Bab 5: Ba-papadah di Tengah Laut dan Diplomasi Ikan Kering

Bab 5: Ba-papadah di Tengah Laut dan Diplomasi Ikan Kering

Lev
0
"Ikuti perjalanan seru dan mengharukan Muhammad Hifni dan Rina Rufida dalam Novel Islami 'Bahtera Rindu'. Kisah perjalanan haji dari Martapura tahun 1795 melintasi samudera. Perpaduan sejarah, religi, dan komedi kehidupan keluarga yang menginspirasi."


Perairan Laut Jawa, Mei 1795 Masehi

Kapal Bintang Samudera kini benar-benar telah meninggalkan bayang-bayang daratan Kalimantan. Sejauh mata memandang, hanya ada garis horizontal biru yang memisahkan langit dan air. Bagi Muhammad Hifni, ini adalah momen paling syahdu sekaligus mendebarkan.

Di atas dek yang bergoyang, sekelompok jemaah asal Banjar berkumpul. Mereka melakukan tradisi ba-papadah (berpamitan/berwasiat) terakhir secara kolektif. Suasananya haru. Mereka saling meminta maaf kalau-kalau perjalanan ini menjadi akhir dari hayat mereka.

Hifni berdiri di tengah lingkaran, memegang catatan kecilnya. "Saudara-saudaraku, kita sudah meninggalkan Martapura. Di depan kita adalah ujian. Jangan sampai lisan kita rusak karena mengeluh tentang sempitnya ruang tidur atau kerasnya nasi kapal."

Rina Rufida, yang berdiri di sampingnya, mengangguk khusyuk. Namun, kekhusyukan itu buyar ketika perutnya memberikan sinyal darurat.

"Abah..." bisik Rina, wajahnya berubah pucat seputih kain kafan. "Sepertinya my stomach tidak bisa diajak kompromi dengan ombak ini. I feel like... mau tumpah."

Hifni panik. "Rina, tahan! Jangan tumpah di depan jemaah yang sedang berzikir!"

Rina segera berlari ke pinggir kapal, diikuti oleh Khalisa yang justru kegirangan melihat ibunya berlari. "Ummi! Ummi mau kasih makan ikan ya?" teriak si kecil dengan polosnya.

Mabuk laut melanda hampir separuh penumpang. Rina, sang ahli bahasa Inggris kebanggaan kampung Melayu, kini hanya bisa terbaring lemas di atas peti ulinnya. Lidahnya yang biasanya lincah mengucapkan "Good morning" kini hanya bisa bergumam, "Adauuu... perutku... very sick."

Hifni, sebagai suami yang siaga (dan sedikit takut istrinya benar-benar jatuh sakit), mulai melakukan aksi diplomasi. Ia mengambil bungkusan rahasia dari tasnya: Ikan karing (ikan asin) sapat yang digoreng kering dengan asam jawa.

Baunya yang menyengat langsung memenuhi ruang dek yang pengap.

"Hifni! Bau apa ini?" tanya seorang jemaah asal Palembang yang terbaring di sebelah mereka. "Seperti bau surga tapi tajam sekali!"

"Ini obat mujarab dari Martapura," jawab Hifni bangga. Ia menyuapkan secuil ikan itu ke mulut Rina.

Ajaib! Begitu rasa asin dan asam menyentuh lidah Rina, matanya langsung terbuka lebar. Semangatnya kembali seolah-olah baru saja memenangkan lotre kesultanan.

"Oh, My God... Abah, ini lebih enak daripada cokelat orang Inggris!" seru Rina, suaranya kembali lantang.

Kapten Daeng Malaka yang kebetulan lewat mencium aroma tersebut. Ia berhenti dan menatap ikan kecil di tangan Hifni dengan mata berbinar. "Hifni, apa itu? Baunya mengingatkanku pada masakan ibuku di kampung."

Hifni tersenyum cerdik. Inilah saatnya. "Ini bekal kami, Kapten. Jika Kapten mengizinkan istri saya menggunakan dapur kapal untuk memanaskan ini, saya rasa seluruh kru kapal akan bekerja lebih semangat hari ini."

Kapten Daeng tertawa. "Kau memang PNS yang licin, Hifni! Baiklah, bawa istrimu ke dapur. Tapi ingat, jangan sampai baunya membuat ikan hiu mengejar kapal kita!"

Mei 2026

Zain hampir tersedak kopi saat membaca bagian "Diplomasi Ikan Sapat" di catatan tersebut. Ia duduk di teras rumahnya yang menghadap ke arah sungai, memikirkan betapa hebatnya nenek moyangnya bertahan hidup.

"Luar biasa," gumam Zain. "Ternyata ikan asin adalah kunci perdamaian dunia di tahun 1795."

Zain kemudian mengambil ponselnya dan menelepon ibunya. "Bu, masih ada stok ikan sapat kering? Aku ingin memasaknya sambil menulis bab selanjutnya. Aku ingin merasakan apa yang Nenek Rina rasakan saat di tengah laut."

Di platform digitalnya, Zain menuliskan update terbaru:

“Bab 5: Pelajaran hari ini adalah tentang ketahanan pangan. Di saat bahasa Inggris gagal menyelamatkan mual, ikan asin sapat Martapura turun tangan. Kadang, solusi untuk masalah besar di dunia ini hanyalah sepotong ikan asin yang tepat. #IkanSapatDiplomacy #Haji1795 #ZainJournal”

Pembaca Zain di tahun 2026 mulai ramai berkomentar. Beberapa dari mereka yang sedang merantau di luar negeri bahkan curhat tentang betapa berharganya makanan kampung halaman mereka, persis seperti yang dirasakan Rina Rufida ratusan tahun silam.

Intip Bab 6 (Juni 2026):

Persinggahan di Malaka: Rina akhirnya bisa mempraktikkan bahasa Inggrisnya secara nyata di pasar Malaka yang sibuk.

Kejadian Lucu: Hifni hampir tertinggal kapal karena terlalu lama menawar tasbih di pelabuhan.

Pertanyaan Khalisa: "Abah, kenapa orang di sini bicaranya seperti burung berkicau?"

Pertanyaan untuk Pembaca: "Apa makanan penyelamat kalian saat sedang sakit atau merasa sedih di perjalanan?"

Sampai jumpa di Bab 6 pada bulan Juni 2026!

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default