Bab 6: Kemegahan Pantai Turki (Tanjung Dewa): Keagungan Ciptaan Allah

Bab 6: Kemegahan Pantai Turki (Tanjung Dewa): Keagungan Ciptaan Allah

Lev
0
Semangat untuk melanjutkan petualangan tetap membara. Setelah beristirahat semalam di penginapan sederhana dekat area Batakan, pagi harinya mereka melanjutkan perjalanan menuju destinasi keempat: Pantai Tanjung Dewa, yang lebih populer dengan julukan unik, "Pantai Turki".

"Kenapa namanya Turki, Ris?" tanya Lev penasaran saat Faris menyetir.

Faris, yang selalu punya stok informasi, tersenyum. "Katanya sih, dulu ada proyek dari Turki di sekitar sini. Warga lokal jadi nyebutnya Pantai Turki. Tapi nama aslinya Tanjung Dewa. Tempatnya unik banget, fokusnya bukan pasir pantai biasa, tapi formasi batuan karang raksasa yang eksotis."

Mereka tiba di lokasi menjelang siang. Cuaca cerah menambah semarak pemandangan. Begitu melangkahkan kaki di area pantai, mereka langsung disuguhi pemandangan yang berbeda drastis dari pantai-pantai sebelumnya. Bukan hamparan pasir landai, melainkan tumpukan batuan karang berwarna keabuan dan cokelat, menjulang gagah di tepi laut.

"MasyaAllah, keren banget! Kayak bukan di Kalsel, kayak di luar negeri beneran!" seru Zahra, matanya berbinar melihat background foto yang luar biasa indah.

Faris segera mengeluarkan lensa wide-nya. "Ini bukti nyata keagungan penciptaan Allah, Lev. Formasi geologis begini terbentuk selama ribuan bahkan jutaan tahun. Batuan beku yang muncul ke permukaan, terkikis ombak dan cuaca, jadilah pemandangan seunik ini."

Lev mengamati batuan karang itu dengan takjub. Beberapa batu terlihat runcing, sementara yang lain membulat. Air laut yang menerjang karang menciptakan buih putih kontras dengan warna batu yang gelap. "Subhanallah. Setiap detail alam ini benar-benar terencana dengan sempurna oleh-Nya."

Aisyah, dengan hati-hati, berjalan di antara batuan karang yang licin. Dia mengingatkan teman-temannya untuk selalu berhati-hati dan tidak sombong di hadapan alam yang maha dahsyat ini. "Kita harus jaga langkah, guys. Alam ini indah, tapi juga bisa berbahaya kalau kita lengah dan sombong."

Peringatan Aisyah terbukti benar. Zahra, yang sedang asyik merekam vlog sambil mencoba memanjat salah satu batu karang yang paling tinggi demi mendapatkan "konten viral", kehilangan pijakan.

"Aduh! Tolong! Zahra mau jatuh!" teriaknya panik saat tubuhnya mulai miring.

Untung Faris yang santai tapi sigap, sudah berada di dekatnya. Dengan cepat, ia menahan tubuh Zahra agar tidak terpeleset ke air. Momen kocak itu kembali terjadi. Zahra yang panik dan Faris yang menahannya dengan ekspresi datar.

"Makanya, Zah, dengerin Aisyah. Jangan petakilan. Nanti yang ada bukan konten viral, tapi konten masuk UGD," tegur Faris sambil membantu Zahra berdiri tegak.

Wajah Zahra memerah, malu sekaligus lega. Tawa Lev dan Aisyah pecah melihat kejadian itu. Momen kocak itu mencairkan suasana serius tentang geologi dan keagungan alam. Mereka diingatkan kembali tentang pentingnya menjaga keselamatan dan tidak berlebihan dalam mencari perhatian.

Mereka menghabiskan waktu hingga Ashar di sana. Faris mendapatkan ratusan foto menakjubkan, Aisyah mencatat keunikan ekosistemnya, Lev merenungkan kekuasaan Allah yang mampu menciptakan bentuk bumi seberagam ini, dan Zahra... akhirnya mendapatkan konten yang bagus, tapi dengan sedikit insiden yang akan jadi bahan candaan mereka selanjutnya.

Sebelum meninggalkan Pantai Turki, mereka menyempatkan diri salat Ashar di area parkir yang sepi. Di atas sajadah, mereka kembali bersyukur atas keselamatan mereka dan keindahan yang mereka saksikan. Pantai Tanjung Dewa mengajarkan mereka tentang keagungan penciptaan dan pentingnya berhati-hati, serta selalu ingat akan Yang Maha Kuasa di tengah euforia petualangan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default