Pagi di Amuntai, setelah insiden dengan bebek Alabio, Lev dan Rauf memutuskan untuk melanjutkan petualangan mereka. Rencana hari ini: menjelajahi danau-danau yang ada di sekitar Amuntai. Daerah ini memang terkenal dengan perairan dan rawa-rawanya.
"Rauf, siap-siap. Ini bakal jadi petualangan air. Danau, perahu, pasti seru," ucap Lev, matanya berbinar.
Rauf mengangguk, kali ini tanpa banyak berkomentar. Ia sudah mulai terbiasa dengan ide-ide Lev yang aneh.
Mereka menyewa sebuah perahu kecil dengan seorang pemandu lokal, seorang kakek tua yang ramah. Perahu itu membawa mereka menyusuri danau-danau yang dipenuhi oleh teratai dan eceng gondok. Udara yang sejuk dan pemandangan yang indah, membuat mereka merasa damai.
"Rauf, lihat! Ikan-ikannya kelihatan!" seru Lev, menunjuk ke bawah perahu.
"Ya, Lev. Ikan. Ikan. Jangan heboh," Rauf terkekeh.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang ibu-ibu yang sedang memanen teratai. Ibu itu, dengan senyum ramah, menyapa mereka.
"Assalamualaikum, Nak. Mau coba petik teratai?" tawarnya.
Lev langsung bersemangat. "Waalaikumsalam, Bu. Boleh! Mau coba."
Ibu itu, dengan sabar, mengajari Lev cara memetik teratai. Lev, yang awalnya kikuk, perlahan-lahan mulai bisa memetik teratai dengan benar.
"Bu, kalau boleh tahu, teratai ini buat apa, ya?" tanya Lev, penasaran.
"Buat bikin kue, Nak. Kue teratai. Rasanya enak, lho," jawab ibu itu.
Lev dan Rauf mencicipi kue teratai yang diberikan oleh ibu itu. Rasanya manis, gurih, dan teksturnya unik. Lev langsung jatuh cinta.
Setelah selesai memetik teratai, mereka kembali ke perahu. Lev, yang terlalu bersemangat, tidak sengaja menjatuhkan topi yang dibelinya di Banjarmasin ke dalam danau.
Byur!
"TOPIKU!" jerit Lev.
Rauf panik. "Lev! Jangan lompat! Airnya dalam!"
Lev tidak mendengarkan. Ia melompat dari perahu, berusaha mengambil topinya. Rauf dan pemandu langsung memeganginya, menariknya kembali ke perahu.
"Lev! Kamu gila, ya? Topi bisa dibeli, nyawa enggak!" Rauf memarahi.
Lev yang sudah berada di perahu dengan wajah pucat, hanya bisa pasrah. Topinya, kesayangan Lev, tenggelam ke dasar danau.
Pemandu itu berusaha menenangkan Lev. "Tenang, Nak. Nanti kita cari. Tapi sekarang, jangan panik dulu."
Setelah sampai di ujung danau, mereka mencari topi Lev. Dengan bantuan pemandu dan beberapa warga, mereka menyelam ke dasar danau. Akhirnya, setelah beberapa saat mencari, topi Lev ditemukan. Namun, penuh dengan lumpur.
Lev sedih, tapi juga merasa lega. Ia merasa bersalah karena sudah membahayakan dirinya sendiri demi topi. Ia menatap Rauf, lalu tersenyum tipis.
"Rauf, kamu benar. Nyawa lebih berharga daripada topi," Lev berkata.
Di pinggir danau, mereka bertemu dengan seorang tokoh masyarakat yang sudah tua. Tokoh itu, dengan wajah yang penuh kerutan, tersenyum ramah.
"Anak muda, jangan terlalu khawatir. Rezeki itu sudah ada yang atur. Yang penting, kita bersyukur atas apa yang kita punya," kata tokoh itu, bijak.
Lev mendengarkan dengan seksama. Ia merasa, kakeknya ingin ia belajar hal ini. Belajar tentang arti syukur, tentang pentingnya hidup berdampingan dengan alam, dan tentang menghargai hal-hal kecil.
Malam harinya, di penginapan, Lev dan Rauf duduk di teras, memandang bintang-bintang di langit Amuntai yang cerah.
"Rauf, aku mau catat sesuatu," kata Lev.
"Catat apa lagi?" tanya Rauf.
"Catatan hari ini: Topi yang tenggelam di danau mengajarkanku tentang kesabaran. Bahwa tidak semua hal bisa dilakukan dengan asal-asalan. Ada prosesnya. Dan proses itu, yang bikin kita jadi lebih baik," Lev berkata, sambil menulis di buku catatannya.
Rauf tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Berarti kamu sudah semakin mengerti."
Lev mengangguk. Ia tahu, petualangan ini tidak hanya mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Tapi juga mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Babak ketiga, ternyata juga penuh kejutan. Dan ia, sudah tidak sabar untuk melanjutkan babak-babak selanjutnya.
