Setelah pengalaman berkesan di pantai, Lev dan Jessica kembali disibukkan oleh tugas-tugas kuliah. Sydney, meskipun menawarkan banyak tempat wisata, juga memiliki fasilitas akademis yang luar biasa, salah satunya adalah perpustakaan universitas. Suatu siang, mereka berdua memutuskan untuk mengerjakan tugas bersama di sana.
Awalnya, semua berjalan lancar. Mereka duduk di sebuah meja di sudut perpustakaan, di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi. Lev mengerjakan tugasnya dengan serius, sementara Jessica, dengan kebiasaan khasnya, sesekali menyelinap mencari informasi di internet sambil tertawa kecil. Namun, konsentrasi Lev terganggu oleh tawa Jessica.
"Jess, bisa lebih pelan sedikit? Ini perpustakaan," bisik Lev.
"Maaf," jawab Jessica, berusaha menahan tawanya. "Aku melihat video lucu."
Lev menghela napas, lalu kembali fokus pada tugasnya. Tapi tak lama kemudian, tawa Jessica kembali pecah. Kali ini lebih keras, membuat beberapa mahasiswa di sekitar mereka melirik.
"Jess!" bisik Lev dengan nada kesal. "Bisakah kamu berhenti sebentar? Aku tidak bisa konsentrasi."
Jessica, yang merasa ditegur, wajahnya berubah cemberut. "Kenapa kamu harus marah-marah begitu? Aku kan hanya tertawa."
"Ini perpustakaan, Jess. Ada etika di sini," kata Lev. "Aku harus menyelesaikan tugas ini. Kalau kamu mau tertawa, keluar sana."
"Kau ini kenapa, sih? Tadi pagi masih baik-baik saja," balas Jessica, suaranya sedikit meninggi. "Kau sensitif sekali hari ini."
Lev terkejut dengan nada bicara Jessica yang ketus. "Aku tidak sensitif. Aku hanya ingin fokus. Apa salahnya?"
"Salahnya itu, kau tidak perlu membentakku di depan umum begini, Lev!" Jessica berdiri, matanya berkaca-kaca. Ia tidak tahan dengan nada bicara Lev yang seperti memarahi anak kecil. Ia merasa Lev telah mempermalukannya.
Jessica kemudian berlari keluar dari perpustakaan, meninggalkan Lev yang masih duduk terdiam. Lev merasa bersalah. Ia tidak bermaksud membentak Jessica, tapi ia memang sedang stres dengan tugasnya. Ia mengejar Jessica, tapi Jessica sudah menghilang.
Lev mencari Jessica di sekitar kampus, tapi tidak menemukannya. Ia mencoba menelepon, tapi tidak diangkat. Ia merasa cemas. Ia tahu ia telah menyakiti hati Jessica, dan ia merasa menyesal.
Setelah shalat asar, Lev kembali ke apartemen dengan perasaan kacau. Saat ia membuka pintu, ia melihat Jessica sedang duduk di sofa, dengan mata sembab.
"Jess," panggil Lev pelan.
Jessica menoleh, tapi tidak bicara.
"Aku minta maaf," kata Lev. "Aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya sedang stres dengan tugas ini. Aku seharusnya tidak marah padamu."
Jessica terdiam sejenak, lalu ia menghampiri Lev dan memeluknya. "Aku juga minta maaf, Lev. Aku terlalu berisik. Aku tidak seharusnya membuatmu marah."
Mereka berdua berpelukan, melepaskan semua emosi yang terpendam. Lev merasa lega. Persahabatan mereka lebih penting dari tugas atau ego.
"Jadi, kita kembali ke perpustakaan?" tanya Jessica, suaranya kembali ceria.
"Tentu saja," jawab Lev. "Tapi kali ini, kamu bawa bantal dan selimut. Kalau kamu mau tidur di sana, kamu tidak akan mengganggu orang lain," canda Lev.
Jessica tertawa lepas. "Ide bagus! Aku akan bawa bantal dan selimut, dan kamu akan jadi pengawalku."
Lev dan Jessica kembali ke perpustakaan, kali ini dengan perasaan yang lebih baik. Mereka belajar bahwa dalam sebuah persahabatan, pertengkaran kecil adalah hal yang wajar. Yang terpenting, mereka bisa saling memaafkan dan belajar dari kesalahan. Pertengkaran di perpustakaan itu menjadi pelajaran berharga tentang komunikasi, empati, dan saling menghargai. Dan di Sydney, mereka menemukan bahwa di balik kesibukan dan keramaian, ada tempat untuk perbaikan diri dan persahabatan yang tulus.
