakistan yang sudah lama tinggal di Chicago. Faruq bekerja sebagai penjual es krim di Navy Pier. Ia menyambut Lev dan Sindy dengan ramah, dan ia langsung akrab dengan Lev.
“Assalamualaikum. Dari mana, Bro?” tanya Faruq, dengan senyum ramah.
“Waalaikumsalam. Dari Indonesia,” jawab Lev.
“Subhanallah. Jauh sekali. Saya dari Pakistan. Sudah lama di sini,” kata Faruq.
Faruq bercerita tentang kehidupannya sebagai imigran di Chicago. Ia bercerita tentang perjuangan yang ia hadapi, tetapi juga tentang harapan yang ia miliki. Ia mengatakan, di Chicago, ia bisa mewujudkan mimpinya.
“Di sini, kita bisa jadi apa saja yang kita mau. Asalkan kita kerja keras dan tidak menyerah,” kata Faruq.
Lev terinspirasi. Ia melihat bahwa di balik hiruk pikuk kota, ada kisah-kisah perjuangan yang mengharukan. Ia juga melihat bahwa di Chicago, ada komunitas Muslim yang kuat dan saling mendukung.
“See? Aku bilang juga apa. Chicago itu kota yang penuh cerita,” kata Sindy, dengan senyum bangga.
Lev mengangguk. Ia tahu, Sindy benar. Chicago bukan hanya tentang gedung-gedung tinggi. Chicago adalah tentang manusia, tentang perjuangan, dan tentang harapan.
Malam itu, di rumah Mrs. Rodriguez, Lev dan Sindy berdiskusi.
“Sindy, aku jadi berpikir. Kita ini juga imigran, ya?” tanya Lev.
Sindy tersenyum. “Tentu saja. Tapi kita imigran yang suka jalan-jalan. Bukan imigran yang mencari suaka.”
“Sama saja. Kita juga harus berjuang,” kata Lev.
Sindy mengangguk. Ia tahu, Lev benar. Mereka berdua adalah imigran di tanah asing. Tetapi mereka tidak sendirian. Mereka punya satu sama lain. Dan yang paling penting, mereka punya iman. Di Chicago, Lev dan Sindy belajar bahwa iman tidak mengenal batas. Iman itu bisa tumbuh di mana saja, di tengah-tengah kota yang ramai, atau di tengah-tengah komunitas yang beragam. Perjalanan mereka masih jauh, tetapi mereka tahu, mereka sudah memiliki bekal yang cukup.
